
"Nggak akan sayang!"
"Hiks.. Beneran?"
"Ya, Abang nggak akan ninggalin kamu,"
"Kalau sam-pai Abang ninggalin aku, lebih baik aku mati!"
Deg!
"Nggak! Abang nggak akan ninggalin kamu. Udah, sekarang kamu duduk dulu ya? Abang mau ngepel lantai ini dulu. Lihat tuh, masih banyak loh.. pecahan kacanya?"
Maira menggeleng. Ia tidak mau. Takut sekali dirinya di tinggalkan oleh Prince.
"Beneran sayang. Abang nggak akan pergi. Abang cuma mau ngepel lantai ini doang kok. Ya?" ucapnya lagi membujuk Maira yang tetap keukeuh pada pendiriannya.
Ia menggeleng dengan terus memeluk erat tubuh Prince. "Ya sudah kalau kamu nggak mau. Abang tetap harus ngepel dulu lantainya. Kamu tetap ingin bersama Abang seperti ini?"
Maira mengangguk.
"Nggak keberatan?"
Maira menggeleng lagi. "Oke, kita kesana dulu. Pel lan nya abang tinggalkan diluar," imbuhnya dengan segera berjalan ke arah pintu dengan Maira masih memeluk tubuhnya dengan erat.
Keduanya pun mulai mengepel. Lebih tepatnya Prince saja yang mengepel. Sedang Maira menempel di tubuhnya seperti cicak. Ke empat orang tua itu terdiam melihat tingkah Maira yang menurut mereka sangat berlebihan.
Mami Annisa ingin menarik paksa lagi tubuh Maira tetapi ditahan oleh Ummi Ira dan Papi Tama.
__ADS_1
Ia pasrah lagi. Lagi dan lagi sikap Maira ini yang membuatnya semakin meradang. Bagimana tidak.
Jika Maira saat ini tetap memeluk tubuh Prince dari belakang. Maira tidak ingin melepaskannya sekalipun.
Kemana langkah kaki Prince mengepel lantai, ia pun ikut. Tetapi semua itu terhenti saat melihat Alzana dan Azka berdiri mematung melihat adegan keduanya.
Tubuh Maira kembali bergetar. Pegangan di tubuh Prince semakin mengencang. Prince terkejut.
Ia segera meletakkan pelannya di dinding dan melihat kemana mata Maira menatap.
Deg!
Deg!
Wajah itu datar seketika. Ia tidak berbicara, tetapi tatapan tajam ia layangkan pada Alzana dan Azka saat ini.
"Hahaha.. Lihat bang. Dia kembali lagi! Apakah dia ingin mengejekku sekarang karena ditinggal nikah olehnya? Iya? Hiks. Kamu!" tunjuknya pada Azka dan Alzana yang mematung melihatnya di pelukan Prince.
"Aku membenci kalian berdua! Kalian menikung ku dari belakang! Aku benci kalian berdua!! Aku benci!!! Aaaaaa... Aaaaaa... Huaaaa... Aku benci mereka Bang!!!!" pekiknya dengan meronta-ronta kuat di dalam pelukan Prince.
"Sabar dek, jangan begini! Istighfar Dek!" seru Prince semakin kuat memeluk tubuh Maira yang sedang meronta.
"Nggak! Nggak akan!! Abang pun akan pergi juga nantinya kan saat abang mendapatkan calon istri?! Dan Abang akan pergi meninggalkan ku sama seperti nya??!"
Prince menggeleng. "Nggak akan sayang! Nggak akan Abang ninggalin kamu! Yang Abang mau itu kamu!" jawab Prince dengan suara naik satu oktaf karena lelah menghadapi Maira yang terus meronta-ronta.
Perutnya yang tadi sudah lumayan sembuh, kini kembali sakit lagi. Ia memejamkan kedua matanya menahan rasa sakit dari sikutan tangan Maira yang tanpa sengaja.
__ADS_1
"Dengarkan Abang Almaira Puteri Pratama!"
Deg!
Deg!
Tubuh Maira terpaku di tempat saat medengar nama lengkapnya dipanggil oleh Prince. Maira sadar, jika Prince sudah mengeluarkan suara bentakan sekaligus nama lengkapnya, Maira harus diam.
Tubuh itu terpaku dengan air mata terus bercucuran deras di kedua pipinya.
"Papi.. mami.. Ummi.. Abi.. Izinkan abang menikahi Maira malam ini juga!"
Deg!
"Apa?!" seru Mami Annisa yang begitu terkejut dengan ucapan Prince.
"Tolong Mami.. Izinkan Abang menikahi Maira. Semua ini demi kebaikannya. Abang tidak akan menyia-nyiakannya dan juga meninggalkan nya. Abang ingin melindunginya. Tidak mungkin selamanya kan Maira akan seperti ini sama Abang? Bukankah kami berdua ini bukan mahram Mami??"
Deg!
Deg!
Mami Annisa terkesiap mendengar ucapan Prince. Ummi Ira dan Abi Raga hanya bisa diam. Ia tahu, jika prince sudah mengambil keputusan pastilah sudah ia pikirkan masak-masak.
"Mami.." lirih Prince mengiba.
Papi Tama mengangguk, "Tentu Nak. Malam ini juga kamu akan menikahi Maira. Sebentar. Papi panggilkan kakek Madan terlebih dahulu. Beliau juga seorang penghulu di daerahnya,"
__ADS_1
Prince mengangguk. Ia semakin erat memeluk tubuh Maira yang kini juga memeluknya dengan sangat erat dan tak ingin terlepas sedikit pun.