Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Rencana bersama


__ADS_3

Hari ini Annisa berjualan dibantu oleh Rosmala. Abi sudah berangkat kerja dari tari pagi-pagi sekali. Rosmala datang ke rumah Annisa selesai Annisa berbelanja sekitar pukul delapan pagi.


"Mbak, saya sudah siapkan tempat tidur buat anaknya. Ada di dalam. Maaf kalau cuma beralaskan tikar," kata Annisa.


"Makasih banyak, Mbak," kata Rosmala.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Annisa. Annisa melihat ke depan. "Mama." Annisa terlihat senang ketika Safa datang berkunjung.


"Annisa kamu jualan ya sekarang?" tanya Safa pada menantunya.


"Iya, Ma. Habis aku nggak ada kerjaan di rumah sendirian jadi aku cari kesibukan," jawab Annisa.


"Dia siapa?" tanya Safa pada wanita yang sedang menggendong bayinya.


"Itu Mbak Mala yang akan bantuin jualan Annisa, Ma. Mama silakan duduk!"


Safa pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu. "Kamu hebat ya sampai rekrut karyawan segala," puji Mama Safa.


"Makasih banyak, Ma. Aku ambil modal dari uang yang mama kasih ke aku," ungkap Annisa.


"Nggak apa-apa. Terserah kamu mau kamu gunakan untuk apapun. Mama senang kamu kreatif punya ide jualan kecil-kecilan di depan rumah. Bagaimana kalau mama belikan ruko buat kamu mulai usaha?"


Annisa merasa senang. "Nanti aku izin sama Mas Abi dulu ya, Ma?" Mama Safa mengangguk.


"Ya sudah mama pamit, maaf mama nggak bawa apa-apa ke sini."


"Ya ampun, Ma. Mama datang berkunjung saja aku sangat senang. Lain kali aku yang datang ke rumah mama kalau Mas Abi mengizinkan."


"Mama pergi ya," pamit Safa.


"Hati-hati di jalan, Ma."


"Mbak, itu ibunya ya?" tanya Rosmala.


"Itu ibunya Mas Abi, Mbak," jawab Annisa. Rosmala terkejut karena sudah terlihat kalau wanita tadi sangat kaya karena membawa mobil mewah sebagai tumpangannya. Tapi melihat kondisi Annisa dan Abi, Rosmala malah bingung.


"Mbak Mala jangan melamun. Ayo bantu cuci buahnya. Nanti kita jualan rujak juga ya?" Rosmala merasa senang bekerja sama dengan Annisa. Annisa sangat ramah dan periang. Dia juga baik telah menyediakan tempat khusus untuk anaknya.


Rosmala merasa beruntung kini tak perlu lagi panas-panasan di jalan.


Annisa berhenti berjualan sekitar pukul tiga sore. "Ini uang untuk Mbak Mala. Semoga cukup untuk hari ini," kata Annisa memberikan uang sebanyak lima puluh ribu untuk hari pertama bekerja bersamanya.


"Terima kasih banyak, Mbak."


"Besok kalau jualan kita tambah ramai, saya akan tambah gaji Mbak Mala," kata Annisa memberi tahu.

__ADS_1


"Semoga rejeki Mbak Annisa selalu lancar, Mbak." Annisa tersenyum menanggapi ucapan Rosmala.


"Pulangnya hati-hati ya, Mbak," pesan Annisa pada wanita itu.


Di saat yang bersamaan, Abi pulang. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mas." Annisa meraih tangan suaminya untuk dicium.


"Dia siapa, Nisa?" tanya Abizar.


"Itu Mbak Mala yang batu aku jualan di sini," jawab Annisa.


"Wah, kamu baru jualan beberapa hari saja sudah merekrut karyawan. Istriku memang hebat!" Abi memberikan dua jempol pada Annisa.


"Alhamdulillah," jawab Annisa.


"Mas, ayo kita masuk. Akan aku buatkan teh hangat untukmu," kata Annisa.


"Kopi cappucino saja," pinta Abi. Yang dimaksud Abi adalah cappucino sachet yang dijual di warung.


"Baik, Pak Bos," goda Annisa.


Abizar terkekeh. "Apaan sih?"


"Mas tadi mama ke sini," ucap Annisa seraya meletakkan kopi buatannya di atas meja.


"Mau nawarin aku ruko buat jualan. Apa boleh?" tanya Annisa meminta izin suaminya.


Abizar merasa senang. "Apa betul ucapan kamu?" tanyanya memastikan. Annisa mengangguk.


"Tentu saja boleh. Annisa apa kamu perlu pegawai satu lagi?" tanya Abi.


"Memangnya kenapa Mas?"


"Aku ingin melamar sebagai pegawaimu," jawab Abi. Annisa tersenyum. Kemudian dia berpikir inilah saatnya membebaskan Abi dari pekerjaan berat itu.


"Mas, bagaimana kalau kita kelola kafe gitu, selain minuman kita juga bisa sediakan makanan. Nanti kan ada Mbak Rosmala yang bantu jadi kita tidak akan kerepotan," usul Annisa.


"Boleh sayang. Jadi aku diterima nih jari karyawan kamu?" goda Abi lagi.


"Bukan karyawan Mas. Tapi owner." Abi mengangguk setuju.


Keesokan harinya Annisa menghubungi Safa. "Assalamualaikum, Ma. Mas Abi sudah setuju Ma dengan usulanku. Rencananya nanti kita akan buat kafe kecil-kecilan gitu, Ma. Aku dan Mas Abi yang akan mengelola."


"Waalaikumsalam. Baguslah mama senang mendengarnya. Mama akan perintahkan orang untuk mengurus pembelian ruko yang akan kamu gunakan untuk tempat usaha."

__ADS_1


"Baik, Ma. Akan aku tunggu kabar dari mama secepatnya." Setelah selesai menghubungi ibu mertuanya Annisa melapor pada Abi.


"Sudah, Mas. Untung ada mama yang bantu," kata Annisa.


"Semua ini karena doa kamu juga Annisa. Doa kamu dikabulkan sama Allah," tutur Abi.


"Mas berhenti kan dari pekerjaan Mas Abi. Bagaimana kalau besok kita lihat rukonya?" usul Annisa.


Abi merasa curiga pada Annisa. "Mas, Mas Abi," panggil Annisa. "Kenapa melamun?"


"Maaf." Tiba-tiba Abi menatap sendu pada Annisa.


"Maaf, untuk apa Mas?" tanya Annisa.


"Selama ini aku tidak jujur sama kamu."


"Soal pekerjaan Mas Abi?" tebak Annisa. Abizar tentu terkejut. Rupanya Annisa mengetahui pekerjaannya.


"Aku tahu, Mas. Maaf kalau selama ini aku pura-pura tidak tahu. Mas Abi tidak usah bekerja lagi di pasar. Aku tidak ingin melihat Mas Abi melakukan pekerjaan berat setiap hari." Annisa menangis sesenggukan. Dia tidak tega membayangkan Abizar anak orang kaya tiba-tiba menjadi seorang kuli panggul.


Abizar memeluk istrinya. "Sssttt, jangan menangis lagi. Aku melakukan itu karena aku ingin memberi kamu nafkah. Sudah banyak tempat kerja yang aku lamar tapi tidak ada satupun yang menerimaku. Aku terpaksa melakukan pekerjaan itu."


Annisa mengurai pelukannya. "Pokoknya mulai besok jangan kembali ke sana. Aku tidak mau Mas Abi wajahnya lebam-lebam lagi. Kamu berantem ya sama preman pasar?" tuduh Annisa.


Abizar malah terkekeh. "Kamu jangan sok tahu." Abi mencubit hidung Annisa gemas.


"Lantas? Mana ada jatuh sampai mukanya merah-merah kaya kemaren itu."


"Ada seseorang yang menjadikan aku kambing hitam. Kamu ingat Bang Anton? Laki-laki yang ketemu saat kita makan bakso bareng. Dia menjadikan namaku sebagai jaminan untuk membayar hutangnya."


"Jahat sekali dia." Annisa merasa sedih akan apa yang dialami oleh suaminya.


"Tidak, dialah yang memberiku pekerjaan. Mungkin begitu caranya meminta balasan dariku." Abizar tersenyum getir. Seseorang yang dianggap baik malah diam-diam menusuk dia dari belakang.


"Yang sabar ya Mas Abi. Yang penting sekarang kita bangun usaha kita sama-sama. Mas Abi mau kan?" tanya Annisa.


"Mau, Mas mau mengerjakan apa saja yang kamu perintahkan."


"Termasuk melakukan itu?"


Itu, itu apa nih maksudnya Annisa?


...♥️♥️♥️...


Jangan lupa pencet 👇

__ADS_1



__ADS_2