
Annisa merasa rindu dengan suaminya. Di saat dia ingin memberi tahu kabar gembira, Abizar seolah menghindar. Mama Safa dan suaminya mengira Annisa telah menyampaikan kabar baik itu pada sang putra sehingga dia tidak lagi memberi tahu Abizar.
"Annisa hari ini apa mual muntah lagi?" tanya Mama Safa. Annisa mengangguk.
"Kamu ingin makan apa? Biar mama masakan untukmu."
"Aku kangen Mas Abi, Ma," ungkap Annisa.
"Iya, kenapa Abi tidak pulang ya ini sudah lebih dari sebulan. Bukankah kalian masih sering teleponan?" tebak Mama Safa.
Annisa menggeleng. "Mas Abi tidak pernah membalas teleponku, Ma," ungkap Annisa.
Mama Safa terkejut. "Keterlaluan sekali anak itu. Apa dia sesibuk itu di sana? Nanti mama tanyakan ke papamu. Sekarang kamu makan dulu? Mau makan apa? Roti campur selai atau sarapan sereal?" tanya Mama Safa. Dia merasa kasian pada menantunya itu.
"Aku minum susu saja, Ma," jawab Annisa dengan lesu.
Setelah sarapan Annisa diantar sopir menuju ke kafenya. "Lho Bu katanya sakit?" tanya Rosmala, salah satu pegawainya di kafe.
"Iya, Mbak. Tapi kalau pagi aja, kalau siang udah seger lagi," jawab Annisa.
"Ibu lagi hamil ya?" tebak Rosmala. Annisa mengangguk.
"Alhamdulillah, selamat ya Bu." Annisa tersenyum.
"Annisa," panggil Raihan. Annisa menoleh.
"Kemaren aku nyari kamu."
"Oh, soal pembayaran ya?" tanya Annisa.
__ADS_1
"Ah, nggak. Aku hanya ingin mampir saja," jawab Raihan. Dia duduk di samping Annisa.
"Kalau kamu nggak ada urusan lagi sebaiknya kamu pulang. Maaf bukan maksud aku mengusir tapi aku benar-benar kurang enak badan," kata Annisa.
"Bagaimana kalau aku antar kamu ke dokter?" Raihan menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, aku hanya kecapekan. Soal pembayaran nanti akan aku proses. Kirim saja nomor rekeningmu." Annisa meninggalkan Raihan setelah dia berkata demikian.
Raihan mengepalkan tangan. "Sulit sekali mendekati dia," gerutu laki-laki berusia tiga puluh tahunan itu.
"Tidak bisa begini, aku belum cukup dekat dengan Annisa. Aku tidak bisa membuat Abizar cemburu pada istrinya. Jadi aku harus tetap mendekati Annisa sampai suaminya itu salah paham dengan hubungan kami."
Raihan sungguh tidak berpikir rasional. Hanya karena ambisinya untuk membalas dendam pada Abizar Raihan menghalalkan segala cara untuk membuat hubungan Abi dan istrinya hancur. Namun, sayangnya rencananya tak berjalan mulus, Annisa merupakan wanita yang susah untuk didekati. Mungkin karena saat itu Abi telah menceritakan pada Annisa tentang latar belakang Raihan dan kenapa dia bisa menjadi musuh Abizar.
Sementara itu Mama Safa mencoba menghubungi Abizar. Ketika dia mendengar dari menantunya bahwa Abi tidak membalas pesan dan mengabaikan telepon dari Annisa, Mama Safa jadi curiga pada putranya.
"Hallo, Ma," jawab Abi ketika mengangkat telepon dari orang tuanya di sela-sela kesibukan kerjanya itu.
"Ck, dasar tukang ngadu!"
"Apa kamu bilang? Mama nggak salah dengar? Kamu mengatai istrimu? Sebenarnya kamu punya masalah apa dengan Annisa? Kalau ada sesuatu yang perlu kalian bicarakan pulang! Mama akan minta izin sama papa untuk memperbolehkan kamu pulang."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Ma. Kalau mama hanya ingin marah-marah sebaiknya lain kali saja. Aku masih sibuk," ucap Abi dengan ketus.
"Apa kamu tahu Annisa sedang hamil?" Ucapan Mama Safa membuat Abizar tertegun. Kemudian bayangan ketika Annisa berpelukan dengan Raihan tak sengaja melintas di dalam pikirannya.
"Lantas?"
"Lantas? Kamu tidak suka mendengar istrimu hamil?" tanya Mama Safa pada putranya itu.
__ADS_1
"Mungkin dia bukan anakku," sangkal Abizar.
"Abi, kamu benar-benar keterlaluan. Mama kecewa padamu." Mama Safa menutup teleponnya dengan kasar. Abizar pun menjauhkan telinganya dari handphone yang sedang dia pegang.
Abizar terduduk ketika menyadari istrinya hamil. "Apa benar dia anakku?" Abizar mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya.
"Do kamu bisa ke ruanganku sekarang?" Abizar menghubungi Edo lewat telepon antar ruangan.
"Baik, Bos."
Tak lama kemudian Edo masuk. "Ada apa mencari saya?" tanya Edo.
"Periksa jadwal! Apa aku bisa pulang dalam waktu dekat?" tanya Abizar. Edo pun melakukan perintah.
"Sepertinya belum bisa. Masih banyak jadwal temu klien dan investor yang harus kita hadiri, Bos," jawab Edo.
Ya, sesuai janji Abi pada ayahnya, dia ingin mengembangkan perusahaan yang hampir bangkrut itu barulah dia bisa menyelesaikan tantangan yang diberikan orang tuanya.
"Baiklah, gerak cepat. Aku mau dalam waktu dekat kita bisa kembali. Aku ada urusan yang perlu diselesaikan di sana." Edo mengangguk paham.
Sebagai bawahan yang baik dia bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Abizar. Dia selalu berinisiatif melakukan pekerjaan lebih keras agar target terpenuhi. Sejujurnya Edo juga tidak betah berlama-lama tinggal di perantauan. Meskipun sehari-hari dia mengontrak rumah di sana tapi setidaknya masih satu kota dengan orang tuanya yang masih hidup. Sehingga Edo pun sama dengan Abi ingin segera menyelesaikan misi yang diberikan atasannya.
Di tempat lain Mama Safa mengadu pada suaminya. Dia sengaja menyempatkan diri setelah pulang kerja menyusul suaminya ke kantor. "Pa, kamu bisa nggak minta Abizar pulang sekarang? Kasian Annisa menunggu kepulangan suaminya," rengek Mama Safa.
"Ck, mama lan tahu papa sengaja mengirim anak itu keluar kota supaya dia bisa belajar menangani situasi yang sulit. Kelak dia yang akan mewarisi seluruh harta papa. Jadi mulai sekarang papa didik dia menjadi seorang pebisnis sejati seperti papa," jawab Zidan panjang lebar.
"Hish, papa ini orang tua yang tidak pengertian. Asal papa tahu selama ini Abi tidak pernah menjawab telepon Annisa." Mama Safa berharap dengan mengatakan hal itu suaminya akan luluh.
"Mungkin dia memang sedang sibuk sehingga dia tidak sempat mengangkat telepon dari istrinya. Bersabarlah sedikit!" jawab Zidan dengan perasaan tenang tidak terburu-buru.
__ADS_1
Mama Safa yang tidak puas dengan jawaban sang suami akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan suaminya. "Dasar laki-laki! Kalian tuh nggak bisa nggak sih mengerti perasaan cewek?" keluh Mama Safa seorang diri.
Kemudian sebuah ide terlintas di benak Mama Safa. Apa ya kira-kira idenya?