
Satu setengah tahun berlalu.
Kini Prince dan alzana hampir menyelesaiakan tuga mereka. Jika Prince sebagia dokter spesialis kejiwaan, maka Alzana amsih dokter umum.
Ia harus mengambil spesialis lagi untuk bisa sama seperti Prince.
Selama hampir dua tahun di Singapura, mereka berempat tidak pernah pulang ke Indonesia. Takut akan masalah yang mereka buat itu mengganggu semua orang disana.
Tetapi papi Tama dan abi Raga tahu jika ke empat anak itu memiliki masalah, mereka ngotot ingin ke Singapura yang membuat Alzana panik.
Begitu pun dengan Maira dan Azka yang kini semakin dekat saja. Prince tidak bisa melarang Maira lagi, karena gadis itu memiliki macam cara untuk bisa bertemu dengan Azka yang kini sudah terpikat dengan istrinya itu.
Pernah sekali Almaira melakukan pertukaran posisi hingga hampir saja Prince menjatuhkan talak padanya.
Bagaimana tidak, Maira sengaja menyamar menjadi Alzana untuk membuktikan ucapan Azka waktu itu jika dirinya sudah move on yang nyatanya belum juga.
Hingga hampir saja keduanya melakukan kesalahan karena ulah Maira. Beruntungnya waktu itu Prince cepat pulang, hingga hal itu tidak terjadi.
Dan kedua orang tua mereka pun tidak jadi datang lantaran ucapan Prince yang begitu meyakinkan mereka saat itu.
Tetapi mungkin tidak dengan kali ini. Mereka kali ini akan habis di tangan kedua orang yang kini sedang di dalam pesawat menuju ke Singapura untuk melihat mereka karena mendengar jika Mami Annisa dan Ummi Ira mendapatkan firasat buruk untuk mereka berempat.
Maka berangkatlah kedua orang lelaki beda usia itu ke Singapura tanpa sepengetahuan kedua orang itu.
Dan disinilah mereka berdua saat ini. Keduanya baru saja tiba di bandara Changi Singapura. Keduanya turun dari pesawat langsung menuju apartemen kedua anak mereka tanpa sepengetahuan keduanya.
Sedangkan di apartemen Azka saat ini sedang terjadi kesalahan besar antara Maira dengan mantan suami Alzana itu.
Pemuda itu di cekoki obat haram oleh rekan bisnisnya hingga berujung fatal pada mereka berdua saat ini.
"Eghh.. Abanggh.."
Deg!
Deg!
Kaki Alzana dan Prince membatu ditempat saat mendnegar lenguhan yang keluar dari kamar yang tidak tertutup rapat.
Niat hati Prince ingin menjenguk Azka yang kata Shan tadi sedikit bermasalah saat bertemu dengan Maira, malah dikejutkan dengan suara aneh keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Ah.."
Deg!
Lagi suara aneh itu keluar dari kamar Azka. Kaki Alzana lemas bagai tidak bertulang saat mendengar suara lenguhan itu.
Niat hati datang ingin menerima rujukan dari Azka malah mendengar suara lenguhan itu berulang kali.
Ya, Azka sudah meminta rujuk pada Alzana setahun yang lalu. Ia terus berusaha membujuk Alzana untuk bisa kembali padanya.
Setelah lama berpikir, Alzana pun mau menerima lagi Azka yang memang benar-benar ingin rujuk lagi dengannya.
Tetapi apa ini?
Apa yang baru saja ia dengar?
Apa maksud suara aneh itu?
"Ughh.. Sempit banget sih Ra? Ssstt.."
"Hiks.. Sakiiitt.."
Prince memejamkan matanya tidak ingin melihat adegan itu. Ia memeluk Alzana yang kini tersedu sambil membungkam mulutnya.
Ia luruh ke lantai di dalam pelukan Prince. Prince pun demikian. Keduanya berpelukan bersama dan menangis bersama.
Sakit sekali bisa melihat dan mendengar sendiri suami dan istri kita di depan mata keduanya kini sedang melakukan kesalahan itu.
"Hiks.. Abang.. Sakiitt.." rintih Maira masih terdengar di telinga keduanya yang kini semakin tersedu.
"Ugghh.. Maaf Ra. Abang tidak bisa berhenti. Uggh.." balas Azka masih saja terdengar melenguh.
Hancur dan runtuh dunia Alzana serta Prince saat itu juga. Mereka pikir setelah sekian tahun ini Azka dan Maira benar-benar berubah.
Ternyata tidak.
"Hiks.. Adek nggak kuat Bang.. Kita pulang Bang. Kita pulang ke indonesia bang.. Adek nggak kuat.."
Ah..
__ADS_1
Uh..
Suara aneh dibalik kamar itu semakin terdengar jelas yang membuat tubuh Prince dan Alzana bergetar saking tidak sanggupnya menerima kenyataan.
Tidak terdengar lagi suara isakan Maira. Yang terdengar hanya suara alunan merdu keduanya yang sudah hanyut dalam kesalahan yang akan menghancurkan ke empatnya.
Alzana terus meminta Prince untuk pulang, tetapi Prince hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan sesegukan yang keluar dari bibir keduanya.
Sementara dua paruh baya beda usia yang baru saja tiba di apartemen keduanya segera masuk keruangan itu.
Mereka dibuat tertegun dengan Alzana dan Prince yang kini berpelukan sambil menangis. Sementara di dalam kamar sana suara alunan itu terus sahut menyahut yang membuat kedua orang itu menghempaskan tasnya karena sangat shock.
Plak.
Deg!
Prince dan Alzana terkejut. Keduanya menoleh ke belakang.
Dduuaaarr!!
"Abi!! Papi!!" seru keduanya begitu terkejut. Bersamaan dengan suara itu keluar lagi dari kamar keduanya.
"Ah.. Lagi bang! Ughh.."
Ddduuuaaarrr!!
Bagaikan petir di tengah malam buta. Mereka begitu terkejut melihat kedua orang tua mereka ada disana.
Papi Tama yang geram ingin segera menuju ke kamar itu, tetapi Abi Raga, Prince dan Alzana memeluknya dengan erat.
Kedua anak itu menangis tersedu dipelukannya yang membuatnya luluh.
Ia pun ikut tersedu.
"Ya allah.. Inikah mimpi itu Ga??" katanya pada abi Raga yang kini mendektai pintu yang terbuka sedikit itu kemudian menutupnya.
"Sabar Bang.. Kita tunggu mereka selesai dulu. Kita tanya sama mereka apa maksudnya semua ini? Abang yang sabar ya? Jaga emosimu. Darah tinggi kamu bisa kumat nanti." Jawab Abi Raga yang dijawab tangisan olehnya.
Prince semakin erat memeluk tubuh tegap itu. Begitu pun dengan Alzana. Papi Tama memeluk kedua orang yang begitu terluka oleh permainan takdir itu.
__ADS_1
Kesalahan besar yang keduanya buat sekarang pasti akan menimbulkan prahara yang besar untuk keduanya.