
"Annisa, kami akan pergi umroh dalam waktu dekat," ucap Pak Hanafi pada putrinya.
Annisa terkejut. "Kapan, Pak?" tanya Annisa.
"Kurang dari seminggu lagi," jawab Bu Fatimah.
"Kalau begitu aku akan ambil cuti sementara untuk mengurus Dennis, Bu," usul Annisa.
"Apa kamu tidak mau minta tolong pada mertuamu? Bu Safa dan Pak Zidan pasti ingin bertemu dengan cucunya. Bawalah mereka ke sana sesekali," ucap Bu Fatimah.
"MasyaAllah. Aku hampir saja melupakan mereka. Kalau aku libur nanti aku akan ajak Dennis ke sana," jawab Annisa.
Keesokan harinya Annisa pergi kuliah seperti biasa. "Bu, nanti sore aku cuti mengajar. Aku ingin datang ke rumah orang tua Mas Abi," ucap Annisa memberi tahu. Bu Fatimah mengangguk.
"Kalau begitu ibu mau buatkan makanan untuk mereka," timpal Bu Fatimah. Annisa mengangguk.
"Aku kuliah dulu, Bu." Annisa mencium tangan ibu kandungnya. Setelah itu dia mencium pipi Dennis. Anak itu bekum mengerti jadi dia hanya diam ketika ibunya pergi.
Annisa naik taksi online seperti biasa. Sejak Annisa menolak Raka, laki-laki itu tidak terlihat lagi batang hidungnya. Di kampus pun mereka jarang bertemu. Annisa jadi merasa bersalah. "Mungkin nanti aku akan minta maaf padanya karena sikapku terlalu kasar," gumam Annisa di dalam mobil.
Setibanya di kampus, Annisa terkejut ketika dia melihat Tiara turun dari mobil Raka. Annisa tidak mengerti apa maksudnya ini. "Tiara," panggil Annisa dengan pelan. Namun, Tiara masih bisa mendengarkan.
Tiara menoleh. Begitupun Raka. "Tiara, aku duluan," pamit Raka menghindari Annisa.
"Baik, Pak."
"Kenapa kamu bisa naik mobil dosen killer itu?" tanya Annisa.
"Dia itu nggak killer lagi. Pak Raka itu so sweet. Kamu tahu nggak tadi tuh lagi nyari taksi, tapi nggak nemu-nemu. Terus Pak Raka lewat depan aku dan nawarin tumpangan. Kaya kejadian waktu itu sama kamu." Tiara bercerita dengan antusias.
"Owh, aku kira kamu pacaran sama dia," sahut Annisa.
"Mungkin. Aku juga berharap seperti itu. Kamu tahu kan, Pak Raka itu udah ganteng, pinter tajir lagi. Asal kamu tahu aja dia itu anak pemilik Wijaya Mall."
"Biasa aja."
'Asal kamu tahu jaga almarhum suami aku juga anak pemilik hotel terkenal,' gumam Annisa. Dia tersenyum menanggapi ucapan Tiara yang terkesan berlebihan itu.
"Jadi kemaren kamu belanja apa sama Pak Raka?" tanya Annisa penasaran.
__ADS_1
"Apaan. Pak Raka tiba-tiba mules katanya," jawab Tiara dengan mengerucutkan bibirnya.
Annisa menghentikan langkahnya. "Kamu nggak jadi kencan sama Pak Raka?" tanya Annisa. Tiara menggeleng. Entah kenapa Annisa merasa bersyukur.
"Eh, kelasnya Pak Bondan sebentar lagi. Kita masuk aja yuk!" ajak Tiara. Annisa mengangguk setuju.
Usai mengikuti kuliah, Annisa sengaja mendatangi ruangan Raka. "Pak Rakanya ada?" tanya Annisa pada asisten dosennya yang sedang menata file-file di atas meja Raka.
"Ada apa mencari saya?" Suara bariton itu membuat Annisa terkejut.
"Pak, boleh minta waktunya sebentar?" tanya Annisa dengan sopan. Raka memberikan kode pada asistennya agar keluar.
"Katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Raka dengan nada dingin.
"Aku minta maaf karena aku telah berbicara kasar padamu," ucap Annisa.
"Tidak perlu seharusnya aku yang meminta maaf karena aku telah memaksamu menerima cintaku. Seharusnya aku tahu diri," ucap Raka sambil tersenyum kecut. Annisa menangkap kekecewaan pada setiap kata yang keluar dari mulut Raka.
"Kalau begitu saya permisi, Pak." Annisa mendadak bersikap formal. Dia keluar dari ruangan Raka. Namun, dia berharap Raka menahannya.
"Annisa, untuk apa mengharapkan Raka. Dia sudah banyak menyiksa kamu seharusnya kamu bersyukur kalau dia tidak mengejarmu lagi." Annisa bergumam seorang diri.
Setelah itu Annisa pulang ke rumah. Dia sudah janji pada dirinya sendiri akan menemui orang tua Abizar. "Assalamualaikum, Bu."
Annisa segera mengunjungi rumah sakit tempat ibunya dirawat. Di sana dia bertemu dengan kakak sulungnya. "Kak Fahri bagaimana keadaan ibu?" tanya Annisa ketika sampai di sana.
"Ibu terpeleset dia kena darah tinggi. Kemungkinan gejala stroke," jawab Fahri. Annisa menutup mulutnya.
"Lantas, di mana bapak dan juga Dennis?" tanya Annisa yang tidak melihat keduanya.
"Dennis di rumahku. Aisyah menjaganya. Sedangkan bapak menemui dokter di ruangannya. Kamu baru pulang kuliah?" tanya Fahri. Annisa mengangguk.
"Aku terkejut ketika tetangga kita mengabari ibu masuk rumah sakit. Kenapa kakak tidak meneleponku?" tanya Annisa.
"Aku dalam keadaan panik jadi aku tidak ingat," jawab Fahri.
Annisa menghela nafas. "Padahal rencananya mereka akan umroh."
"Kemungkinan hanya bapak yang berangkat. Ibu tidak mungkin berangkat dalam keadaan seperti ini," sahut Fahri.
__ADS_1
"Semoga tidak ada komplikasi dari penyakitnya."
Sesaat kemudian Pak Hanafi menemui anak-anaknya. "Annisa, kamu baru sampai?" tanya Pak Hanafi.
"Sudah dari tadi, Pak," jawab Annisa.
"Kalian pulanglah, biar bapak yang menunggui ibu. Annisa Dennis ada di rumah kakakmu. Jemputlah dia!"
"Bapak istirahat saja!"
Pak Hanafi menggeleng. "Dennis membutuhkan kamu. Dia masih bayi, kasian kakak iparmu dia sedang hamil."
"Hah? Kak Aisyah hamil anak kedua?" tanya Annisa antusias. Fahri mengangguk.
"Selamat ya, Kak."
"Terima kasih. Pulanglah bersamaku. Atau kalau kamu mau kamu bisa tinggal bersamaku sementara waktu." Annisa mengangguk. Setelah itu Fahri mengajak Annisa pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah Fahri, mereka disambut oleh Aisyah yang sedang menggendong Dennis. "Ya ampun Kak Aisyah jangan angkat yang berat-berat." Annisa mengambil alih gendongan anaknya.
"Dennis nggak berat kok. Apa kamu tahu kalau aku hamil lagi?" tanya Aisyah. Annisa mengangguk.
"Selamat ya, Kak," ucap Annisa sambil memeluk kakak iparnya.
"Farhan mana?" tanya Annisa.
"Dia sudah tidur. Katanya kecapekan karena banyak kegiatan di sekolahnya," jawab Aisyah.
"Annisa apa kamu mau tinggal di sini sementara waktu?" tanya Fahri.
"Tidak, Kak. Aku di rumah saja. Oh iya, bisa antarkan aku ke rumah orang tua Mas Abi?" tanya Annisa.
"Mau ngapain?" tanya Fahri balik.
"Aku ingin silaturahim saja, Kak. Lagi pula mereka pasti kangen sama Dennis. Sudah lama aku tidak main ke rumah mereka."
"Sebaiknya besok pagi saja," usul Fahri. Annisa berpikir sejenak.
"Baik, Kak. Aku menginap malam ini. Besok pagi antarkan aku ke rumah orang tua Mas Abi." Fahri mengangguk setuju.
__ADS_1
***
Wah udah senin nih jangan lupa kasih votenya ya 🙏