Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Sama tapi berbeda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan keduanya memilih diam. Kedua orang yang dulunya pernah saling bertikai itu kini sedang satu mobil dengan perasaan yang tidak menentu.


Jika Azka memikirkan tentang Alzana, maka Almaira sedang memikirnya. Keduanya tidak sadar, jika tempat tujuan mereka sudah tiba.


Sang supir menyadarkan keduanya yang kini sedang melamun. Keduanya pun turun dan berpisah disana tanpa bertegur sapa.


Azka lanjut dengan urusannya, begitu pun dengan Maira. Semua itu hanya beberapa menit saja.


Maira yang tujuannya hanya mengantar berkas, kini segera pergi dari gedung itu berjalan ke arah lobi. Dimana Azka dan rekannya juga sedang keluar.


Mereka berbicara sebentar, setelah itu Azka pamit. Karena tujuannya saat ini ialah ingin sarapan. Perutnya terasa begitu lapar karena tidak sempat sarapan.


Bukannya Alzana tidak memasak, akan tetapi Azka sendiri yang tidak ingin makan karena melihat menu masakan Alzana merupakan menu makanan kesukaan Prince.


Entah apa yang ada dihati dan pikiran Alzana saat itu hingga menu sarapan pagi keduanya pun kesukaan Prince.


Azka yang marah segera pergi meninggalkan Alzana yang menangis melihat kepergiannya. Mengingat itu, Azka merasa bersalah.

__ADS_1


Keduanya terus berjalan dengan pikiran melayang entah kemana hingga keduanya saling bertubrukan dengan Maira yang lagi dan lagi tersungkur.


Kali ini lututnya sedikit lecet.


"Aduhh.. Siapa lagi yang menabrak ku coba? Tadi di dorong! Sekarang? Malah di tubruk! Yang kayak aku ini kasur empuk saja!" gerutunya tanpa melihat pemuda tampan yang kini lagi dan lagi terkekeh melihat wajah kesalnya.


Wajahmu begitu mirip dengannya saat kesal seperti ini. Tetapi kepribadian kalian itu berbeda. Kamu unik Ra! Eh? Astaghfirullah! Tidak boleh memuji istri orang!


Batinnya beristighfar berulang kali. Tetapi ia tidak bisa berbohong jika Maira sedikit menghibur dirinya yang saat ini sedang sesak memikirkan Alzana seorang diri yang ia tinggalkan di apartemennya.


Inikah yang dinamakan takdir? Jika ini takdir, lantas kenapa aku dengannya tidak bisa bersatu?


Batin Maira menatap sayu padanya. Azka yang tahu arti tatapan Maira segera membawanya untuk makan di restoran muslim milik perusahannya.


Yang sengaja Rayyan buat disana untuk pekerja indonesia yang muslim. Dan juga sebagian karyawan disana itu muslim yang berasal dari Indonesia.


Keduanya masuk kesana dan disambut dengan hangat. Karena manager restoran itu sudah tahu siapa Azka dan Maira yang mereka kira sepasang suami istri.

__ADS_1


Mereka berdua sarapan pagi yang sudah kesiangan. Sesekali keduanya tertawa saat Maira membuat ulah karena kesal dengan makanan nya. Azka tertawa melihat itu.


Maira sangat senang saat melihat Azka tertawa. Ia mengambil banyak gambar Azka dan mengirimkannya kepada Alzana.


Maaf Al. Aku harus mengirimkan foto ini padamu. Agar kamu tahu jika Bang Azka lebih nyaman dengan ku di bandingkan dengan mu!


Ingat! Bang Azka itu jodohku! Bukan jodohmu!


Batin Maira tersenyum senang melihat pesannya sudah dibaca oleh Alzana disana.


Kalian memang mirip, tetapi berbeda. Jika bersama Alzana aku selalu merasakan sesak. Tetapi ketika bersama Maira, aku terhibur dengan ulahnya yang selalu membuatku ingin tertawa.


Maafkan Abang, Za..


Batin Azka merasa bersalah saat mengingat Alzana seorang diri di apartemennya. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Yang tanpa ia sadari sudah melukai hati Alzana.

__ADS_1


__ADS_2