TERTAWAN CINTA SANG PENGUASA

TERTAWAN CINTA SANG PENGUASA
BAB 6


__ADS_3

"Kapan kau akan memberikan aku cucu dan menantu? " Bukannya menjawab ibu Josep justru bertanya sambil mengupas buah apel di tangannya.


Josep yang sudah lelah di tanya seperti itu terus oleh sang ibu hanya menghela napas kasar, sejujurnya ia belum mau menikah ia masih ingin berpergian dan bekerja dengan santai tanpa memikirkan beban yang ada di rumah, kalau boleh memilih ia lebih memilih untuk tidak menikah menurutnya menikah sama saja menambah pekerjaan dan itu sangat merepotkan.


"Mom! Sudah berapa kali aku bilang jika aku belum mau menikah! " Ucap Josep kesal.


Ibu Josep yang mendengar itu langsung menaruh pisau buah di atas meja, lalu ia duduk dan menghadap ke arah putra satu satunya yang sudah hampir berkepala tiga namun belum juga memiliki pasangan, setidaknya berikan ia cucu tidak masalah.


"Kau sudah hampir berkepala tiga, namun sampai sekarang kau belum memberikan aku cucu! Jika kau tidak mau menikah setidaknya berikan aku 1 atau 2 cucu itu sudah cukup! " Tegas ibu Josep.


"Mom! Kau pikir membuat anak itu mudah? Jika mudah kenapa kau tidak membuatnya lagi bersama daddy? " Ucap Josep kepada sang ibu membuat ibu Josep melotot horor menatap sang putra.

__ADS_1


"Hey! Jika saja aku belum berumur mungkin aku sudah membuat banyak anak! Sebaiknya sebelum ulang tahun pernikahan ku, kau harus sudah memiliki pasangan jika tidak kau tidak bisa menolak perjodohan ini! " Tegas sang ibu dan bangkit dari duduknya.


"Mom tapi-


Ucapan Josep terputus karena sang ibu sudah berjalan jauh mungkin sudah hampir sampe di pintu utama, Josep yang mendengar kata perjodohan itu membuatnya frustasi ia mengacak rambutnya kesal lalu kembali ke kamarnya. Sesampai di kamar ia melihat wanita yang ia sewa tengah menunggunya, karena sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi ia menghajar wanita itu dengan kasar bahkan hingga membuat wanita yang berada di bawahnya kesakitan akibat keganasannya di atas ranjang.


Beralih ke rumah Alesia, sekarang Alesia tengah mempersiapkan perlengkapan untuk besok hari pertama ia bekerja di perusahaan ternama, perusahaan yang di impikan oleh seluruh orang yang berada di negaranya.


"Kak, apakah setelah kau bekerja di sana bisa membelikan aku sepeda baru? " Tanya Henry kepada sang kakak sambil mentap langit-langit kamar Alesia yang sudah cukup kusam.


Alesia yang mendengar itu langsung terdiam dari aktivitas nya, ia baru mengingat jika sepeda milik Henry sudah rusak bulan lalu, tidak lebih tepatnya di rusak oleh teman sekolahnya. Alesia bangkit dari duduknya dan menghampiri Henry yang masih asik rebahan.

__ADS_1


Alesia duduk tepat di samping kepala Henry dan mengelus kepala laki-laki itu dengan sayang, ia berjanji saat gaji pertamanya cair ia akan membelikan sepeda baru untuk Henry agar laki-laki itu tidak perlu berjalan saat berangkat maupun pulang sekolah.


"Tenang saja, saat gaji pertama kaka cair kaka akan belikan sepeda baru untukmu, " Ucap Alesia penuh perhatian.


"Kau berjanji? " Tanya Henry memastikannya dan langsung terduduk menghadap Alesia.


Alesia mengangguk menanggapi pertanyaan Henry, Henry yang melihat itu pun merasa senang lalu langsung memeluk Alesia dengan erat sambil mengucapkan terimakasih dan berjanji akan belajar bersunguh-sunguh dan akan segera menyusul Alesia bekerja.


"Aku berjanji akan belajar dengan giat kak, " Ucap Henry semangat.


"Ya, aku tahu... Kau pergilah masih ada yang harus aku siapkan, " Ucap Alesia.

__ADS_1


Henry mengangguk menurut, lalu pergi meninggalkan Alesia sendiri di kamar. Sedangkan Alesia yang di tinggal sendiri di kamar menatap kepergian adik satu satunya dengan sendu, ia berharap bisa mengubah kehidupan mereka meski hanya sedikit setidaknya mereka tidak akan kesusahan seperti dulu lagi.


__ADS_2