
Keduanya kini sedang duduk berhadapan dengan papi Tama dan juga Abi Raga. Kedua orang itu menatap sendu pada kedua anak mereka yang kini juga mendapat dampak dari janji itu.
"Dengarkan Papi Nak."
Keduanya mendongak bersamaan.
"Kalian itu anak yang baik. Papi tahu, kalau kalian berdua sedang di uji saat ini. Kami ingin memberikan nasehat untuk kalain berdua." Beliau terdiam saat melihat reaksi keduanya yang kini dengan tatapan kosongnya.
"Apakah kalian berdua ingin kami nikahkan dulu baru kami pisahkan saat tiga bulan lagi??"
Deg!
Deg!
Prince dan Alzana menoleh bersamaan. Keduanya kompak menggeleng. Abi Raga terkekeh. Begitu juga dengan dua wanita paruh baya yang kini juga sedang melihat mereka berdua dari sambungan ponsel milik Abi Raga.
Tadi, pada saat acara pernikahan Maira dan Azka, keduanya pun menyaksikan pernikahan itu tanpa mereka sadari.
__ADS_1
Karena mereka berempat sedang sibuk dengan lamunan nya.
"Nak.. Papi setuju jika kalian berdua ingin menikah. Katakan saja sekarang. Apakah kalian ingin dinikahkan?" ulang Papi Tama sekali lagi pada keduanya yang kini menatapnya dengan sendu.
"Kami tidak mau Pi," jawabnya kompak yang l;gi dan lagi membuat ketiga orang tua itu terkekeh-kekeh melihat kekompakan keduanya.
"Kenapa? Bukankah ini kesempatan untuk kalian berdua bisa menikah secara sah? Tidak lagi memendam rasa rindu??" goda papi Tama tapi dengan wajah seriusnya.
Yang mana membuat MamiAannisa tertawa keras melihat tingkah suaminya itu yang mendadak berubah menjadi datar seperti itu karena menutupi rasa geli dihatinya.
Keduanya menggeleng lagi.
Alzana dan Prince kompak menunduk yang mana membuat Papi Tama terkekeh-kekeh tanpa suara.
Abi Raga pun demikian.
"Aku ingin di hukum dulu Pi. Bukankah perjanjiannya kami harus dihukum hingga dua tahun lamanya tanpa pesangon dari kalian semua?" tanya Alzana yang diangguki mantap oleh Prince.
__ADS_1
Seolah pertanyaan Alzana itu sama dengan pertanyaannya.
"Benar. Tapi apa alasan lainnya? Kenapa kamu menolak menikah sekarang? Bukankah ini waktu yang tepat? Prince?"
Prince menggeleng sembari menunduk. "Tidak. Abang tidak mau menikah karena keterpaksaan. Yang aku mau. Menikah itu rela dan ridho. Bukan karena terpaksa. Hubungan yang dipaksakan tidak akan baik untuk rumah tangga kelak. Pernikahan bukanlah permainan Pi. Abang bukan menolak. Hanya saja.. Belum waktunya. Biarlah kami dengan janji ini. Bukankah janji adalah hutang? Lagipun janji ini berguna untuk kami.
Dengan adanya janji ini, kami semua di tuntut untuk lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Segala sesuatu itu harus dipikirkan dulu. Jangan sampai hal yang sama terulang lagi," ujar Prince yang diangguki oleh Papi Tama.
"Sebuah alasan yang baik. Kamu Dek? Apakah sama seperti Abang mu?"
Alzana mengangguk. "Beri kami waktu Pi. Jika memang berjodoh, maka kami akan bersatu diwaktu yang tepat. Namun, jika tidak. Maka cukup sampai disini hubungan kami berdua. Lagi pun, kami masih belum bisa untuk menikah dengan hati dan perasaan yang terluka. Kami trauma Pi. Takut gagal itu pasti ada. Maka dari itu, kami memilih untuk menyendiri dulu. Demi mendewasakan diri ini yang masih tergolong labil dan berubah-ubah tiap kali mengambil keputusan!"
Papi Tama tersenyum, "Baik. Jika itu alasanmu. Kami terima. Pesan kami sebagai orang tua. Berusahalah menjadi baik walau kita sudah baik. Jaga diri dari kelakuan tidak terpuji. Kalian akan kami tinggal selama tiga bulan lagi. Fokus pada kuliah saja.
Jangan melakukan hal yang aneh seperti yang mereka lakukan. Kami percaya. Jika kalian berdua bisa diandalkan. Untuk itu, kami tetap akan menikahkan kalian ketika perjanjian itu selesai nantinya.
Kalian memang sudah ditakdirkan bersama. Jadilah anak yang baik, maka keturunana kalian kelak pun akan baik. Walau ada salah satu anak Papi yang memberikan neraka untuk papi dan mami. Tak apa. Itu pun kesalahan kami.
__ADS_1
Kami juga bersalah kepada mereka berdua. Untuk itu, jangan berbuat macam-macam sebelum waktu yang kami tentukan untuk perjanjian itu dimulai. Paham?"
Keduanya mengangguk patuh dengan kepala tertunduk yang membuat ke empat orang tua itu merasa bangga pada keduanya.