
"Da-darimana kamu tahu Al? Ka-kamu mengikuti kami?" tanya Almaira terbata pada alzana yang kini masih tersedu.
"Bukan hanya aku. Tapi bang Prince pernah melihat kalian berdua!"
Deg!
Lagi, tubuh keduanya terasa kaku. Wajah datar dan dingin Prince begitu kentara terlihat saat ini.
"Hahaha.. Baguslah kalau kalian sudah tahu. Dan apa yang kamu lihat itu memang benar Za. Aku dan Maira sedang menjalin hubungan serius. Setelah lulus, aku akan mengembalikan mu kepada orang tuamu. Dan sekarang, keputusan ku sudah bulat untuk berpisah darimu!"
Ddduuaarr!
Alzana mematung di tempat. Prince menatap datar pada Azka. Ia terkekeh sumbang. "Berani sekali kamu mengakui hal keburukan mu ya? Dan kamu Maira! Apakah kamu juga tidak ingin mengakui hal ini?" tanya Prince pada Maira dengan tangan segera merogoh ponselnya dan membuka layar rekam disana.
Ia memerluakn bukti ini suatu saat nanti.
__ADS_1
Azka tersenyum sinis melihat itu. "Kamu ingin menghubungi keluarga mu Prince? Kamu ingin mengatakan yang sebenarnya kepada mereka semua? Cih! Bukan lelaki sejati kamu Prince!"
Prince tetap tenang walau gemuruh di dadanya saat ini begitu panas dan siap mengeluarkan larva panasnya.
"Aku bukan kau Azka! aku tidak pernah mengatakan hal apapun kepada keluarga termasuk Alzana istrimu tentang hubungan ku dengan Maira seperti apa!"
Deg!
Lagi, Azka terkesiap mendengar jawaban Prince. Begitu pun dengan Maira yang kini wajahnya begitu pias terlihat oleh Prince.
"Boleh aku tahu azka? Kenapa kamu memutuskan untuk melabuhkan hatimu pada istriku?" tanya Prince sengaja ingin membongkar pengakuan dari keduannya
"Dengan kata lain kamu cemburu padaku, begitu?" sela Prince
Azka mengangguk. "Ya, aku cemburu. Tetapi itu hanya sesaat. Setelah satu minggu aku seatap dengannya, aku mulai mengenal sikapnya yang pemaksa dan selalu ingin memerintah. Aku tidak suka itu. Aku lebih senang diluar daripada dirumah."
__ADS_1
"Karena apa? Karena istriku selalu berada di dekatmu begitu??"
"Lebih tepatnya begitu. Maira pun tidak masalah dengan hal itu,. Iya kan Ra?" tanya Azka apda Maira yang terpaksa mengangguk dengan menunduk karena melihat tatapan Prince yang begitu menusuk.
Alzana menagis tanpa suara. Sakit sekali hatinya mendengar pengakuan Azka.
"Jika ku tahu tujuan mu menikah dengan ku hanya untuk menyiksa batinku, lebih baik dulu aku tidak meminta mu untuk menikahiku! Aku pikir, kamu sama seperti papi dan bang Prince! Ternyata tidak! Kamu bahkan lebih buruk dari seekor hewan dalam memberlakukan diriku! Kecewa! Aku sangat kecewa! Sekarang terserah padamu tuan Azka Dharmawan! Aku ikhlas jika pun kamu menjatuhkan talak padaku! bagiku, lebih baik hidup sendiri dan menjanda di usia muda daripada setiap hari harus makan hati melihatmu selalu berzina dengan saudara kembarku sendiri!"
Dduuaarr!
"Aku akui. Aku tidak cantik dan juga pandai menghibur sepertinya. Tetapi aku tahu batasanku terhadap seorang lelaki seperti apa! Bang Prince salah satunya. Selama aku menjadi istrimu, tidak pernah sekalipun aku meminta pertolongan darinya seperti saudaraku selalu meminta pertongan mu di tengah malam buta!"
Deg!
Kedua orang itu lagi dan lagi terkesiap.
__ADS_1
"Tak apa! Aku ikhlas! karena inilah jalan hidupku! Aku tunggu ucapan keramat mu untuk membebaskan diriku dari belenggu tali pernikahan terpaksa ini. Selamat untukmu Maira! kamu berhasil merebut dua orang sekaligus di dalam hidupku. Pertama bang Prince, dan kedua bang Azka! Kamu berhasil merusak nama baikku kepada dua laki-laki yang sangat aku sayangi tetapi tidak menginginkan ku! Lepaskan aku bang Azka! Agar kamu terbebas dan kamu bisa lebih leluasa mengungkapkan cintamu pada istri Bang Prince!"
"Aku menunggu satu kali dua puluh empat jam kata keramat keluar dari mulutmu untuk melepaskan ku! Aku pamit! Terimakasih makan siangnya bang Prince! Aku akan menggantikan uangmu setelah aku mendapatkan pekerjaan! Dan ya, sebaiknya kamu dan Maira berpisah juga Bang Prince. Agar keduanya bisa memadu kasih dalam ikatan yang tidak suci!"