
Pesawat Prince mengudara di langit Singapura. meninggalkan tempatnya bersua dengan sang pujaan hati selama lebih kurang tiga tahun ini.
Prince menatap keluar jendela dimana ia masih bisa melihat Alzana berdiri di depan kaca melihat pesawatnya lepas landas.
Seutas senyum manis terbit di bibirnya. Shan yang berada disampingnya terkekeh. "Bang.. Bang. Jika cinta, kenapa nggak ditemui sih? Kan berat nanggung rindu??" godanya pada Prince yang kini terkekeh karena mendengar ucapannya.
"Kamu bisa saja Shan. Abang bukan tidak mencintainya. Abang sangat mencintainya hingga detik ini. Hanya saja.."
"Karena Veronica??" Ledek Shan lagi yang dibalas wajah kesal Prince padanya.
"Ck. Nggak ada sangkup pautnya dengan ular betina itu Shan!" ketusnya yang membuat Shan tertawa keras.
Mereka yang saat ini berada di kelas bisnis, bisa leluasa berbicara seperti itu. Karena disana hanya ada orang tertentu dari kalangan dokter saja. Termasuk Veronica rekan wanita yang tadi bersamanya ketika di depan kedua mami Annisa dan Ummi Ira.
Hanya jarak saja yang terpisah. Veronica berada di depan sana, sedang Prince berada di sisi kiri Veronica dan dibagian belakang.
__ADS_1
Shan terkekeh melihat Prince yang kini membuka galeri ponselnya. Ia tersenyum melihat kebersamaan mereka sebelum mereka berpisah dulunya.
"Kenapa tidak menemuinya tadi?" tanya Shan lagi masih penasaran karena melihat Prince yang tidak menemui cintanya itu.
Prince menghela nafasnya. "Abang Sengaja menjaga diri darinya. Hati dan diri ini setiap kali bersamanya seperti ada magnet yang tidak bisa lepas. Abang berusaha melindunginya Shan.. Dia wanita yang sangat baik dan mulia. Hingga saat ini belum terdengar sekalipun dirinya dekat dengan lelaki manapun selain diriku. Maka dari itu, diri ini ingin menjaganya.
Bukan maksud hati ingin menjauh. Tetapi berusaha menekan rasa rindu padanya. Abang harus terbiasa seperti ini. Dua tahun Shan. Dua tahun! Bukan waktu yang lama untuk bertahan. Ya walau sudah hampir lima tahun ini Abang selalu berusaha menahan. Tetapi tidak dengan kali ini. Sulit untuk berpisah darinya Shan.. Sangat sulit.." lirih Prince dengan dada yang sesak.
Shan menepuk bahunya untuk menguatkan. "Sabar Bang.. Aku yakin. Abang pasti bisa melewati semua ini. Kira-kira adik sepupu Abang ada lagi nggak yang kayak Alzana? Kalau ada, boleh dong jadi calon kandidat istri aku?" godanya pada Prince yang kini terkekeh mendengar ucapan Shan.
Keduanya saling tertawa dan terkekeh bersama saat melihat wajah merengut Veronica yang tidak bisa duduk bersamannya karena Shan dan Prince meminta tukar tempat duduk dari dokter lain.
Puas dengan terawa, Prince melihat keluar Jendela. Dimana hamparan awan putih begitu jelas terlihat dari sebalik kaca itu.
Prince menatap nanar pada siluet awan yang menunjukkan wajah sendu Alzana disana.
__ADS_1
Maafkan Abang, Hunny..
Abang terpaksa menjauhimu seperti ini. Agar hati ini terbiasa jauh darimu. Sebenarnya sulit untuk bisa menjauh darimu.
Selama tiga tahun ini, Abang begitu dekat dan sangat bergantung dengan mu. Kamu merupakan mood boster untuk Abang, Hunny..
Tanpa mu entah apa yang akan terjadi dengan diri ini. Abang pergi cuma untuk sebentar kok. Setelah waktu yang ditentukan, kita akan bertemu lagi.
Tunggu Abang, Hunny..
Abang sangat menyayangimu, Hunny ku Alzana Puteri Pratama.. Sangat menyayangimu..
~ Prince Arryan ~
...TAMAT...
__ADS_1