
Abi menawarkan diri membuatkan minuman untuk sang istri. Tapi ketika Annisa mencicipi teh buatan Abi dia menyemburkan teh dari mulutnya.
"Kenapa? Panas ya?" tanya Abi. Annisa menggeleng.
"Asin," jawab Annisa dengan ekspresi wajah orang keasinan. Abizar jadi terkekeh.
"Maaf, maaf."
Annisa ke dapur untuk mengambil air putih. "Mas, aku siapkan air hangat ya sekalian untuk kamu mandi," kata Annisa melayani suaminya. Abizar mengangguk.
Annisa memasak air di dapur sementara Abi membuka handphonenya. Lagi-lagi dia mendapatkan chat dari teman sepergaulannya dulu. Abi tak menanggapi. Dia sudah berubah jadi dia tidak akan lagi main ke klub malam.
"Aku udah tobat. Yang halal aja ada kenapa main sama yang lain," gumam Abi sambil membuang handphonenya.
"Mas air buat mandinya sudah siap." Annisa menggerai rambutnya yang basah seusai mandi. Anizar terpesona karena sehari-hari Annisa selalu berhijab.
"Cantik," gumam Abizar.
"Apa Mas?" tanya Annisa yang tak mendengar ucapan suaminya karena dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Nggak apa-apa," elak Abizar. Dia berjalan ke kamar mandi. Saat melewati Annisa dia mencium harum sabun dan sampo yang begitu wangi dari tubuh Annisa sehingga membuat darahnya berdesir.
'Sial, kenapa denganku?' batin Abizar yang merasa kegerahan. Apalagi ketika melihat leher Annisa yang terekspos sempurna. Rasanya dia ingin sekali menggigitnya.
Abizar pun segera masuk ke kamar mandi. Dia mengguyur badannya yang panas. Sudah lebih dari tiga puluh menit Abizar berada di kamar mandi. Annisa memanggil suaminya.
"Mas, Mas Abi tidur ya? Kok mandinya lama sekali?" tanya Annisa dari luar.
Sesaat kemudian Abizar keluar dengan memakai handuk yang hanya dililitkan di bagian pinggangnya. Annisa menutup mata tapi dia mengintip dari sela-sela jarinya. "Mas Abi parno deh," protes Annisa.
"Parno, por*no." Abi membetulkan kata-kata Annisa. "Kamu tidak suka melihat bentuk tubuhku?" goda Abizar. Dia sengaja mengerjai istrinya.
__ADS_1
"Sana ganti baju!" perintah Annisa sambil mendorong suaminya. Abizar terkekeh. Dia gemas sekali melihat sikap Annisa.
"Yang, ambilin baju dong!" teriak Abizar. Annisa pun datang ke kamar Abi.
"Biasanya juga ambil sendiri," cibir Annisa.
"Tangan aku kan sakit," kata Abizar beralasan. Annisa memberikan baju pada suaminya.
"Pakaikan!" perintah Abi. Annisa pun menuruti kemauan suaminya. Abizar menatap wajah Annisa lumayan lama. Dia mengamati dari mata hingga bibir. Kemudian Abizar menempelkan bibirnya ke bibir Annisa.
Annisa terkejut. Wajahnya memerah karena malu. Dia menunduk kemudian berbalik badan setelah Abizar melepas bibirnya. Setelah itu Abi memeluk tubuh Annisa dari belakang. "Bolehkah aku meminta hakku malam ini?" tanya Abizar dengan berbisik di telinga Annisa.
Annisa mengangguk malu-malu. Kemudian Abi membalik badan Annisa. Dia mengikis jarak di antara mereka. Annisa hanya bisa pasrah menerima perlakuan dari suaminya. Abi mendorong Annisa kemudian dia mengarahkan Annisa agar berbaring.
"Jangan takut aku akan melakukannya dengan lembut," ucap Abizar dengan halus. Ini pertama kalinya untuk Annisa maka Abi tidak membuat kesan pertama yang menyakitkan. Annisa hanya bisa mengangguk. Dia belum berpengalaman sama sekali dalam hal ini.
Abizar tidak melewatkan setiap inchi bagian tubuh Annisa. Annisa yang baru pertama kali merasakan nikmatnya bercinta hanya mengikuti nalurinya. Abizar terlihat senang ketika dia bisa membawa Annisa melayang.
Keduanya mencapai kenikmatan bersama setelah proses percintaannya malam ini. "Terima kasih Annisa. Aku mencintai kamu." Abizar memberikan kecupan singkat di kening sang istri yang terkapar karena kelelahan.
Abizar menyelimuti tubuh Annisa agar tidak kedinginan. Setelah itu dia memejamkan mata.
Keesokan harinya, Annisa bangun kesiangan. "MasyaAllah aku melewatkan sholat subuh," ucap Annisa dengan penuh penyesalan.
"Pagi," sapa Abizar. Dia terlihat segar usai mandi. Abi bangun lebih dulu kemudian membersihkan diri. Dia duduk di tepi ranjang.
"Aku sudah siapkan air hangat untuk kamu," ucap Abi dengan penuh perhatian. Wajah Annisa memerah ketika mengingat percintaannya semalam.
"Nggak usah malu. Nanti kamu juga akan terbiasa," ucap Abi dengan santainya.
Annisa pun bangun dengan membalut selimut ke tubuhnya. Ketika dia ingin berjalan, Annisa merasakan sakit di bagian pangkal pahanya. "Kenapa? Sakit ya?" tanya Abi. Annisa mengangguk.
__ADS_1
"Aku bantu ya." Abi mengalungkan tangan Annisa ke lehernya. Dia tidak bisa menggendong Annisa karena tangannya masih belum pulih.
Setelah sampai di kamar mandi, Abi membiarkan istrinya mandi seorang diri. Saat Annisa melihat ke cermin yang ada di kamar mandi, dia terkejut bukan main karena banyak sekali bekas gigitan di anggota badannya. "Kenapa aku baru tahu kalau bekasnya sebanyak ini," gerutu Annisa.
Seusai menyelesaikan ritual mandinya. Annisa lupa membawa handuk. Dia pun berteriak agar Abi memberikan handuk padanya. "Mas, tolong ambilkan handuk. Aku lupa bawa."
Abi pun segera datang. Dia menyodorkan handuk pada sang istri. Tapi Abi menggoda Annisa dengan berpura-pura ingin masuk ke dalam kamar mandi. Annisa pun berteriak. "Mas Abi jangan macam-macam. Aku sudah capek." Annisa segera menutup pintu kamar mandinya kemudian dia memakai handuk. Abizar terkekeh melihat tingkah Annisa.
"Mas Abi lain kali jangan bikin ukiran. Badanku jadi belang-belang begini," protes Annisa.
"Itu tanda cinta." Abi memeluk istrinya. Annisa menjauh dari jangkauan Abi.
"Aku mau ganti baju dulu." Jantungnya berdebar kencang saat Abi memeluknya. Annisa berlalu ke kamarnya. Dia dan Abi memang baru semalam tidur di ranjang yang sama. Barang-barang Annisa pun masih terpisah di kamar lain.
"Annisa," panggil Abi. Saat itu Annisa baru mengenakan baju.
"Mas Abi ketuk pintu dulu," protes Annisa.
"Maaf, aku hanya mengingatkan waktunya kita buka kafe," kata Abizar.
"Iya, Mas. Aku pakai hijab dulu," jawab Annisa yang sedang bersiap-siap.
"Aku tunggu di luar ya." Annisa mengangguk. Sambil menunggu Annisa, Abizar memesan taksi online. Tepat ketika Annisa selesai berdandan, taksi online pesanannya tiba di depan rumah kontrakan.
"Wah Mbak Annisa, Mas Abi sekarang kalau ke mana-mana naik taksi ya," tegur Bu Rohmah.
"Iya, Bu. Alhamdulillah," jawab Annisa. Abizar memberikan kode pada Annisa agar segera masuk.
"Kami berangkat dulu, Bu," pamit Abizar pada Bu Rohmah.
"Nggak nyangka kalau Mas Abi udah sukses padahal dulu dia hanya kuli panggul," gumam Bu Rohmah. Tanpa dia sadari seseorang mendengar ucapan Bu Rohmah.
__ADS_1
Siapakah orang itu?