Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Bicara bersama


__ADS_3

"Abi benar. Segala sesuatunya sudah menjadi ketetapan. Ayo kita istirahat Bi. Kamar Abang diatas."


"Hem," jawab Abi Raga begitu merasakan lelah di tubuhnya


Keduanya pun langsung saja beristirahat karena sudah menunjukkan waktu tengah malam waktu Singapura.


Prince tidur dengna pikiran melayang pada alzana, Maira dan azka yang kini entah apa terjadi dengan mereka bertiga.


Hal tidak di duga olehnya saat ini terjadi. Benar seperti kata Maira dulu. Bahwa Azka merupakan jodohnya. Sekuat apapun ia menahna dna mengikatnya dnegan Alzana, maka Azka akn tetap kembali padanya.


Prince tersenyum, "Jodohku, jodoh yang Tertukar.." gumamnya dengan mata yang terpejam.


Abi Raga menarik ujung bibirnya membentuk senyuman mendengar gumaman lirih Prince.


Kamu benar Nak. Jodoh kamu itu tertukar. Karena kami tahu jika jodoh kamu itu adalah Alzana. Selamat berbahagia Nak.. Semoga kamu kuat menghadapi hari-hari berikutnya yang tersisa hanya tiga bulan lagi. Batin Abi Raga tersenyum melihat Prince sudah terlelap.


Keduanya terlelap mengarungi mimpi untuk menunggu esok hari yang belum pasti bisa mereka lewati.


Karena akan banyak cobaan yang terjadi untuk Prince dan Alzana di ke esokan harinya.


*


*


*

__ADS_1


Keesokan harinya.


Alzana yang sudah bersiap ingin menemani papi Tama segera keluar dari kamarnya. Semalaman ia tidak tidur memikirkan kemana harus dibawa hati dan juga pikirannya yang sellu memikirkan Azka dan Prince.


Apa yang harus ia lakuakn jika bertemu Azka? Sanggupkah dirinya?


Akanakah Prince selalu ada bersamanya sampai tiga bulan ke depan?


Tiga bulan ke depan hari-hari yang sulit untuknya. Hari yang tersisa sedikit sebelum ke emaptany di buang karena hukuman yang mereka dapatkan.


"Sudah siap, Dek? Kalau sudah, ayo! Abi dan Abang mu sudah menunggu kita saat ini." Imbuh Papi Tama pada Alzana yang diangguki olehnya.


Keduanya punkeluar. Tiba di depan pintu, mereka berdua sudah berpapasan dnegan Prince dan abi Raga.


Ada dua orang lagi yang membuat Alzana merasakan sesak yang tiada tara. Kedua orang itu berpeganagn tanagn sanagt erat dengn tatapan mata nanar padanya.


"Ayo, Pi!" ajakanya yang diangguki papi Tama.


Pemuda tampan yang masih tampan di usia tua nya itu merangul bahu putri bungsunya itu. Mereka berjalan sambil bercerita mengabaikan Azka dan Maira yang kini menatap mereka dengan sendu.


Begitu pun dengan Prince. Ia pun merangkul bahu Abi raga yang setara tinggi dengannya. Keduanya terlihat seperti kembar berbeda usia.


Prince tertawa saat Papi Tama mengejeknya dengan menagtakan jika dirinya merupakan kembaran Abi Raga.


Sepanjang perjalanan turun ke lobi, kedua paruh baya itu terus memebuat leleucon yang akhirnya bisa menimbulakn gelak tawa untuk mereka semua.

__ADS_1


Terkecuali Azka dan Maira.


Keduanya menatap ke empat orang itu dnegan sendu. Maira menunduk menahan sesak didadanya. Azka mengelus pundaknya.


Bahkan ketika di dalam Lift pun, Prince dan Alzana selalu kebagian berdua. Jika Maira berada di depan Azka, maka Alzana pun berada di depan Prince yang kini sedang berbicara dengan kedua paruh baya beda usia itu.


Ketika berada di lobi, Azka memeiliki kesempatan untuk bisa berbicara dengan Alzana dan Maira dengan Prince.


"Za.."


"Bang Prince.." panggil keduanya yang membuat kedua orang itu berhenti seketika.


Keduanya menoleh. "Kami ingin berbicara dengan kalian. Apa boleh?" tanya Maira takut-takut.


Prince menatap datar pada Azka. Ia mengangguk setuju. "Kita duduk di sana!" tunjuknya pada sofa yang tersedia di lobi apartemennya itu.


Setelah keduanya duduk dengan saling berhadapan, Prince angkat bicara. "Apa yang ingin kalian bicarakan? Waktu kita tiak banyak. Abi da Ppai hanya memberi waktu lima belas menit saja!" tunjuk Prince pada layar ponselnya yang mana pesan dari papi Tama padanya baru saja.


"Baik. Kami ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Kami.."


"Sudahlah Azka. Semuanya sudah terjadi saat ini. Kamu dan Maira sudah menikah tadi malam. Dan aku dengannya sudah tidak ada hubungannya lagi. Begitu pun dengan Alzana. Kamu sudah menceraikannya hampir dua tahun yang lalu. Dan semua yang terjadi ini sudah suaratan Takdir untuk kita semua.


Tak apa. Kami berdua ikhlas. Bukanakah ini yang menjadi keinginan kamu Maira?"


Deg!

__ADS_1


Maira mendongak melihat Prince yang kini menatapnay masih seperti biasa. Tatapan lembut dna teduhnya yang membuat Maira satu malaman tidak bisa tidur dan sangat merasa bersalah.


__ADS_2