
"Tunggu dulu Za. Dengarkan dulu penjelasan ku. Bukan maksudku untuk menjatuhkan talak padamu. Tetapi itu hanya-,"
"Bukan maksud katamu? Lantas kata pisah yang kamu sebut dihadapan Prince dan kekasih kamu tadi apa? Becanda gitu?? Hehh! Bisa-bisanya sudah mengucapkannya tapi sekarang katanya tidak bermaksud?? Maaf Tuan Azka! Anda bukanlah suami saya lagi di mulai detik ini! Anda bebas ingin bermesraan dengan istri orang! Silahkan! Tidak masalah untuk saya. Toh, selama saya disini Anda tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin untuk saya. Anda malah memberikan nafkah lahir yang hak nya untuk saya, malah kamu berikan untuk orang yang sudah membuat kamu terhibur!" Potong Alzana dengan segera berlalu dan meninggalkan Azka disana seorang diri dengan raut wajah yang entah seperti apa.
Ia terkekeh saat Alzana mengatakan hal itu padanya. "Kenapa? Kamu cemburu pada saudara mu sendiri? Karena saudaramu lebih bisa membuatku nyaman dan betah disaat bersamanya??"
Deg!
Alzana menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik melihat Azka yang kini sedang melihatnya dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.
Alzana menatap dingin dan marah pada Azka yang sudah berani menyebut kata 'Nyaman' saat ini.
"Ya, aku cemburu! Karena suamiku lebih nyaman bersama saudara kembarku! Aku cemburu karena nafkah untukku, kamu bagi untuk saudaraku! Kasih sayang, perhatian semua kamu bagikan untuknya! Yang tersisa hanya kebencian untukku di hatimu! Padahal kamu tahu sendiri, jika aku sudah berulang kali mengatakannya padamu, bahwa aku akan belajar mencintai dan juga menjadi istri yang baik untukmu!"
"Mari kita lupakan masa lalu. Itu yang aku katakan dulu padamu. Tapi apa yang kamu katakan padaku? Heh? Kamu mengatakan jika aku ini sangat tidak peka! Tukang atur dan tukang paksa! Boleh aku tanya?? Bagian mana aku memaksa kamu? Bagian mana aku mengatur kehidupan mu seperti saudara kembarku mengatur kamu? Di bagian mana nya yang aku tidak peka dengan keadaan mu? Bisa kamu jawab tuan Azka Dharmawan??!" seru Alzana dengan suara naik satu oktaf.
Azka tertegun mendengar ucapan Alzana. Benar kata Alzana, semua yang dia katakan dihadapan Prince karena rasa kesalnya akibat Alzana membuatnya sebagai pelarian dari Prince, Abang sepupunya.
"Kenapa kamu diam?! Jawab!" seru Alzana lagi.
Nafasnya memburu dengan air mata yang sudah berlinangan.
"Aku menikahimu bukan karena pelarian! Kamu salah paham padaku! Jika aku menganggap mu pelarian, maka aku tidak akan tinggal di dekatnya! Aku rela memberikan apa yang aku punya kepada saudara kembarku, karena ku tahu dia butuh Prince dari pada aku yang sehat ini. Tapi kamu? Apa yang kamu lakukan saat ini? Kamu mengatakan jika kamu lebih nyaman bersamanya? Bersama istri orang begitu?? Dalam konteks apapun berduaan dengan istri orang lain yang merupakan saudara ipar sendiri itu sudah zina! Kau sudah berzina dengannya!"
__ADS_1
"Aku tidaklah sesuci kalian! Tetapi aku bisa menjamin jika tubuhku tidak pernah disentuh oleh Prince sedikit pun selain saat kau melihatnya tadi dan juga saat dilantai balkon hotel keluarga kami! Aku tahu diriku ini tidak bisa membuatmu nyaman seperti saudara kembarku Baik, mari kita putuskan! Tidak perlu menunggu hingga sampai aku tamat sekolah. Sekarang, aku minta kamu lepaskan aku! Talak aku dengan talak tiga. Agar di kemudian hari aku tidak akan pernah menikah dan kembali lagi bersama mu apapun yang terjadi!"
Ddduuaaarr!!
Brruk!
Azka terhenyak mendengar ucapan Alzana. Ia jatuh terduduk di sofa apartemennya. Alzana mengusap bulir bening yang semakin deras mengalir di pipinya.
Alzana melangkah ke pintu dan membukanya. Tapi sebelum ia keluar, ia menoleh sekali lagi pada Azka yang kini terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Terimakasih karena kamu sudah membuktikan apa yang selama ini ada di pikiran ku. Bahwa lelaki itu semuanya sama. Mereka butuh wanita hanya untuk kenyamanan sesaat saja. Ketika dia sudah mendapatkan gantinya, rasa nyaman yang lain itu ia buang bagaikan sampah!"
Deg!
"Aku memang tidak sebaik dan senyaman saudara kembarku. Tapi paling tidak, aku tidak pernah melakukan kesalahan dengan Prince seperti yang kamu lakukan dengannya. Terimakasih, karena aku menikah dengan mu aku bisa belajar untuk lebih memantaskan diri ini. Terimakasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan sesaat sekaligus luka dihatiku. Aku tidak akan pernah kembali lagi padamu, walau kedua orang tuaku bersujud di hadapanku dan juga bumi ini runtuh, aku tidak akan mau. Pantang bagi seorang Alzana jika sudah lepas dari orang itu, maka selamanya tidak akan pernah kembali! Dan ya, daripada kamu berbuat zina dengan saudara kembarku, lebih baik kamu menikahinya segera! Jika nantinya kita berpapasan di jalan atau di mana pun, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal! Karena aku tidak akan pernah mau mengenalmu lagi bang Azka! Selamat tinggal.. Semoga kamu bahagia dengan pilihan hatimu.. Aku pergi.. Terimakasih karena kamu sudah memberikan luka yang begitu dalam dihatiku ini.."
Ceklek!
"Haahhh..." Azka menghela nafas sesak.
Ia menangis. Dari tangisan menjadi terisak. Dari isakan menjadi tersedu. Dari tersedu menjadi jeritan yang sangat memilukan hati.
Alzana luruh ke lantai saat pintu apartemen itu tertutup. Ia pun tak kalah hancur dari Azka saat ini.
__ADS_1
Ia terisak-isak, tersedu dan menahan rasa sakit seorang diri di pintu apartemen itu. Sekuat tenaga ia berjalan sambil memegangi dinding agar ia kuat.
Ketika ia melewati apartemen Prince, lagi hati itu terluka dan semakin menangis pilu.
Tiada guna lagi aku disini. Semua impianku hancur dalam waktu enam bulan saja. Aku di talak sebelum aku bisa berhasil meluluhkan hatinya.
Aku harus apa sekarang? Kemana aku harus pergi?? Sementara aku tidak punya tempat lagi disini. Haruskah aku menghilang dari muka bumi ini?
Tidak! Aku bukan wanita lemah! Aku Alzana Puteri Pratama. Keturunan Pratama tidak boleh lemah hanya karena hal kecil seperti ini.
Aku harus bangkit!
Patah satu tumbuh seribu!
Pantang bagiku kembali dengan orang yang sudah melepaskan ku demi orang lain!
Selamat tinggal Bang Azka!
Semoga kamu bahagia bersamanya..
Bang Prince.. Hiks.. Adek pamit.. Semoga Abang bahagia dengannya. Jika ada umur panjang, kita pasti berjumpa lagi..
Batin Alzana meraung pilu. Ia melipir sambil terisak-isak di dinding apartemen yang selama enam bulan ini ia tempati bersama sang suami yang telah menceraikan dirinya.
__ADS_1