
"Sudah siap semuanya Nak?" tanya Papi Tama pada ke empat anaknya.
"Sudah Pi. Kakak nggak perlu bawa barang banyak. Di Kalimantan nanti kami bisa beli lagi kok." Jawab Maira dengan senyum lembut di bibirnya.
Azka mengangguk. "Benar Pi. Nggak perlu khawatir. Abang masih bisa menanggung semua kebutuhan Maira selama disana."
Papi Tama mengangguk dan tersenyum. "Tentu Nak. Papi percaya padamu. Selama tiga bulan ini papi sudah melihatnya sendiri. Kalian berdua sudah banyak berubah."
"Terimakasih papi masih percaya dan memberikan kesempatan ini padaku. Maafkan kesalahan kami berdua yang sempat membuat semuanya terluka.." Lirih Azka dengan menunduk.
Papi Tama segera memeluknya. "Tak apa Nak. Papi sudah memaafkan mu. Begitu pun dengan yang lainnya. Ya sudah. Berangkatlah. Pesawatmu untuk ke Kalimantan sudah akan berangkat." Imbuh Papi Tama yang diangguki oleh keduanya.
Keduanya pun segera berpamitan kepada kedua orang tua dan juga sepupu serta saudarinya.
Maira semapt berbisik lirih di telinga Alzana. "Maafkan aku Al.. Maafkan aku.." yang hanya disambut dengan wajah datar Alzana padanya.
Maira tercubit melihat Alzana yang tidak berekspresi apapun padanya dan Azka. Keduanya sangat merasa bersalah.
__ADS_1
Maira dan Azka pergi dengan luka hati yang menganga karena melihat Alzana yang masih belum ikhlas karena ia merebut Azka darinya.
Padahal bukan itu masalahnya. Ia sedang memiliki sedikit masalah dengan Prince. Sudah seminggu ini Prince tidak peduli padanya.
Jangankan untuk bertanya, melihat dan menyapanya pun tidak. Ketika keduanya berpapasan di rumah sakit tempatnya bekerja.
Dan pada saat Alzana tahu, ternyata Prince sedang dekat dengan rekan nya. Dokter wanita yang akan berangkat bersamanya ke Jerman.
Tidak hanya dirinya. Ada Shan juga yang iku kesana. Hanya saja.. Hati Alzana terasa tercubit saat melihat Prince menjauhinya karena rekannya yang selalu tidak ingin jauh darinya itu.
Setengah jam menunggu, Kini Prince, Shan dan rekan wanitanya itu akan segera berangkat. Ia berpamitan dengan kedua orang tuanya, Mami dan papi nya. Tetapi tidak dengan Alzana.
Prince menekan sesak di dadanya saat melihat wajah datar Alzana dan dinginnya.
Iamemeluk mami Annisa dengan erat. "Abang akan pulang mi. Tunggu abang. Katakan pada alzana. Abang tidak pernah menajuhinya. Abang melakukan ini agar terbiasa tanpanya. Bukan membenci ataupun menjauhinya. Abang snagat mencintainya mami.." bisik Prince di telinga mami Annisa yang kini mengangguk dengan air mata yang sudah beruraian.
"Tenntu sayang. Kamu tetap kebanggaan mami. Mami akan mengatakan padanya nanti. Pergilah. Kalian berdua harus terbiasa seperti ini. Jangan lupakan kami, Nak. Termasuk.." ucapannya berhenti saat melihat rekan Prince mendekatinya.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya nya. Prince berdecak kesal.
"Sudah. Kamu duluan saja bersama Shan! Saya bisa urus barang saya sendiri." Jawabnya sedikit ketus dan dingin.
Gadis itu merasa tidak enak. Ia pun segera berlalu meninggalkan Prince yang kini kembali memeluk mami Annisa dan Ummi Ira bersamaan yang membuat kedua mamai itu tertawa karena ulahnya.
"Dasar ular betina!" ketus Prince lagi.
"Nggak boleh ngomong begitu, Nak." Tegur Ummi Ira padanya.
"Abang tahu Ummi. Kesal aja melihat tingkahnya yang sudah seperti istriku saja ! Jika bukan karena Abang butuh bantuannya, malas Abang bergabung dnegan ular penjilat sepertinya!" ketus Prince lagi dengan segera menarik kopernya dna bersalaman serta berpelukan dengan papi Tama dan Abi Raga.
"Hati-hati, Nak. Jika ada masalah, hubungi kami berdua. Ppai dan Abi mu akan segera terbang ke Jerman."
"Iya Pi. Tenang aja. Disana tidak ada pengganggu. Kecuali ular betina itu!" ketusnya sambil berlalu yang meninggalkan gelak tawa di bibir ke empat orang itu.
Prince berabgkat meninggalkan negeri asalnya dan juga tempatnya menuntut ilmu selama ini. Ia juga meninggalkan cintanya yang salah paham padanya karena merasa di abaikan olehnya.
__ADS_1
Padahal Prince saat ingin bertemu dengannya. Tapi demi menjaga hati, ia rela membuat Alzana marah padanya. Dan memilih berlalu darisana tanpa pamit padanya.
Prince pergi membawa sekeping hati yang akan selalu merindui.