Terpaksa Menikahi Sepupu

Terpaksa Menikahi Sepupu
Tetap di tempat yang sama


__ADS_3

Prince mengepalkan tangannya saat mendengar luapan hati Alzana kepada Azka yang ternyata Azka lah yang memulainya.


Pemuda dewasa itu marah padanya lantaran dirinya cemburu karena Alzana masih mencintainya.


Saat pintu apartemen Alzana terbuka, Prince segera berlari menuju apartemennya. Ia berdiri di depan pintu dengan tangan semakin mengepal erat ketika melihat cintanya itu terisak-isak sambil melipir di sisi dinding.


Ia memejamkan matanya untuk menahan amarah yang saat ini melanda hatinya.


Ia berbalik dan melihat Maira masih duduk dengan menunduk disana.


"Puas kamu? Ini kan yang kamu mau? Abang tidak menyangka jika sifat egois dan keras kepala kamu masih saja bertahan hingga saat ini. Sebenarnya apa tujuan mu ingin memisahkan Alzana dengan Azka? Ingin memiliki suaminya begitu dan membuangku karena telah berhasil mendapatkan cintamu??"


Almaira terkesiap mendengar ucapan Prince yang memang benar adanya. Prince tertawa hambar di dalam ruangan itu.


Ia tidak mengatakan apapun saat ini karena sedang memikirkan Alzana yang kini sedang melipir di setiap dinding apartemen mereka.


Prince melangkah pergi meninggalkan Maira. Tetapi sebelum pergi, Prince melihat sekali lagi kepada Maira.


"Jangan berani keluar selangkah pun dari kamar ini jika kamu tidak ingin melihat kemarahan Abang, Maira! Jika itu terjadi, Abang akan mengatakan kepada Mami dan Papi tentang kelakuan mu! Istirahat di dalam. Mengerti?" ucap Prince dengan suara dingin tapi sangat tegas hingga Maira tidak berani berkutik sedikitpun.


Ia mengangguk patuh dan segera masuk ke kamarnya. Prince segera mengunci pintu itu dan mengubah passwordnya.


Ia berlari menuju dimana Alzana saat ini. Ia terus berlari hingga melewati beberapa unit. Tiba di unit apartemen yang dekat dengan lift, Prince semakin mempercepat langkahnya kala melihat Alzana menangis tersedu sambil berjongkok.


Ia menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Prince sakit sekali melihatnya. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan Alzana.


Bau harum parfum yang sangat Alzana sukai tercium di hidungnya. Ia mendongak.

__ADS_1


Deg, deg, deg..


Lagi buliran bening itu semakin mengalir deras di pipinya saat melihat tatapan sendu Prince padanya.


"Hiks.. A hiks bang.. A hiks dek hiks ga-gal.." Alzana terdu lagi.


Bruk.


Kedua terjatuh. Alzana menubruk Prince hingga kedua nya jatuh terjengkang karena posisi yang tidak siap.


Prince memeluk Alzana dengan erat. Lagi, ini kali ketiganya Prince memeluk Alzana. Alzana terus tersedu di dadanya.


Prince hanya bisa mengelus lembut tubuh ringkih itu. Cukup lama keduanya di posisi itu. Hingga Prince sadar saat suara lift di samping mereka berbunyi.


Dengan segera Prince membawa duduk Alzana dan menyeka air matanya.


"Prince!" panggil seseorang di belakangnya. Prince tidak menoleh, karena ia mengenal siapa pemuda itu.


"Sudah dong! Ayo, pemiliknya sudah memberi izin sama kita! Emm.. Ini istri kamu?"


Deg!


Alzana mematung di tempat. Ia ingin tahu jawaban Prince apa. Apakah akan sama seperti Azka?


"Tolong bawa ini Shan. Ini adikku. Kamar apartemen yang aku sewa dulu sudah di tempati oleh orang lain. Jadi adikku tidak betah. Makanya pindah." Jawab Prince segera merangkul Alzana dan membawanya berjalan.


Mereka kembali menuju unit apartemen yang tadi. Alzana berhenti.

__ADS_1


"Tenanglah Na. Apartemen kamu bersebelahan sama punya abang. Kamu jangan takut. Ada pintu rahasia di kamar abang untuk menuju ke kamar kamu nanti. Ayo!"


Shan terkekeh. "Betul Dek! Abang kamu ini kalau cari apartemen selalu yang bisa membuatnya nyaman. Seharusnya apartemen ini milikmu sedari dulu. Tetapi karena katanya nih ya. Kamu sudah menikah, makanya ia menyewa yang satunya. Tepatnya di sebelah apartemen miliknya di sebelah sana. Sedang yang ini di sebelah kirinya. Maaf tadi abang salah kira. Abang pikir kamu istrinya, Na. Habisnya kalian sangat mirip sih. Kok bisa kamu tahu yang mana istri kamu dan saudaranya Prince?" tanya Shan yang merupakan tangan kanan serta sahabat Prince selama kuliah di sana.


Shan pun berasal dari indonesia juga. Alzana diam saja. Masih terdengar sesekali suara sesegukan di bibirnya.


Tetapi Shan tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Ia tahu sedikit tidaknya tentang dua saudara kembar istri Prince sahabatnya.


"Aku tahu perbedaan keduanya Shan. Yang mana istri dan juga saudaranya aku sangat mengenalnya. Bahkan mami dan papi pun tidak bisa membedakan keduanya. Tetapi aku bisa!" jawab Prince sambil terus berjalan masuk ke apartemen baru milik Alzana.


Alzana lagi dan lagi tertegun mendengar jawaban Prince. Benar. Hanya Prince yang tahu seperti apa dirinya, kesukaannya, pakaiannya, hingga segala sesuatunya tentangnya.


Bukan hanya itu, Prince bahkan tahu ukuran Cd dan kacamata kuda milik Alzana tanpa ia beritahu.


Segitu dalam kah kamu ingin bersama ku bang Prince? Sampai-sampai kamu tidak mengizinkan ku untuk pergi jauh darimu?


Tapi apa aku bisa Bang?


Batin Alzana menatap sendu pada Prince.


"Kamu bisa bisa Na. Abang tahu kamu seperti apa. Puteri kecilku tidak mungkin patah hanya karena cengkok cabang itu patah. Ingat Na. Patah satu tumbuh seribu!"


Alzana menunduk lagi. Seakan apa yang semua ia lakukan, Prince sangat tahu. Bahkan lebih tahu darinya.


Shan menuju lantai atas dimana kamar Alzana berada. Semua perabotan disana sudah di isi oleh Prince jauh-jauh hari. Karena ia pikir, jika ia akan tinggal di apartemen itu bersama Alzana setelah menikah nanti.


Tetapi tidak.

__ADS_1


Alzana menatap semua isi kamarnya yang sama persis seperti di Indonesia.


Aku pergi dari kehidupannya malah kembali ke kehidupan cintaku. Kita tidak akan bertemu lagi bang Azka. Kita memang di tempat yang sama. Tetapi kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah bertemu walau sekilas saja di hadapan mu.


__ADS_2