Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Pingsan


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Kehidupan empat anak manusia cucu Adam itu semakin merenggang dan sangat jauh dengan pasangan masing-masing.


Jika Prince disibukkan dengan tugas kampusnya dan sambil bekerja, Alzana pun demikian. Ia pun semakin disibukkan dengan tugas kampusnya.


Jangan tanyakan Maira dan Azka. Keduanya semakin dekat saja saat ini. Bahkan Azka terkesan mengabaikan Alzana jika sedang bersama Maira.


Alzana tidak bisa berbuat apapun saat ini. Ia hanya bisa pasrah. Karena semua itu bukan haknya untuk melarang Azka. Walau Azka suami sahnya.


Karena Azka sendiri telah memberikan ultimatum menyakitkan padanya dua minggu yang lalu.


"Kamu nggak usah sibuk mengurusku. Urus saja dirimu sendiri! Cari uang untuk biaya sekolah mu selama disini. Setelah kamu selesai, saya akan mengembalikan kamu kepada orang tua kamu! Dan ya. Jangan mengatur kehidupan saya. Saya tidak suka diatur dan di perintah! Jika kamu tidak suka, kamu boleh pergi dari sini dan cari tempat yang baru. Toh, apartemen ini saya kok yang bayar? Kamu tidak punya hak apapun untuk itu!" tekan Azka waktu itu yang membuat Alzana semakin hancur berkeping-keping.


Alzana terluka begitu dalam karena ulahnya. Ingin ia mengadu pada Prince, tetapi ia tidak punya keberanian walau sekedar meminta tolong saja.


Bahkan untuk satu minggu ini Alzana berpuasa karena stok makanan dirumahnya sudah tidak ada lagi.


Dan prince pun belum mengisinya. Alzana hanya bisa menangisi nasibnya. Ia hanya bisa minum air putih saja untuk mengganjal perutnya.


Berbeda sekali dengan Maira. Ia selalu kenyang setiap harinya. Uang sakunya pun ada terus diberikan oleh papi Tama tapi tidak dengan Alzana.


Alzana tersenyum miris mengingat itu. "Kalian tega padaku papi.. Mami.. Aku kecewa sama kalian. Untuk yang kesekian kalinya kalian melukai ku hanya demi melindungi kewarasan Maira. Lalu bagaimana dengan ku?" katanya sambil berjalan menyeka buliran keringat yang mengucur di dahinya.


Ia berjalan sedikit sempoyongan di taman kampus. Dari kejauhan Prince melihatnya. Ia segera mendekati Alzana.


Tetapi baru ia ingin memanggilnya, ia sudah lebih dulu jatuh di taman kampus itu.

__ADS_1


"Hunny!"


Deg!


Maira dan Azka yang kebetulan ada di taman kampus itu terkejut mendengar seruan itu. Kedua kompak menoleh di mana Alzana jatuh di taman kampus dengan Prince saat ini sedang menggendongnya dan berlari membawanya keruang UKS kampus.


Almaira dan Azka mengikutinya.


Mereka berdua menunggu dengan cemas tentang kabar Alzana yang pingsan entah karena apa.


Setengah jam mereka menunggu, Prince keluar. Dan saat keluar, keduanya berwajah datar menatap Maira dan Azka.


"Kita butuh bicara!"


Deg!


Tiba di restoran depan kampus, Prince memesan makan untuknya dan juga ketiga orang yang saat ini ikut dengannya.


Ia menyuruh mereka ikut makan sebelum Prince berbicara penting pada ketiganya.


Alzana makan dengan lahap dari tangan Prince secara langsung, ia menangis sambil makan. Prince tidak berbicara. Wajahnya semakin dingin saja.


Maira merasakan ada yang tidak beres dengan Alzana. Ia menatap tubuh Alzana yang semakin kurus.


Maira mematung saat tatapannya dibalas oleh Prince. Maira menunduk. Azka pun demikian. Ia merasa jika saat ini Prince sudah tahu masalah keduanya.


"Udah bang. Kenyang."

__ADS_1


"Belum! Kamu belum kenyang! Gimana kamu kenyang cuma makan sepiring sedang kamu puasa hingga satu minggu tanpa makan dan hanya minum saja, huh?!"


DDDuuuaar..


Tersentak Maira dan Azka mendengarnya.


"Makan lagi! Jika tidak, Abang akan membakar restoran ini lengkap dengan orang-orangnya!"


Deg!


Maira dan Azka menelan salivanya.


Sungguh, Prince begitu berbeda saat ini. Azka bisa melihat aura kemarahan Prince yang terpendam saat ini.


Ia menoleh pada Alzana yang lagi dan lagi tersedu karena Prince terus menyuapinya dengan penuh kasih sayang.


"Hiks.. adek udah kenyang Abang.. Udah nggak muat. Demi Allah bang!" Tangan Prince mengatung di depan mulut Alzana.


Ia menghela nafas kasar dan segera menyuapkan nasi itu ke mulutnya.


Lagi, Maira dan Azka mematung melihat itu. Alzana masih tersedu. Prince segera mengusap air matanya.


Kini ia beralih pada kedua orang itu dan menatap mereka dengan dingin.


"Kamu bisa kenyang setiap hari tetapi istri kamu kelaparan! Kamu bisa bersenang-senang dengan yang lain sedang istrimu kau buang! Mau mu apa Azka Dharmawan? Huh?! Kamu mengambil Alzana dariku secara paksa. Setelah kamu dapat, kamu ingin menyiksa nya begitu?! Kejam kau Azka! Sangat kejam! Kau tidak pantas disebut seorang suami, Azka! Kau mengisi perutmu hingga kenyang setiap harinya bersama istriku! Tetapi perut istrimu tidak sekalipun kamu peduli!"


Ddduuaarr!!

__ADS_1


__ADS_2