
Brukk.
Maira jatuh terduduk kala melihat Papi Tama dan Prince yang kini begitu datar menatapnya. Maira menatap takut pada ketiga pria beda usia itu.
Begitu pun dengan Azka. Pemuda itu lemas tungkainya. Ia jatuh terduduk juga di samping Maira yang kini sedang menatap lurus dengan wajah pias.
Azka melemah saat melihat tatapan sendu dan kecewa Alzana padanya.
"Za.." lirihnya tanpa suara
Alzana menatapnya dengan datar. Tetapi tatapan mata itu begitu menusuk relung hatinya.
Lagi, untuk yang kedua kalinya ia membuat Alzana terluka. Ia menunduk dengan wajah bersalahnya.
Iya yakin saat ini jika mereka pasti akan di hukum seperti janji papi Tama dulunya kepada mereka berempat sebelum mereka menikah dan berangkat ke Singapura.
Azka yakin, jika kali ini kesalahan nya sangat fatal. Dan dia tidak bisa membela diri lagi setelahnya.
Dan Azka pun sangat yakin, tak ada tempat lagi untuknya bagi Alzana untuk menerimanya karena kesalahan yang ia perbuat.
Terlihat jelas dimata Alzana saat ini yang begitu kecewa dan terluka karena perbuatannya. Azka menyesali yang terjadi hari ini.
Papi Tama menatap datar pada Maira dan Azka dengan tatapan dinginnya.
"Kamu masih ingat dengan janjimu kan Maira?"
__ADS_1
Maira menelan salivanya.
"Apa isi janji itu? Kamu mengingatnya Almaira Puteri Pratama??"
Maira menunduk dengan leher tercekat. Ia tahu apa perjanjian itu. Perjanjian yang mengikat keduanya dan juga bisa memutuskan nasib keduanya jika sampai salah satu dari keduanya melakukan kesalahan fatal.
Melihat Maira diam, Papi Tama menoleh pada Prince yang kini juga menatap Maira dengan wajah datar dan sangat terlihat raut wajah kecewa.
Papi Tama bisa melihat itu di tatapan matanya. Prince yang tahu arti tatapan mata papi Tama segera membuka suara.
Suara yang meruntuhkan ego dan sisi kejam Maira selama ini untuk Alzana karena selalu mengejeknya.
"Almaira Puteri Pratama, kamu sudah melakukan kesalahan besar malam ini. Kesalahan yang tidak termaafkan lagi untukku. Kamu tahu sendirikan jika janji yang sudah dibuat tidak bisa di ingkar lagi??"
"Sesuai dengan perjanjian kita, jika kamu melakukan kesalahan fatal maka aku berhak memutuskan hidupmu. Almaira Puteri Pratama. Mulai saat ini dan detik ini kamu bukanlah istriku lagi. Aku mentalak kamu dengan talak tiga!"
Ddduuuaaarrr!!
Tubuh Maira dan Alzana terjingkat kaget mendengar suara lembut Prince tetapi begitu tegas terdengar di telinga keduanya.
Maira menatapnya dengan mata yang sudah menganak sungai. Papi Tama melanjutkan ucapan Prince yang mana menghancurkan harapan ke empatnya saat itu juga.
"Karena kalian berdua sudah melakukan kesalahan besar ini, maka kalian berdua akan kami nikahkan hari ini juga. Sebelum itu, Papi ingin tanya dulu sama kamu Bang." Katanya pada Prince yang kini menatapnya.
"Apakah selama kalian menikah, kamu sudah menyentuh Maira?"
__ADS_1
Deg!
Maira memejamkan matanya.
"Tidak pernah sekalipun papi. Jangankan menyentuhnya, melihat auratnya pun aku tidak pernah!"
"Baik, dan kamu Alzana. Apakah Azka sudah menyentuhmu selama pernikahan kalian??"
Prince dan Maira menatap Alzana. Alzana menggeleng dan menunduk.
"Tidak pernah sekalipun papi.."
"Astaghfirullahal'adhim.." ucap Papi Tama dan abi Raga bersamaan.
Keduanya menghela nafas berat. "Baik. Kami sudah memutuskan. Karena kalian sudah berpisah satu sama lain dengan hal yang kalian buat sendiri. Maka kami putuskan!"
Ke empatnya menunduk menunggu keputusan dari kedua orang itu.
"Kalian akan kami buang sesuai dengan janji yang sudah kami ucapkan dulunya. Kami tidak akan memberikan fasilitas apapun untuk kalian berempat. Bantuan dalam bentuk apapun tidak kami berikan sedikitpun! Kalian harus berusaha dengan cara kalian sendiri. Maka dari itu, Azka dan Maira kami buang ke Kalimantan! Prince ke Jerman! Dan Alzana.. Kami buang ke Aceh. Kami membuang kalian selama dua tahun lamanya setelah kuliah kalian selesai tiga bulan lagi!"
Ddduuaaarr!!
Bagiakan petir menyambar kehidupan ke empatnya saat ini. Alzana, Prince dan Maira memejamkan mata mereka saat mendengar ucapan tegas Papi Tama yang tidak terbantahkan.
Keputusan mutlak yang memang sudah ditetapkan sedari dulunya sebelum mereka menikah.
__ADS_1