Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Nafkah pertama


__ADS_3

'Apa ini tanda-tanda Mas Abi mulai mencintaiku?' batin Annisa dalam hati. Gadis itu mengulas senyum tipis.


"Buka mulut kamu!"perintah Abizar pada Annisa.


Annisa terkejut dan tidak siap sehingga dia malah menyenggol sendok itu hingga terjatuh ke lantai. "Maaf, Mas," ucap Annisa dengan gugup.


"Apa ada yang kamu pikirkan sehingga kamu melamun seperti itu?" tanya Abizar. Annisa menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba Abizar mengeluarkan uang hasil kerja kerasnya selama seharian ini dari dalam sakunya. "Annisa ini gaji pertama aku," ucap Abizar memberikan uang sebesar seratus dua puluh ribu rupiah itu.


"Mas, apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Annisa bingung. Abizar mengangguk. tapi tentu saja dia tidak akan bilang kalau dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.


"Alhamdulillah," ucap syukur Annisa. Dia tidak bertanya apa pekerjaan Abizar karena sudah bisa dipastikan dia tidak terikat perusahaan karena dibayar per hari. Annisa tidak mau menyinggung perasaan suaminya.


"Kamu tidak tanya aku bekerja sebagai apa?" tanya Abizar heran. Annisa menggelengkan kepala.


"Apapun pekerjaan Mas Abi asal masih dalam konteks yang halal dan diridhoi oleh Allah maka aku akan terima nafkah yang Mas Abi berikan," jawab Annisa.


Abi baru pertama kali menemui wanita sebaik Annisa. Dia bangga bisa menikah dan membangun rumah tangga bersama bidadari surga seperti istrinya itu.


"Hati kamu itu terbuat dari apa Annisa?" tanya Abi. Annisa hanya mengulas senyum.


"Mas jadi dilanjutkan nggak makannya? Kalau iya aku ambil sendok baru," kata Annisa.


"Iya, jadi. Tapi makan berdua ya. Aku tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini."


Annisa pun pergi ke dapur untuk mengambil sendok yang bersih. Dia mengambil dua sendok agar bisa makan sendiri-sendiri. "Lho, nggak mau aku suapi aja?" goda Abizar.


Annisa terkekeh malu. "Aku belum terbiasa, Mas," jawab Annisa.


Usai makan malam, Annisa mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya'. "Mas, ko malah main handphone sih?" tegur Annisa pada suaminya.

__ADS_1


"Kamu duluan aja!" seru Abi. Annisa hanya menggelengkan kepala.


Ketika Abi membuka pesan singkat yang ada di handphonenya yang mahal, dia mendapat pesan dari teman-temannya untuk ke club malam ini. Abi sebenarnya ingin bergabung dengan teman-temannya tapi dia berpikir ulang. "Gue nggak bisa ninggalin Annisa malam ini. Gue harus berubah," gumam Abi.


Lagi pula badannya masih terasa sakit karena seharian mengangkat barang-narang berat. Abi berniat untuk meminta Annisa memijit dirinya supaya pegalnya berkurang. Namun, Annisa sudah lebih dulu menawarkan diri untuk memijat kaki suaminya.


"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Abizar.


Annisa mengulas senyum di wajahnya yang amat teduh. "Aku sedang mencari pahala dengan cara memijat kaki suamiku mana mungkin aku keberatan? Justru aku sangat senang mendapatkan ladang pahala, Mas," jawab Annisa.


Abizar pun tidak akan menolak jika itu menjadi keinginan istrinya. 'Padahal sepanjang hidup aku terus berbuat maksiat. Tapi Tuhan memberiku seorang bidadari untuk hidup berdampingan denganku. Apakah ini mimpi?' batin Abizar yang menyesal akan perbuatannya dahulu.


Abizar adalah laki-laki yang doyan berganti pasangan. Walau dia menjalin hubungan dengan Cintya, tapi Abi sudah terpengaruh oleh pergaulan teman-temannya yang rusak. Selain itu dia sering pulang dalam keadaan mabuk. Orang tua Abizar sampai hafal akan kebiasaan anaknya itu.


Itulah sebabnya Zidan menikahkan Abizar dengan Annisa agar dia bisa berubah. Belum lagi Zidan memberikan hukuman dengan memutus semua fasilitas yang diberikan pada Abizar.


Keesokan harinya Abizar kembali berangkat di jam yang sama seperti kemaren. Saat itu Annisa sengaja bangun lebih pagi supaya bisa menyiapkan bekal untuk suaminya.


"Terima kasih banyak," jawab Abizar.


"Sama-sama, Mas." Annisa menatap heran pada bungkusan yang dibawa Abizar.


"Apa yang ada dalam plastik hitam itu, Mas?" tanya Annisa.


"Owh, ini jas hujan," jawabnya berbohong. "Aku takut hujan sewaktu-waktu. Kalau pakai payung pas naik ojek payungnya kena angin jadi aku punya inisiatif bawa jas hujan sendiri," jawab Abizar mencari alasan yang sekiranya bisa meyakinkan Annisa. Annisa manggut-manggut.


"Kalau begitu aku berangkat dulu ya," pamit Abizar. Annisa mencium tangan suaminya.


Annisa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Kemudian ketika matahari telah meninggi, Annisa berniat belanja ke pasar karena bahan makanan sudah mulai habis. Dia pun menaiki ojek untuk sampai di pasar terdekat.


Waktu itu Abi sedang duduk setelah selesai mengangkat karung yang berisi cabai, tiba-tiba dia melihat sang istri dari kejauhan. "Mampus, kenapa Annisa ada di sini?" gumam Abi kesal pada situasi yang tidak menyenangkan ini.

__ADS_1


Anton menatap Abi yang berkeringat dingin. Dia pun menegur Abi. "Bi, kamu kenapa?" tanya Anton.


"Bang, aku ke toilet sebentar. Perutku mulas karena banyak makan pedas semalam," jawab Abi. Dia ingin menghindar agar sang istri tidak bisa mengenali dirinya.


"Kalau sampai ketahuan bahaya," gumam Abi sambil berjalan menuju ke toilet. Setelah cukup lama, Abizar melihat ke sekeliling.


"Kayaknya sudah aman," gumamnya.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Abi menoleh secara perlahan. "Bang Anton ngagetin saja," ucap Abizar yang merasa lega. Kini dia lebih tenang.


"Kamu nggak muncul-muncul. Aku khawatir sama kamu. Kalau sakit pulang saja," perintah Anton pada Abizar.


"Nggak, Bang. Udah baikan," sangkal Abizar. Padahal dia berbohong. Abizar kembali bekerja dengan Anton.


Usai menyelesaikan pekerjaannya, Abizar mencari tempat pemandian umum. Dia akan berganti pakaian agar Annisa tidak curiga. Setelah membersihkan diri, Abizar pamit pada Anton.


Selama dua hari ini Anton bertanya-tanya kenapa Abi selalu datang dan pergi dengan pakaian yang rapi. Tapi Anton akan menanyakan hal itu besok. Abizar terlihat terburu-buru.


Ketika Anton merogoh sakunya dia menemukan uang yang seharusnya menjadi bayaran Abizar. "Ya ampun bayaran dia lupa gue kasih," gumam Anton.


Abi pun demikian. Dia baru teringat kalau dia belum mendapatkan bayaran dari Anton ketika hampir sampai di tempat dia mengontrak rumah. "Kenapa aku seteledor ini sih? Annisa kecewa tidak ya?" Abizar merutuki kebodohannya. Dia hanya berharap Anton akan memberi upahnya besok.


"Assalamualaikum," seru Abizar ketika baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


"Waalaikumsalam."


Abizar terkejut ketika bukan Annisa yang menjawab salamnya melainkan seseorang yang sangat dihormati oleh sang istri.


Kira-kira siapa yang datang?


...♥️♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2