
Alzana mengikuti langkah suami dan Abi nya untuk menuju kerumah sakit. Ada Azka sebagai supir dan Abi Raga yang memangku Prince saat ini. Kala Maira ingin masuk, malah Alzana yang lebih dulu masuk dan memangku kepala Prince.
Almaira mematung di tempat melihat itu. Hatinya yang memang sudah panas bertambah panas kala Prince membuka matanya dan berpindah haluan ke pangkuan Alzana.
Semua itu tidak luput dari penglihatan ketiga orang yang kini terpaku melihat sikap keduanya. Ummi Ira yang melihat Maira mematung segera menyuruhnya masuk dan duduk di depan.
Sedang beliau memberikan hijab instan untuk Alzana yang saat ini hanya menggunakan anak hijab saja yang berwarna hitam.
Saking paniknya melihat Prince berdarah, ia sampai lupa jika dirinya saat ini sudah menikah dengan Azka. Sedangkan Azka memaklumi itu.
Walau ada rasa sedikit tercubit hatinya saat melihat kedua nya yang seperti pasangan suami istri saat ini.
Padahal keduanya iparan untuk saat ini. Maira yang melihat Prince membenamkan wajahnya di perut Alzana membuat hatinya begitu panas.
Ia terbakar api cemburu melihat adiknya memangku suaminya saat ini. Tapi apa yang bisa ia perbuat jika Prince sendiri yang menginginkannya?
Maira menahan amarah nya yang kini sudah sampai di ubun-ubun saat melihat tangan Prince kembali menggenggam tangan Alzana dengan sangat erat.
__ADS_1
Azka menghela nafas sesak melihat sang istri saat ini masuk ke dalam ruangan dimana Prince berada.
Ummi Ira segera memeluk Maira yang kini ingin sekali menghajar semua orang. Tubuhnya bergetar hebat.
"Tenanglah Nak.. Suami kamu tidak akan apa-apa. Tenanglah. Ada dokter di dalam sana bukan hanya Alzana disana." ucapnya menenangkan keponakan sekaligus menantunya itu.
Amarah Maira yang tadinya meletup-letup kini berangsur turun. Ummi Ira bernafas lega.
Sementara di dalam ruangan sana, Prince masih saja memegang tangan Alzana dengan erat. Padahal matanya saat ini terpejam.
"Maaf Nak. Kamu ini istri nya pasien?"
Deg!
Deg!
"Iya dokter. Ini istri saya. Dan kami baru saja menikah hari ini. Seharusnya ini menjadi malam pertama kami tapi sayang, saya malah terluka seperti ini." Keluhnya sambil menatap Alzana yang kini menatapnya dengan datar.
__ADS_1
Prince tidak peduli. Baginya Alzana. Ia tidak akan melepaskan Alzana begitu saja untuk saat ini.
Dokter yang menangani Prince saat ini tersenyum, "Pantas saja kalian berdua itu terlihat mirip. Dan saya bisa menebaknya jika kalian berdua saat ini itu pasangan pengantin baru. Terlihat jelas tangan istri kamu yang dibaluti dengan henna."
Prince tersenyum saja sambil terus melihat Alzana yang kini berwajah datar padanya.
Setelah dokter selesai membalut luka di perut Prince, Alzana pun ingin keluar dari ruangan itu tetapi di tahan oleh Prince.
"Tunggu Hunny! Kita perlu bicara berdua!" tegasnya dengan suara lirih yang membuat Alzana urung membuka pintu ruangan itu kembali.
Sedangkan dokter sudah lebih dulu keluar. Maira yang ingin masuk di tahan oleh Abi Raga. Ia menatap datar pada Maira dan menggeleng. Pertanda tidak boleh diganggu.
Maira menunduk. Takut melihat tatapan sang Abi begitu dingin dan datar saat ini.
Maira dibawa duduk oleh Ummi Ira di kursi tunggu. Ia di apit oleh Abi dan Ummi Prince saat ini yang membuatnya sulit untuk bergerak.
"Dengarkan Abang baik-baik Hunny!"
__ADS_1
Alzana berbalik menghadap Prince yang kini menatap datar dan dingin padanya. Alzana menelan salivanya saat melihat wajah Prince yang kini begitu dingin datar sama persis seperti Abi Raga dan Papi Tama jika sudah marah.