Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Makanan


__ADS_3

Pukul tujuh pagi Alzana sudah siap dengan rantang dan semua makanannya. Azka tersenyum melihat semangat Alzana yang begitu membara karena ingin mengantar makanan itu kerumah sakit.


Mami Annisa dan Papi Tama hanya bisa menghela nafasnya. Inilah yang terjadi jika putri keduanya bertingkah.


Selalu saja begitu. Alzana selalu mengalah pada Almira. Sekali ini pun begitu. Mami Annisa sudah sering memperingatinya.


Tetap saja, Maira tetap seperti itu. Keras kepala, obsesian, dan pembangkang. Papi tama tidak tahu lagi harus berbicara apa kepada putri keduanya itu.


Benar kata orang. Banyak anak, pasti salah satunya ada yang tidak beres. Dan ya, Papi Tama dan mami Annisa merasakan nya pada anaknya sendiri.


Azka tersenyum teduh pada Alzana. "Ayo bang. Aku sudah siap!"


"Tapi nak, kamu belum tidur loh sejak tadi malam!" larang Mami Annisa pada Alzana.


"Tenang Mi.. Nanti kakak tidur di mobil. Kan butuh waktu dua puluh menit untuk sampai dirumah sakit? Kakak bisa istirahat sebentar kok." balasnya yang membuat Mami Annisa hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ya sudah. Pergilah. Berikan makanan itu pada kakak mu. Dan juga makann satu itu khusus untuk Abang mu. Sengaja Mami buat untuknya.." lirihnya mendadal sendu.


Azka mengernyitkan dahinya saat melihat mertuanya itu sedih ketika menngingat Prince.


Kenapa?


Apa aku ketinggalan sesuatu?? Hingga ada yang terlewat? Kenapa Mami terlihat begitu sedih saat menyebut nama Abang sepupu Alzana?

__ADS_1


Ada apa ini?


Batin Azka menatap mertuanya dengan heran.


"Ayo Bang. Nanti kelaman di jalannya karena di jebak macet!"


Azka mengangguk, "Ya, Papi.. Mami.. Kami pergu dulu. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam.. Hati-hati! Salam untuk Abang mu ya?"


"Iya Pi! Pasti." Jawab Alzana dengan segera berlalu meninggalkan kedua orang tua nya dengan riang.


Azka tersenyum melihat itu walau ada rasa tercubit dihatinya saat melihat wajah riang sang istri saat ingin bertemu dengan sepupu yang merupakan cintanya.


Tiba dirumah sakit barulah Azka membangunkannya. Keduanya masuk kedalam ruangan dimana Prince sedang memegang perutnya yang terluka dan meringis menahan sakit.


Alzana terkejut melihatnya. Ia melirik Maira yang saat ini sibuk dengan ponsel miliknya. Kadang ia tertawa dan tersenyum sendiri.


Membuat Alzana sangat kesal padanya.


"Assalamu'alaikum bang!"


Deg!

__ADS_1


Prince dan Maira bersamaan mendongak melihat alzana dan azka yang baru saja tiba dengan membawa makanan.


Mata maira berbinar melihat rantang yangada ditangan alzana khusus untuk Prince dari Mmai Annisa.


"Waalaikuam salam! Wooaahh.. Kebetulan sekali nih. Kami belum sarapan pagi!" celutuknya dengan segera mengambil rantang yangada di tangan alzana dengan cepat.


Ktrak.


Rantang itu bergoyang di tangan Alzana yang kini menatap datar padanya.


Maira kebingungan, "Kenapa? Makanan ini untuk kami kan ya? Kenapa kamu menahannya? Jangan bilang jika kamu yang ingin menyuapi SUAMI KU sarapan pagi?!" tuduhnya pada Alzana yang membuat Prince dan azka saling menatap satu sam lain.


"Kalau iya kenapa? Masalah buat kakak? Toh, makanna ini khusu buat Abag dari mami kok. Bukan buat kamu! Noh, sama Bang Azka punya kamu!" ketusnya sambil menarik paksa rantang itu dari tangan maira yang kini mengepalkan kedua tangannya.


"Berhenti Al!"


"Nggak akan!"


"ALZANA!"


"Jangan memancingku disini kakak! Jika kamu ingin ribut dengan ku, ayo kita pulang! Selesaikan masalah kita ini dirumah! Bukan disini! Disini rumah sakit! Yang kayak kamu itu tidak tahu sopan santun saja ingin bertengakr pagio-pagi dengan ku! Ingat kak. Rumah tangga itu tidak akan berkah jika di dalamnya terus di isi dengan pertengkaran seperti yang kamu lakuakn saat ini!"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2