Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Prahara rumah tangga Prince dan si kembar Al


__ADS_3

Dua jam berlalu.


Kini ke empat orang itu sudah lebih tenang karena tidak mendengar lagi suara-suara aneh itu dari kamar Azka.


Prince menatap kosong pada figura besar yang menunjukkan kebersamaan Alzana dengan Azka saat mereka berada di Indonesia dulunya.


Seharusnya Prince senang melihat kejadian itu. Tetapi entah kenapa, firasatnya buruk akan hal ini.


Begitu pun dengan Alzana. Ia menatap kosong pada pintu yang masih tertutup rapat itu. Masih teringat olehnya bagaimana Azka meminta dan memohon padanya untuk meminta rujuk kembali dengannya.


Ia tahan mencari Alzana hingga keliling kota Singapura yang tidak tahunya, Alzana malah tetap tinggal di apartemen yang sama dengannya.


Azka meminta Alzana untuk berpikir sebelum mengambil keputusan untuk rujuk kembali dengannya.


Bagaimana pun Azka sadar. Jika hati Alzana tetap bukan miliknya. Tetapi milik pemuda lain yang kini masih setia bersamanya.


Alzana melamunkan kejadian itu. Ia tidak sadar, jika Papi Tama menyeka air matanya yang baru saja mengalir lagi.


Alzana terkejut saat merasakan kecupan sayang di dahinya. Alzana tersenyum melihat Papi Tama.


"Adek Tak apa Pi. Mungkin ini petunjuk dari Allah selama setahun ini. Adek meminta petunjuk sama Allah untuk kelanjutan hubungan pernikahan kami berdua. Dan ya, Allah mengabulkannya." Ucap Alzana yang diangguki oleh papi Tama dengan mata sendunya yang kini mengeluarkan cairan bening lagi.


"Seperti janji Papi dulu, adek siap menerima hukuman papi apapun itu. Karena kejadian ini juga andil kami berdua. Jika kami lebih cepat datang, maka kejadian ini tidak akan terjadi. Adek serahkan semuanya keputusan ini sama Papi.." lirihnya dengan menunduk.

__ADS_1


Papi Tama segera memeluknya. Prince menatap Alzana dengan tatapan yang sulit di mengerti. Jantungnya berdegup begitu kencang memimikirkan janji apa antara anak dan ayah yang ia sendiri pun tahu apa janji itu.


Ke empatnya sabar menunggu kedua orang pasangan bukan suami istri itu untuk keluar dari kamar mereka.


Sementara kedua orang itu saat ini sedang saling bertatapan. Jika Maira menatapnya penuh cinta sedang Azka menatapnya dengan tatapan bersalahnya.


"Ra..."


Maira tersenyum, "Tak apa Bang. Semua ini sudah terjadi dan tidak mungkin bisa kembali lagi. Yang harus kita pikirkan sekarang ialah bagaimana caranya memberitahu Prince dan juga Alzana. Aku takut keduanya.."


"Buka pintunya Almaira Puteri Pratama! Papi menunggumu dalam waktu lima belas menit!"


Deg!


"Papi??" beo keduanya.


"Ya, papi! Papi dan Abi Raga sudah dua jam menunggu kalian! Keluar sebelum papi yang menyeret kalian untuk keluar!"


Ddduuuaaarr!!


Bruk.


Keduanya berlarian masuk ke kamar mandi dan mandi besar dengan terburu-buru. Cukup sepuluh menit saja sudah selesai.

__ADS_1


Rambut Almaira yang masih basah tidak sempat ia keringkan.


Keduanya keluar dengan nafas memburu. Maira tidak sadar jika saat ini pangkal pahanya masih terasa sakit. Ia sangat takut saat mendengar suara sang papi diluar kamar Azka.


Tiba diluar, kedua tungkai anak adam yang sudah melakukan kesalahan itu lemas seketika ketika tatapan empat pasang mata menatap datar pada mereka berdua.


Bruk.


Maira jatuh terduduk kala melihat Papi Tama dan Prince yang kini begitu datar menatapnya.


"Kamu ingat dengan janjimu kan Maira?"


Maira menelan salivanya.


"Almaira Puteri Pratama, mulai saat ini kamu bukanlah istriku lagi. Aku mentalak kamu dengan talak tiga!"


Ddduuuaaarrr!!


"Dan kalian berdua harus segera dinikahkan! Setelahnya kami buang dari tempat kami selama dua tahun lamanya setelah kuliah kalian selesai tiga bulan lagi!"


Ddduuaaarr!!


Alzana, Prince dan Maira memejamkan mata saat mendengar ucapan tegas Papi Tama yang tidak terbantahkan.

__ADS_1


Prahara rumah tangga Prince dan si kembar tiga dimulai...


__ADS_2