
Maira menatap Prince dengan mata berkaca-kaca. "Ma-maaf bang.. Aku salah.. Maafkan aku.." pintanya dengan sangat lirih.
Suaranya bergetar saat mengatakan hal itu. Prince menghela nafasnya. "Abang sudah memaafkan mu, Maira jauh sebelum kamu meminta maaf sama Abang. Abang tahu jika kamu memang sangat mencintai suami mu. Tapi apa yang kalian perbuat itu salah. Bagaimana pun itu perbuatan zina. Abang juga pernah di posisi suami kamu. Abang hampir saja menodai anak gadis orang. Tapi tidak, karena Allah mengirimkan bala bantuannya untuk Abang. Karena apa?
Karena hati dan pikiran Abang berzikir memohon perlindungannya. Dan ya, Allah mengirim Shan tepat waktu." Ujar Prince yang begitu menampar Azka.
Pemuda tampan mantan suami Alzana itu menunduk malu.
"Kamu tidak perlu merasa malu bang Azka. Semua ini sudah menjadi suratan Takdir. Bang Prince benar. Kamu bukanlah jodohku. Tetapi jodoh saudariku. Sedari kamu melamarku dulu, kamu sudah dikatakan cocok dengan nya. Tak apa. Aku ikhlas. Inilah akhir perjalanan kita. Aku gagal membina rumah tangga bersama mu. Tapi ku harap, kamu jangan melakukan hal yang sama pada saudariku. Dia sangat mencintaimu. Hingga rela bunuh diri demi bisa menikah dengan mu." Imbuh Alzana pada Azka yang diangguki pasrah oleh Azka.
"Dan untuk kamu Maira. Kamu harus berubah. Jangan lagi egois seperti kamu saat bersama Bang Prince. Suami kamu Azka sekarang. Kami berdua sudah memaafkan mu. Azka jodohmu. Bukan jodohku. Jika jodohku masih ada.. maka suatu saat aku pasti akan bertemu dan bersatu dengannya.." lirih Alzana sambil menatap lekat pada Prince yang kini tersenyum teduh padanya.
Azka dan Almaira semakin merasa bersalah kala melihat tatapan sendu keduanya.
"Maafkan kami berdua. Gara-gara kami kalian juga harus menerima hukuman ini." Ucap Maira yang dibalas senyum teduh oleh kedua orang itu.
"Tak apa Ra. Kami ikhlas. Karena inilah janji kita dulu. Salah satu dari kita berbuat salah, maka kita yang tidak melakukannya pun ikut menagggungnya. Biar adil!"
"Bang Prince benar! Ayo, kita lupakan masa lalu. Nikmati hari ini bersama kedua orang tua kita. Minta maaflah pada papi, Ra. Beliau menunggu mu untuk berbicara." Ujar Alzana yang diangguki oleh Maira dan Azka.
__ADS_1
"Ayo! Papi dan abi udah nunggu kita!" katanya pada mereka semua.
Ketiganya pun mengangguk. Mereka bertiga mengikuti langkah Princre yang sudah lebih dulu berjalan.
Hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama. Berbagi waktu tiga hari sebelum kembali ke Indonesia.
Mereka menuju ke mall. Disana mereka berenam main bersama seperti anak kecil lagi. Maira dan Azka hanya menjadi penonton saja.
Mereka hanya tersenyum melihat ke empat orang itu. Azka mengelus pundaknya.
"Maaf.. Gara-gara Abang, kamu sampai tidak bisa ikut bermain seperti mereka." Ucapnya merasa bersalah.
Azka memeluk erat tubuh Maira dan sesekali mengecup kepala yang tertutup hijab itu.
Ke empat orang yang sedang bermain itu menoleh bersamaan pada keduanya. "Lihatlah keduanya. Semoga dengan kejadian ini, keduanya bisa mengambil hikmah dan menjadikan pelajaran untuk ke depannya. Abang harus bicara dengan Maira. Jangan sampai ia mengira jika kita berdua tidak menghiraukan keadaannya." Ucap Abi Raga yang diangguki oleh papi Tama.
"Ya sudah, kalian mainlah. Papi kesana dulu."
Mereka semua mengangguk. Papi Tama segera berjalan mendekati Maira yang kini terisak di pelukan Azka.
__ADS_1
"Boleh papi bicara dengan putri papi, Nak?"
Deg!
Deg!
"Hah? I-i-iya Pi. Silahkan. Kalau begitu, Abang kesana saja!" sahut Azka tergagap.
Ia segera bangkit dan menuju Prince dan Alzana yang kini melambaikan tangan padanya. Azka mendekati mereka bertiga dan bermain time zone disana.
Sedang Papi Tama kini memeluk erat Maira yang semakin tersedu di pelukannya.
"Ma--af hiks Pa hik pi.. Ka hiks kak sa hiks lah.. Ma hiks af.." isaknya terputus-putus.
Papi Tama hanya menjawabnya dengan anggukan. "Iya sayang, papi maafkan kakak. Lain kali jangan di ulangi ya?" Maira mengangguk.
"Papi tahu, kamu anak yang baik. Jadikan semua ini pelajaran yang akan kamu kenang seumur hidupmu. Cinta boleh. Tapi jangan salah kaprah. Jika sudah seperti ini, siapa yang dirugikan?"
Maira tidak menjawab, ia semakin tersedu di pelukan papi Tama yang juga ikut menangis bersama nya.
__ADS_1
Keduanya menangis bersama. Ke empat orang disana pun ikut menangis karena mendengar isakan Maira yang terus menerus meminta maaf pada sang Papi yang menjawabnya dengan anggukan walau sambil menangis.