
"Ya sudah, istirahatlah. Papi dan Alzana akan kembali ke apartemen kamu, Dek. Ayo!" katanya pada Prince dan Alzana.
"Iya Pi. Abang disini bersama Abi. Abang ingin ngomong sama ummi dan mami sebentar."
Papi Tama mengangguk. Beliau segera berlalu dan masuk ke apartemen sebelah, dimana tempat Alzana selama ini tinggal setelah di talak oleh Azka.
Prince menghela nafas panjang. "Abi.. Ummi Mami.. Maafkan Abang yang gagal menjaga mereka berdua. Abang telat Mi.." lirih Prince dengan raut wajah sendu.
Ummi Ira tersenyum lembut padanya. "Tak apa Nak. Kamu nggak gagal kok. Itu memang sudah keputusan takdir untuk keduanya. Ummi akui, cara keduanya salah. Tetapi jalan yang Allah berikan itu sudah benar."
"Betul itu. Kamu jangan khawatir Bang. Terlepas dari perbuatan keduanya, mereka memang sudah ditakdirkan bersama. Semua itu sudah ketetapan. Jangan bersedih. Bukankah itu bagus untukmu dan Alzana? Kalian bisa menikah setelah ini." Timpal mami Annisa yang diangguki oleh Ummi Ira.
"Itu memang benar mami. Tapi Abang bisa melihat Alzana sangat terpukul dan tertekan. Abang sangat tahu dirinya selama dua tahun ini. Ia begitu menutup diri dari siapapun. Berharap, jika Azka bisa kembali padanya. Tetapi nyatanya?"
__ADS_1
"Sabar bang. Adik kamu itu hanya sedang kecewa dengan jalan takdir hidupnya. Mami yakin. Kalau dia masih mencintaimu hingga saat ini. Alzana tipe wanita setia bang. Ia menurun dari Mami. Cukup satu orang lelaki dan tak akan tergantikan. Kakak begitu juga kan?" katanya pada Ummi Ira.
Yang diangguki olehnya. "Benar. Cukup Abi kamu saja. Ummi tidak ingin yang lain. Memang benar katanya, cinta pertama itu sulit untuk dilupakan."
Prince terkekeh, "Ummi benar. Mami pun benar. Ya sudah. Abang sama Abi istirahat dulu ya?"
"Iya sayangku. Jaga diri. Lusa papi dan Abi akan kembali ke Indonesia. Kalian akan ditinggal lagi setelah ini. Mami harap, kalian berempat tidak melakukan kesalahan lagi. Terutama kamu Bang!"
"Iya mami. Abang tidak akan melakukan hal yang merugikan kedua orang tua dan juga kami sendiri. Abang tutup, assalama'alaikum."
Tut.
Sambungan ponsel keduanya terputus. Abi Raga tersenyum pada Prince yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Allah mendengar doamu, Nak." Ucapnya sambil memeluk erat tubuh Prince yang kini terisak.
"Iya bi. Abang bahagia.. Sangat bahagia.. penantian Abang selama ini sudah membuahkan hasil yang nyata."
"Maka dari itu, kamu haras bisa menjaga diri. Jangan berteman lagi dengan orang yang salah. Untungnya Ummi kamu tidak tahu tentang kejadian itu. Jika sampai ummi kamu tahu, Abi yakin. Ummi kamu yang akan menjaga kamu disini."
Abi Raga tergelak. Prince terkekeh. Ia menyusut bulir bening yang mengalir di pipinya.
"Abi benar. Semua ini Abang jadikan pelajaran untuk ke depannya. Setelah ini, Abang akan bersikap seperti abi. Dingin dan cuek. Bahkan akan lebih dingin lagi."
Abi Raga tergelak lagi.
"Tanpa kamu bersikap seperti itu pun, kamu sudah menjadi Abi, Nak. Jiwa abi ada padamu. Abi pun pernah dijebak seperti kamu. Jika telat sedikit saja waktu itu, Maka bukan hanya ummi kamu yang hancur. Maka Abi pun ikut serta." Ujarnya mengingat masa lalu dimana beliau dulu pernah dijebak oleh rekannya sendiri.
__ADS_1
Prince tersenyum mengingat kisah itu. Sang abi sudah menceritakan semuanya kepadanya. Bagaimana penjebakan itu terjadi saat beliau kuliah di London dulunya demi bisa menyembuhkan Ummi Ira yang terluka akibat dirinya dan juga kedua orang tua yaitu kakaek dan neneknya Prince dulu yang kini sudah tiada.