
Dua hari kemudian.
Setelah percakapan dirumah sakit waktu itu, kini mereka berempat sedang berada di Bandara dan akan segera berangkat ke Singapura.
Mami Annisa memeluk kedua putrinya. Begitu pun dengan Papi Tama. Banyak sekali petuah dan nasehat yang ia berikan kepada mereka berempat.
Mereka bertiga mengangguk patu. Tidak dengan Almaira. Sedari dua hari yang lalu, pikirannya sedang memikirkan bagaimana caranya menggaet Azka yang merupakan suami adiknya.
Lelaki yang ia cintai. Ia tidak peduli pada Prince yang kini sedang menatap kedua orang itu dengan sendu.
Ummi ira memelkuknya dan berbisik lirih. "Ikhlaskan nak. Jika memang sepupu kamu itu jodoh kamu, maka ia akan kembali padamu. Berdoalah. Doa bisa mengubah takdir, Nak. Ummi yakin. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Obati Maira hingga sembuh. Ubah dirinya menjadi pribadi yang baik. Agar kelak, kalau misal kalian tidaklah berjodoh. Maka akan ada lelaki yang mau dengannya. Percayalah pada Allah, nak." Nasehat Ummi Ira pada Prince yang kini mengangguk patuh.
Prince hanya bisa pasrah saat nasehat demi nasehat ia dengar. Sebenarnya ia tidak yakin bisa merubah sifat Maira. Karena ia sangat yakin, jika Maira tidak pernah bisa berubah.
Apapun yang menjadi keinginannya harus dia dapatkan. Dan Prince sangat tahu akan hal itu.
"Abang tidak yakin Ummi.. Tapi Abang akan berusaha untuk membawanya ke jalan yang benar. Selagi abang bisa, maka Abang akan menyadarkannya. Tetapi jika Abang sudah tidak tahan dengan kelakuan nya itu, maka abang akan mengembalkikannya kepada papi Tama saat itu juga." Tegas prince yang diangguki oleh Ummi Ira.
__ADS_1
"Tentu sayang. Kalau sudah sampai, segera hubungi kami. Ummi akan sangat merindukanmu putraku. Jangan lupakan Ummi.. Nak.."
"Abang pun begitu Ummi.. Ummi wanita pertama yang abang cintai. Mana mungkin abang melupakan Ummi. Ya sudah, kami pamit Ummi, abi, papi dan mami. Abang pamit. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam.." sahut ke empat paruh baya yang kini menatap nanar pada mereka berempat.
Azka, ia pun harus ke Singapura karena tugasnya memanglah disana. Ia ditugaskan oleh Rayyan untuk menjadi salah satu wakil dari indonesia di perusahaan cabang miliknya yang ada di Singapura.
Dan Alzana sendiri memanglah akan kuliah di Singapura sesuai dengan yang ia sepakati bersama Prince dulunya.
Alzana ingin menjadi dokter anak. Dan itu ada di Singapura. Tempat yang sama dengan Prince menuntut ilmu saat ini.
Ke empat paruh baya itu mematung melihat pesawat yang di tumpangi ke empat anaknya mengudara di langit Medan menuju langit Singapura.
Dimana mereka berempat saat ini akan membina rumah tangga nya disana sekaligus menuntut ilmu disana.
Mami Annisa menatap sendu pada Ummi ira. "Kak.. Maaf.. Aku gagal membuat Alzana menjadi istri Prince.. Aku gagal kak.." ucapnya yang disambut dengan pelukan hangat oleh Ummi Ira.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang. Kita bicara di dalam mobil saja." jawab Ummi Ira masih merangkul adik bungsunya itu.
Mereka berempat jalan beriringan dengan dua wanita itu berada di depan dua lelaki tampan berbeda usia itu.
Tiba di dalam mobil, ke empatnya mulai berbicara membahas kedua anak mereka yang saat ini berada di singapura. Masih dalam perjalanan.
"Aku harus apa kak, jika semua ini sudah terjadi? Aku tidak masalah jika Prince menikahi Maira. Yang aku khawatirkan itu Azka."
Ummi Ira mengernyitkan dahinya bingung. "Ini maksudnya gimana? Kamu setuju Maira menikah dengan Prince dan sekarang yang kamu khawatirkan Azka? Kenapa?" balas Ummi Ira yang disambut anggukan oleh kedua lelaki di depan mereka saat ini.
"Bagaimana tidak khawatir kak. Aku sangat mengenal kedua putriku. Yang satu pengalah dan yang satu lagi perebut. Yang aku khawatirkan Azka. Ia pasti akan terjebak dengan kedua putriku." jelas mami Annisa yang diangguki oleh Ummi Ira karena ia baru paham apa maksud mami Annisa dengan ucapannya itu.
"Serahkan semuanya sama Allah, Dek. Jika memang ketetapan itu sudah dibuat maka akan seperti itu. Kita tidak bisa merubahnya. Kita hanya bisa berdoa demi kebaikan mereka berempat. Semoga salah satu dari mereka tidak membuat masalah yang membuat kedua lelaki dewasa itu bisa bertahan dengan mereka."
"Betul itu. Dan abang pun sudah berjanji. Jika sampai Maira membuat ulah dengan cara merebut lagi seperti yang sudah-sudah. Maka tangan abang sendiri yang akan menghukumnya. Kalian tidak perlu khawatir. Percaya saja kepada mereka berdua. Kedua lelaki itu tahu apa yang akan mereka lakukan jika itu sampai itu terjadi." Timpal papi Tama yang diangguki oleh ummi Ira.
"Tapi aku tidak yakin dengan salah satu putri kita Bang. Aku sangat mengenal dirinya. baik dan buruknya itu aku sangat tahu. Semoga ia tidak membuat masalah yang membuat hubungan ke empatnya retak. Karena jika sampai itu terjadi.. mungkin aku akan menghilang dari muka bumi ini karena merasa malu memiliki putri yang terlahir dari rahimku tetapi kelakuan seperti wanita kafir yang kerasukan iblis!" ucap mami Annisa yang membuat ke tiga paruh baya itu tertegun memikirkan ucapan mami Annisa baru saja.
__ADS_1
Benar yang mami Annisa katakan. Orang tua mana yang tidak malu memiliki anak berkelakuan seperti iblis. Hobinya kok malah ingin merebut hak saudara nya sendiri.
Bukankah itu sangatlah egois?