Ternyata Kaulah Jodohku

Ternyata Kaulah Jodohku
Lamaran


__ADS_3

Raka memberi tahu orang tuanya jika Annisa setuju menikah dengan dirinya dalam waktu dekat. "Alhamdulillah, kita akan persiapkan segala sesuatunya menjelang hari pernikahan kalian," kata sang ibu.


"Annisa meminta acara pernikahannya diadakan secara sederhana saja," ucap Raka.


"Ada benarnya juga karena ini pernikahan keduanya, Nak. Lantas apa kamu tidak keberatan jika acara pernikahan kalian diadakan secara sederhana?" tanya ayah Raka.


"Tentu saja aku tidak keberatan, Pa. Aku akan menuruti apa yang dikehendaki oleh calon istriku."


Keesokan harinya ketika Annisa dan Raka bertemu, Raka menyampaikan keinginannya melamar Annisa secara resmi. "Kapan Mas Raka dan keluarga mau datang ke rumah?" tanya Annisa.


"Lusa, setelah itu kita tentukan tanggal pernikahan kita juga. Apa kamu setuju?" tanya Raka.


Meskipun terkesan buru-buru, tapi itulah yang diinginkan Annisa. Segera menghalalkan hubungannya dengan Raka. Karena Annisa sendiri yang meminta pacaran setelah menikah.


Dua hari kemudian keluarga besar Raka datang ke rumah Annisa. Merek membawa banyak seserahan. "Pak Hanafi kami bermaksud untuk meminta izin ada Bapak melamar Annisa untuk anak kami Naraka Wijaya putra bapak Rahman Wijaya," ucap salah seorang perwakilan dari keluarga Raka.


"Saya merestui hubungan mereka. Hanya saja semua ini tergantung pada Annisa karena dia yang akan menjalani," jawab Pak Hanafi.


"Annisa, bagaimana denganmu? Apakah kamu mau menerima pinangan Nak Raka?" Annisa mengangguk.


"Alhamdulillah." Semua orang berucap syukur. Setelah itu keduanya bertukar cincin sebagai bukti kalau mereka sudah bertunangan. Raka menatap jari manis Annisa yang masih terselip cincin pernikahan lamanya.


"Kenapa kamu tidak melepasnya?" tanya Raka setengah berbisik.


"Aku tidak bisa melepas cincin ini, Mas. Sematkan saja di atasnya!" perintah Annisa pada Raka. Raka agak keberatan tapi dia menekan egonya. Apalagi mereka masih dalam acara lamaran.


Semua orang bertepuk tangan ketika menyaksikan pasangan tersebut bertukar cincin. Annisa dan Raka tersenyum. Namun, ketika Raka mengamati wajah Annisa secara seksama, dia melihat raut wajah sendu Annisa sembari memegangi tangannya yang tersemat cincin.


Orang yang diundang lumayan banyak. Padahal keluarga Raka maupun Annisa hanya mengundang saudara terdekat saja.

__ADS_1


"Pak Hanafi bagaimana kalau pernikahan Annisa dan Raka dilangsungkan seminggu lagi?" tanya keluarga Raka ketika acara lamaran tersebut.


Pak Hanafi balik bertanya pada putrinya. "Bagaimana Annisa? Apa kamu sudah siap?" tanya Pak Hanafi.


"Terserah bapak saja," jawab Annisa sambil menundukkan wajah.


"Nanti, acara pernikahannya tidak hanya akad nikah saja ya Pak. Ada acara resepsi yang digelar sehari kemudian," ucap Rahman, ayah Raka.


Usai acara pertunangan selesai Raka dan keluarganya pamit.


"Mulai besok kalian dipingit dulu. Jangan bertemu sampai hari H pernikahan," pesan Ayah Raka.


"Yagh, Pa. Ini kan bukan abad pertengahan lagi," protes Raka.


"Pertengahan atau bukan yang jelas kita harus mengikuti adat," jawab sang ayah. Annisa mengulum senyum.


"Annisa, aku pulang dulu ya," pamit Raka pada Annisa secara langsung. Setelah itu Raka berniat mendekati Annisa, sang ayah menarik tangannya lebih dulu.


"Selamat ya," ucap Aisyah, istri Fahri. Annisa tersenyum tapi dia tidak terlihat bahagia.


"Kok murung?" tanya Aisyah heran. Seharusnya adik iparnya itu bahagia di hari pertunangannya. Annisa menggeleng.


"Kak, aku ke kamar dulu ya, mau tidurin Dennis," pamit Annisa.


Setelah menidurkan Dennis, Aisyah yang malam itu menginap di rumah mertuanya menghampiri Annisa. "Annisa apa kamu sudah tidur?" tanya Aisyah yang mengetuk pintu dari luar kamar.


Annisa berjalan membukakan pintu. "Ada apa, Kak?" tanya Annisa pada Aisyah.


"Boleh kakak bicara sebentar sama kamu?" tanya Aisyah meminta waktu pada adik iparnya itu. Annisa mengangguk.

__ADS_1


"Duduk, Kak!" Annisa meminta kakaknya duduk di kursi yang ada di kamarnya.


"Kakak perhatikan kamu tidak bahagia dengan pertunanganmu dengan Raka. Bukankah kamu yang menyetujui pertunangan ini?" tanya Aisyah. Annisa mengangguk. Dia melihat ke arah jari manisnya yang tersemat dua cincin.


"Aku harap aku bisa membagi hatiku pada Mas Raka. Aku bukannya terpaksa menerima dia hanya saja saat ini aku masih belum bisa melupakan Mas Abizar," jawab Annisa.


"Annisa, jangan seperti itu. Itu artinya kamu tidak ikhlas menerima kepergian almarhum suami kamu. Kamu juga tidak bisa ikhlas menjalani rumah tanggamu nanti. Raka itu yang akan menjadi suami kamu saat ini. Hormati dia! Jangan kamu bandingkan dia dengan masa lalumu. Abizar memang pernah mengisi hatimu tapi jangan sampai semua hatimu kamu penuhi dengan cinta orang yang telah meninggal."


Annisa merenungkan ucapan Aisyah. "Ingat Annisa, menikah itu saling memberi hati masing-masing pasangan. Jika Raka memberi hati padamu tapi kamu tidak bisa memberi hatimu padanya, lalu akan ditempatkan di mana hatinya nanti? Jangan sampai Raka mencari orang lain yang bisa menampung hatinya. Kamu mengerti ucapan kakak?" Annisa mengangguk.


"Aku akan mengingat nasehat kakak," jawab Annisa.


"Kakak keluar dulu. Istirahatlah!" Aisyah menutup pintu setelah dia keluar.


Annisa mengambil air wudhu dan meminta petunjuk dari Allah. "Ya Allah aku serahkan segala urusan hati pada Mu. Aku ikhlas menjalani apa yang menjadi ketetapan Mu."


Usai berdoa, Annisa merebahkan diri di samping Dennis. Dia memandang wajah mungil putranya itu. "Dennis, bunda sayang sekali sama kamu. Semoga kamu juga bisa sayang pada papa Raka seperti kamu sayang pada papa Abi," gumam Annisa seraya mengusap-usap kepala Dennis.


Keesokan harinya, Annisa berangkat kuliah seperti biasa. Suara-suara tidak sedap masih terdengar di telinga Annisa.


"Dengar-dengar ada janda yang mau dapat perjaka nih?" ledek salah satu mahasiswa yang duduk di pinggir taman.


Annisa yang saat itu sedang mengerjakan tugas memilih berpindah tempat karena dia tahu mendengarkan hal semacam itu hanya membuat dirinya marah.


Namun, ketika dia sedang berjalan sebuah kaki menjregal kakinya. Annisa pun terjatuh. "Kalau jalan lihat-lihat dong!" ucap Tiara nyolot. Annisa hanya menggelengkan kepalanya. Seharusnya dia yang marah tapi dia memilih bangun dan meninggalkan Tiara.


Namun, Tiara tidak mau melepas Annisa begitu saja. Dia menarik kerudung Annis dengan kasar. "Gue heran apa yang membuat Pak Raka jatuh cinta sama lo?"


"Lapaskan dia!" bentak Raka yang melihat Annisa disakiti. Tiara pun melepas tangannya.

__ADS_1


Annisa berjalan ke belakang punggung Raka. "Kamu ingin tahu apa yang saya jatuh cinta sama Annisa? Kelembutan dan sikapnya yang suka mengalah adalah kekuatan yang sebenarnya. Dia kuat menjalani hinaan dan cibiran dan orang-orang seperti kamu tanpa membalas sedikit pun. Itulah yang membuat saya ingin melindunginya. Jangan ganggu calon istri saya lagi. Saya bisa membuat kamu dikeluarkan dari kampus ini," ancam Raka setelah itu dia mengajak Annisa pergi.


__ADS_2