Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Berusaha Ikhlas


__ADS_3

"Bang?"


"Hem, kamu sudah baikan?" tanya Prince berusaha melembutkan suara nya dihadapan Maira.


Almaira tersenyum, "Alhamdulillah udah. Oh ya Bang. Kapan kita ke Singapura?"


Prince memaksakan senyumnya.


Bukannya bertanya tentang sakitnya sudah mendingan atau belum, malah bertanya kapan akan berangkat ke singapura.


Sungguh, bukan sosok istri yang di inginkan oleh Prince. Ia tersenyum kecut melihat tingkah Almaira yang sangat bertolak belakang dengan Alzana saudara kembarnya.


"Dua hari lagi. Tunggu sampai luka ini mengering dulu. Kalau belum kering juga, maka seminggu lah disini baru kita kembali ke Singapura."


"Hoo.. Ya sudah. Aku tidur duluan ya Bang? Ngantuk!"


Lagi, Prince tersenyum kecut melihatnya. "Ya, tidurlah. Abang pun mau tidur juga." Jawabnya dingin dan sangat lesu.


Ia segera merogoh ponselnya dan mengabarkan hal itu kepada Ummi Ira dan abi raga yang membuat kedua paruh baya itu hanya bisa menghelanafasnya.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita pulang!" ucap Abi Raga yang diangguki oleh Ummi Ira dan Alzana.


Mereka pun segera meninggalkan Prince dan Maira yang kini berada dalam satu ruangan yang sama.


Tanpa Prince pinta pun, Maira tahu sendiri jika dirinya memang tidak menginginkan pernikahan itu.


Sedangkan Prince, ia terpaksa menerima keadaan Maira yang memang sedang membutuhkan pertolongannya.


Prince hanya bisa pasrah dan bersabar. Ia berusaha ikhlas dengan keadaan yang saat ini menimpanya.


Andai..


Andai saja Alzana yang menjadi istrinya, pastilah ia tidak akan merasakan sakit hati seperti ini.


Prince hanya bisa pasrah pada Takdir.


Ke esokan pagi nya.


Prince yang sudah bangun sedari subuh dan sudah melakukan sholat subuh sambil duduk, ia menoleh pada Maira yang sudah sedari tadi ia bangunkan.

__ADS_1


Tidak juga bangun. Prince hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia lebih baik berzikir daripada mengotori lidahnya untuk memarahi Maira yang tertidur pulas tanpa sadar apapun.


Sedangkan di kediaman mami Annisa. Sedari pagi Alzana sudah bangun dan sibuk memasak. Sejak pulang dari rumah sakit tadi malam, iaterus menangis di pel;ukan Azka.


Azka hanya bisa pasrah saat menyadari jika dirinya hanya pelarian dari sang istri karena ingin menghindari abang sepupunya yang kini berada dirumah sakit.


Azka mencoba mengalah dan pasrah terhadap keadaan Alzana yang saat ini begitu tertekan dengan pernikahan mereka saat ini.


Azka hanya mampu berkata, "Abang ikhlas sayang.."


Apalagi yang bisa ia lakukan selain berkata ikhlas? Melihat istri kecilnya begitu rapuh karena terpaksa menikah dengannya.


Bukan tanpa sebab Azka mengatakan itu. Sangat terlihat jelas jika Alzana terpaksa menerima kehadirannya.


Bahkan tadi malam saja, Alzana memaksa Azka untuk segera menyentuhnya agar kewajibannya cepat terlaksana.


Azka sempat mematung mendengar ucapan Alzana. Tetapi itu hanya sebentar. Setelah ia sadar jika Alzana begitu tertekan, Azka menolaknya dengan lembut yang membuat Alzana semakin merasa bersalah.


Dan pagi ini, ia sednag memasak di dapur seorang diri. Selesai sholat tahajud ia langsung turun ke dapur dan memasaka banyak makanan untuk dibawa kerumah sakit.

__ADS_1


Sebelumnya ia sudah meminta izin pada Azka dan Azka mengizinkan. Azka sedang istirahat saat ini.


Sedang Alzana belum terlelap sekalipun hingga saat ini. Ia sibuk terus memasak tanpa memperdulikan dirinya yang belum tidur sama sekali hingga saat ini.


__ADS_2