
Azka keluar dari pintu apartemennya bertepatan dengan Maira yang juga keluar dari sana. Azka keluar tidak melihat Maira yang berdiri mematung melihatnya.
Ia mendahului Maira yang terpaku melihatnya. Ia meninggalkan Maira yang masih tercengang melihatnya.
Sadar jika Azka sudah pergi, Maira mengikutinya dengan berlari-lari kecil tanpa berpamitan pada Prince yang kini mematung di depan pintu melihat kepergiannya.
Ia terus berlari hingga menuju lobi di mana Azka sedang menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
Maira tersenyum melihat pundak kekar itu. Ia mendekatinya.
Baru tangan itu ingin menyentuh pundak Azka, dirinya malah terdorong ke depan dan melewati Azka hingga jatuh tersungkur di hadapan Azka yang membuatnya terkejut bukan main.
Bruuk.
"Astaghfirullah ya Allah.. Sakitnya.. ssstt.." desis Maira saat merasakan jika buah melonnya mendarat lebih dulu di lantai.
Dagunya sedikit sakit akibat hantaman itu. Azka yang terkejut melihat Maira segera membantunya.
Deg, deg, deg..
Jantung Maira berdegup tidak karuan saat merasakan tangan hangat nan kekar pemuda dewasa itu menyentuh pundaknya.
"Kamu tak apa Ra?"
Deg!
Maira mematung mendengar ucapan Azka. Ia segera berbalik dan melihat Azka dengan lekat. Azka pun demikian.
__ADS_1
"Darimana Abang tahu jika ini Maira bukan Alzana?" tanya Maira yang kini masih menatap Azka dengan lekat.
Jantung itu bertalu-talu saking berdebarnya. Azka tersenyum. "Abang bisa membedakan kalian berdua. Wajah kalian memang mirip, tetapi cara kalian itu berbeda. Walau kamu sekilas terlihat seperti Alzana begitu pun sebaliknya tapi Abang bisa mengenali kamu." Jawabnya yang membuat jantung Maira semakin tidak karuan.
"Contohnya?" tanya Maira masih dengan menatap kedua mata coklat yang selalu membuat Almaira terpesona itu.
Azka terkekeh mendengar pertanyaan Maira padanya. "Haruskah Abang jawab?" balasnya sambil berlalu menuju mobil yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Ia segera masuk ke mobil itu dan meninggalkan Almaira disana yang tertegun melihat kepergiannya.
Azka yang sudah lebih dulu masuk ke mobl, mengernyitkan dahinya saat melihat Maira masih berdiri mematung disana.
Ia terkekeh lagi. "Masuk Ra. Mobilnya akan jalan loh.. Kita searah kan?"
Maira terkejut dari lamunannya. "Hah? Iya. Tunggu dulu. Aduh! Ya elah sepatu ku copot pula talinya!" geuttu Maira yang membuat Azka tertawa.
Suara tawa renyah Azka itu mengalihkan perhatian Maira padanya.
Deg, deg, deg..
"Masuk Almaira! Mobilnya akan jalan loh.. Abang tinggal kamu ya?"
Deg!
Ucapan Azka membuyarkan lamunan Almaira terhadapnya. Dengan cepat Almaira berlari dan menuju mobil itu.
Brak!
__ADS_1
"Sudah!" imbuhnya yang membuat Azka lagi dan lagi tertawa melihat tingkah Almaira yang sangat menghiburnya.
Mobil pun berjalan meninggalkan lobi apartemen mereka dimana Azka dapat melihat Prince yang kini sedang mematung melihat kepergian mereka berdua.
Almaira tidak melihat Prince karena saat ini pandangan matanya sedang menatap pada pahatan sempurna wajah tampan Azka yang membuat jantungnya seperti berlari maraton.
Cepat sangat tidak terkendali hingga nafasnya seperti terengah-engah. Azka menoleh padanya saat melihat Maira yang kini berkeringat.
Ia mengambil sapu tangan miliknya dan memberikan pada Maira yang ahnya ditanggapi dengan diamnya. Azka tersenyum melihat itu.
"Lap keringat mu. Yang kayak lari maraton aja sih?" tegur Azka sembari menyeka keringat Maira yang mengalir di wajahnya.
Udara di dalam mobil itu mendadak panas saat sapu tangan itu mendarat di sempurna di wajah Maira.
Jantung Maira semakin tidak karuan. Wajah itu merah merona saat tatapan mata Azka begitu lekat memandangnya.
Maira menunduk, Azka terkekeh. Sikap Maira ini sama seperti Alzana.
Ya, Alzana. Istri sahnya. Sedang yang saat ini bersama nya merupakan saudara kembar Alzana. Tetapi kenapa dirinya merasakan hal lain saat bersama gadis ini.
Azka menatap lekat lagi pada Almaira yang kini sedang menunduk tidak ingin melihatnya karena malu.
Wajah itu masih terlihat malu padanya.
Andai kamu Alzana..
Batin Azka lagi dan lagi menghela nafas sesak. Helaan nafas kasar yang sangat terdengar jelas di telinga Maira.
__ADS_1
Ia kembali melihat azka. Aku akan meluluhkan mu apapoun caranya Bang Azka! Aku tahu kamu saat ini pun sedang tidak enak bersama Alzana. Aku tahu itu. Untuk itu, aku akan berusaha meluluhkan hatimu sedikit demi sedikit agar kamu bisa melihatku. Dan bukan lagi Alzana.
Batin Maira masih menatap lekat wajah tampan pria dewasa di depannya saat ini.