Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Pertikaian dua saudara


__ADS_3

"ALZANA!" teriak Maira dengan wajah memerah.


Prince dan azka menatap terkejut pada maira saat ini.


"Na.."


"Za.." panggil kedua pemuda itu bersamaan yang membuat Maira naik darah.


"ALZANA!!!" Teriaknya lagi yang membuat Alzana berbalik dan melihat padanya. Ia menatap datar dan dingin pada Maira.


Maira tersentak melihat wajah Alzana yang sangat mirip dengan Prince jika sedang marah. Ia terpaku di tempat melihat tatapan tajam dari Alzana untuknya.


"Jangan memancingku disini kakak! Jika kamu ingin ribut dengan ku, ayo kita pulang! Selesaikan masalah kita ini dirumah! Bukan disini! Disini rumah sakit! Yang kayak kamu itu tidak tahu sopan santun saja ingin bertengkar pagi-pagi dengan ku! Kalau kamu lapar, ada rantang lain. Jangan yang ini. Ini khusus buat abang yang sedang sakit! Sadar kak. Kamu itu sudah besar. Jangan lagi berebut dengan ku dalam segala hal. Cukup sudah selama ini aku bersabar karena ulah mu itu!"


"Aku datang kesini untuk mengantar makanan untuk abang sepupuku-,"


"Prince suamiku Al kalau kamu lupa!" ketusnya tajam pada Alzana.


"Aku tahu itu tanpa kamu katakan. Jika bukan karena ulah mu, mungkin Bang Prince tidak akan pernah menikah dengan mu!"


"Alzana!!"


"Apa?!! Kamu tidak suka? Apa yang kamu tidak suka dariku Almaira?! Apa karena aku merebut cintamu? Atau karena aku bisa memiliki hati keduanya? Iya?"

__ADS_1


Ddduuuaaarr!!


"Na!"


"Za!" seru kedua lelaki itu.


"Berhenti kalian untuk ikut campur! Terutama kamu Bang!" Ucapnya pada Prince yang kini menggeleng padanya.


Alzana tidak peduli. Baginya, kali ini Maira harus di sadarkan. Apapun resikonya akan ia hadapi. Mengingat airmata Prince tadi malam begitu membuatnya terluka dan sangat sakit hati karena telah salah mengambil langkah hingga harus menikah dengan Azka.


Maira mengepalkan kedua tangannya. Ia maju dan segera melayang kan tangannya ke pipi Alzana.


Plak.


Plak.


Plak.


"Na!"


"Za!" seru kedua lelaki itu lagi dengan segera mendekati Alzana yang jatuh tersungkur dengan bibir terluka.


Alzana spontan saja mengacungkan tangannya hingga kedua lelaki itu mematung seketika tidak berani melangkah mendekatinya lagi.

__ADS_1


Alzana mendogak melihat Maira yang kini semakin emosi karena melihat dua lelaki yang ia inginkan malah memilih adiknya lagi bahkan secara terang-terangan.


Alzana terkekeh, "Kenapa berhenti? Ayo pukul lagi! Bukankah jika aku mati kamu bisa puas?!"


Deg!


"Kamu bisa mendapatkan apa yang ada di dalam otak sempit kamu itu?!"


Deg!


"Diam kau Alzana!" pekiknya


"Kau yang diam Maira!!!" balas Alzana tak kalah kuat dari suara Maira.


"Aku datang kesini bukan mencari masalah dengan mu. Tetapi ingin menyampaikan pesan mami untuk abang. Apa itu salah? Kalau iya, dimana salahnya? Bukankah aku ini masih adiknya walau aku sudah menikah dengan Bang Azka?? Huhh?"


Maira mematung seketika mendengar ucapan Alzana. Benar kata nya. Apa yang salah dengan itu? Ada apa dengan nya yang selalu tersulut emosi jika menyangkut Prince dan Azka?


Maira menatap datar pada Alzana. Alzana menangis. Ia bangkit dengan perlahan dan memegang rantang itu kembali.


Wajahnya tetap datar. Tidak ada rasa sakit sedikit pun saat pipinya panas seperti terbakar akibat tamparan dari saudara kembarnya.


"Aku datang kesini ingin memberikan abang makanan ini. Tetapi kak Maira malah salah paham lagi seperti yang sudah-sudah. Kalau dengan ku tidak jadi masalah. Bagaimana kalau terjadi di dalam rumah tangga kalian berdua?? Tidakkah kamu memikirkan itu kak? Ingat kak. Rumah tangga itu tidak akan berkah jika di dalamnya terus di isi dengan pertengkaran seperti yang kamu lakukan saat ini! Ini masih dengan ku. Kalau dengan bang Prince bagaimana? Mau kamu diceraikan olehnya sebelum waktunya??"

__ADS_1


Deg!


Maira mematung lagi mendengar ucapan Alzana yang memang benar adanya.


__ADS_2