Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
POV Prince


__ADS_3

Aku sangat shock saat menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri bahwa istriku tidur bersama iparku sendiri. Suami dari Alzana.


Rasanya remuk redam hati ini. Belum lagi sempat memutuskan apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan yang tidak berujung ini malah dihadapkan pada keadaan seperti itu.


Hancur hatiku.


Maira, istriku tidur bersama iparnya sendiri. Suami adiknya sendiri.


Maira bersedia disentuh oleh lelaki yang bukan mahramnya. Sedang dengan ku? Jangan kan untuk tidur, aurtanya pun tidak pernah terlihat olehku.


Aku tahu jika dia sangat mencintai dan menyukai Azka. Tetapi bukan dengan cara seperti itu. Tidakkah dia tahu, jika perbuatannya itu berimbas pada ku dan juga Alzana nantinya?


Cinta boleh. Tetapi jangan berlebihan. Aku pun mencitai Alzana. Tetapi aku tidak melakukan hal itu.


Aku menutup rapat hatiku agar tidak goyah karena Alzana lagi. Selama hampir tiga tahun ini aku berusaha menelusupkan nama Maira di dalam hatiku, walau terasa sulit. Tetap aku paksa.


Walau ku tahu, Alzana tidak akan tergantikan dengan yang lain. Termasuk itu Maira saudara kembarnya sendiri.


Cinta pertama sulit untuk dilupakan, tetapi bukan berarti harus melakukan tindakan dan perbuatan senonoh seperti itu.


Aku tidak habis fikir dengan keduanya. Aku juga seorang lelaki. Bohong jika aku tidak membutuhkan hal itu. Apalagi aku sudah menikah.


Wajar saja jika aku memintanya dari istriku. Tapi tidak. Aku sengaja menahan diriku agar diri ini tidak melakukan kesalahan yang akan merugikan mereka berdua.


Walau Maira istriku, tetap saja ia seperti menolak pernikahan ini. Ia menerima ku karena sedang terpukul dengan Azka yang lebih memilih Alzana daripada dirinya.


Aku sadar. Jika Maira sengaja menjaga jarak denganku. Ia ingin dirinya tetap suci apabila suatu saat nanti kami berpisah.


Jika aku memaksanya, sama saja aku dengan lelaki bajingan diluar sana yang menginginkannya karena naf su saja.


Aku tetap saja bersabar. Aku menahan diriku agar tidak memaksanya. Padahal sah sah saja kan jika aku meminta hak ku padanya?


Tapi tidak. Aku tetap menjaga dirinya seperti kata Ummi dulu.


"Jangan merusaknya jika kamu tidak menginginkannya. Hormati dan hargai keinginannya. Jika itu pilihannya, kamu harus bersabar. Mungkin dia bukanlah jodohmu. Jaga dirimu agar tidak merusaknya hingga waktu yang ditentukan."


Begitu kata Ummi dulu. Dan aku memegang kata-kata itu di dalam hati dan pikiranku. Bohong jika aku tidak menginginkan Maira.

__ADS_1


Aku tidak munafik. Aku seorang lelaki dewasa yang sudah berumah tangga. Sudah menjadi hak ku untuk mendapatkannya dari Maira. Tapi tidak.


Aku tidak bisa melakukan hal itu.


Aku menahan diriku untuk tidak merusaknya. Aku akan tetap menjaganya sampai pernikahan ini menemukan muaranya berlabuh kemana.


Aku ingin Maira tetap suci saat nanti berpisah denganku jika memang ia tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak akan memaksanya.


Buat apa dipaksa jika ujungnya dia menderita?


Lebih baik aku menahan diri dan menjaganya saja. Aku melakukan puasa setiap senin dan kamis.


Aku selalu menghindari Maira jika ha srat ku tiba-tiba muncul tanpa ku sadari.


Tapi anehnya aku malah menginginkan Alzana. Setiap kali melihat Alzana yang tidur pulas, aku selalu menginginkannya.


Aku menahan diri agar tubuh ini tidak menyentuhnya. Aku tidak ingin kami berkubang dalam dosa.


Cinta.


Tetapi harus secara sah bila ingin disentuh. Aku tidak bisa merusaknya. Aku seringkali mendengar bisikan setan terkutuk untuk menyentuh Alzana, tapi akal sehatku berfungsi.


Tetapi aku tidak melakukan hal itu. Karena aku menjaganya dan tidak ingin merusaknya.


Bisa saja jika aku gelap mata, dan aku menodai Alzana agar aku bisa menikahinya. Tapi tidak. Aku tidak ingin melakukan hal itu.


Karena ku tahu akibat dari perbuatan haram tidak akan pernah diridhoi oleh Allah dan juga kedua orang tua kita.


Aku sadar diri. Aku bukanlah pria yang taat dan kuat imam. Iman ku sangat tipis setipis kulit bawang.


Tapi akal sehatku berfungsi. Sebelum aku melakukan tindakan itu, aku memikirkan baik dan buruknya untuk kami berdua.


Jika itu merugikan untuk pihak wanita, aku tidak mau. Aku menginginkan wanita yang mau menerima ku apa adanya. Tanpa paksaan.


Tapi tidak dengan Maira. Ia selalu menolakku dan menjauhiku jika saat berada di apartemen. Maka dari itu aku tidak ingin melakukan kesalahan seperti itu.


Azka tidaklah salah dalam hal ini. Ia dijebak oleh temannya sendiri saat ia melakukan perjanjian kerja sama di sebuah Club.

__ADS_1


Azka yang tidak bisa menahan hasratnya. Ia malah melakukan tindakan haram itu pada istriku yang merupakan saudara kembar istrinya.


Dia sadar betul jika itu Maira. Tapi kenapa dia tetap melakukannya juga?


Kejadian itu tidak hanya dirinya saja yang andil. Sangat terlihat jelas, jika Maira pun ikut andil. Dengan kata lain, Maira bersedia dan ikhlas memberikan tubuhnya pada Azka atas dasar cinta.


Tanpa memikirkan sebab dan akibat yang akan ia dapatkan kedepannya.


Dan ya, kita sekarang mendapatkan hukuman perjanjian yang sudah ter ikrar dulunya.


Kami berempat harus menerima keputusan ini. Kami harus menerima konsekuensi dari perbuatan keduanya.


Aku tidaklah suci seperti pemikiran mereka. Aku juga kotor.


Aku juga pernah dijebak oleh salah satu teman ku. Bahkan aku lebih parah dari Azka. Aku dicekoki obat haram itu dengan dosis tinggi.


Jika bukan karena aku masih sadar dan ada Shan yang menolongku waktu itu, mungkin aku juga sudah menodai anak gadis orang.


Aku sadar saat diriku bereaksi aneh. Oleh karenanya aku selalu berzikir dan memohon pertolongan dari Allah agar aku terlindungi dari hal jahat yang akan merugikan ku dan juga gadis yang akan aku nodai.


Dan benar. Allah menolongku. Allah mengirimkan Shan datang padaku. Dialah yang membawaku pulang ke apartemen dengan tubuh yang semakin tidak karuan.


Shan saja sampai kewalahan menangani diriku. Ia terpaksa memukulku hingga pingsan saat itu. Jadilah aku berhenti.


Namun, ketika aku sadar. Aku kembali lagi. Shan yang sudah tahu apa yang harus ia lakukan, segera menangani diriku dengan baik.


Aku selamat dari marabahaya yang akan merugikan diriku. Dan juga merugikan orang lain.


Setidaknya ketika obat itu berpengaruh di tubuh kita, kita masih punya hati dan pikiran untuk berfikir dan berzikir memohon pertolongan Nya.


Allah pasti menolong. Yakinlah itu.


Tetapi tidak dengan Azka. Entah apa yang terjadi padanya, aku pun tidak tahu. Yang jelas, karena kesalahan keduanya, kini aku dan Alzana pun menanggung akibatnya.


Kami harus melakukan apa yang sudah menjadi kesepakatan jika salah satu dari kami melakukan kesalahan fatal seperti yang Maira dan Azka lakukan saat ini.


Ya, aku pasrah.

__ADS_1


Aku ikhas.


Inilah tujuan Allah memberikan cobaan padaku. Agar aku kuat untuk Hari setelah tiga bulan lagi..


__ADS_2