
Keesokan harinya Clara bangun tidur di mansion keluarga Freiheit langsung di sambut oleh belasan pelayan, Clara sontak terkejut karena tidak pernah bangun dengan jumlah pelayan lebih dari satu. Karena Clara sudah bangun para pelayan dengan cepat mengerumuni Clara, untuk melayaninya dalam mengganti pakaian dan melakukan hal lain. Baru kali ini Clara merasa kalau inilah kehidupan orang kaya yang sebenarnya berbeda dengan kehidupan orang kaya yang hanya kaya biasa saja, Clara hanya bisa berpasrah saja ketika dia di dandani dan di kerumunan oleh para pelayan karena dia sudah tidak paham apa yang harus dia lakukan saat ini melihat situasi yang begitu melelahkan.
Setelah selesai, para pelayan keluar dari ruangan Clara. Clara memutuskan untuk duduk di pojok ruangan dekat dengan jendela karena dia tidak ingin merusak riasan dan rambut yang telah susah payah di tata oleh para pelayan, Clara yakin kalau dia merusaknya para pelayan akan mengerumuninya lagi.
"Hah..."
"Baru satu hari aku di sini dan masih pagi di tempat ini, tapi aku sudah kelelahan sekarang,"
"Bagaimana kalau aku berbulan-bulan di mansion ini?"
"Apakah Dain tidak lelah di kerumuni oleh para pelayan yang akan melayaninya?" ucap Clara dengan tatapan lelah menatap ke luar jendela kemudian menoleh ke arah sebelahnya tiba-tiba terlihat sosok laki-laki yang membuatnya terkejut hingga jantungan
"DAIN, KENAPA KAMU MASUK KE DALAM KAMAR SESEORANG TANPA MENGETUK PINTU?" teriak Clara tiba-tiba langsung melemparkan barang yang ada di dekatnya ke arah sosok laki-laki itu karena terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba
"Ini adalah rumahku jadi terserah kepadaku ingin berada dimana dan kamu juga tunanganku jadi aku bisa sesukaku masuk tanpa izinmu," ucap Dain sambil tertawa kecil melihat Clara yang sedang marah kepadanya menurutnya itu sangat menggemaskan dan lucu
Tidak lama kemudian Clara tersenyum dan menenangkan dirinya, dia tau jika saat ini dia adalah tunangan dari laki-laki yang tirani jadi dia harus bersabar karena mereka juga terikat dengan kertas.
"Jadi, ada apa kamu ke kamarku?" tanya Clara dengan tatapan serius ke sosok laki-laki di depannya
"Pertama aku akan menjawab pertanyaan pertamamu yang kamu gumam saat menatap ke luar jendela, aku sama sekali tidak dibantu oleh para pelayan dalam mengganti pakaian,"
__ADS_1
"Kemudian aku akan menjawab pertanyaan keduamu, aku ke sini menjemput dirimu untuk sarapan," ucap Dain yang membuat Clara melemparkan barang kembali ke arah Dain karena dia telah telah mendengarkan ucapan gumam dari Clara secara diam-diam
Setelah cukup puas dan tidak ada barang yang bisa di lemparkan kepada sosok laki-laki itu, dia berusaha menjadi tenang dan setelah tenang Clara keluar dari kamarnya tanpa menerima uluran tangan dari Dain. Dain hanya bisa tertawa kecil melihat lucunya tingkah dari sosok perempuan yang menjadi tunangannya saat ini.
Sesampainya di ruang makan Clara merasa aneh, karena meja makan tidak berada di meja panjang tetapi di meja kecil seperti meja ruang tamu. Clara menatap Dain, tapi sosok laki-laki itu hanya tersenyum melihat Clara yang sangat lucu karena kebingungan.
"Kenapa tidak masuk? Apa yang kamu tunggu hingga menatapku?" tanya Dain yang mendadak mengubah ekspresinya dengan tatapan serius ke arah Clara
Clara kemudian masuk ke dalam ruangan makan itu dan duduk di kursi sedangkan Dain masih berdiri di pintu, karena mendadak di cegat oleh bawahannya.
"Kamu sungguh-sungguh orang gila, mengubah peraturan ruang makan tiba-tiba jadi seperti ruang tamu,"
"Carl, aku rasa kamu lupa,"
"Coba kamu ingat-ingat, bukankah kamu yang mengatakannya kalau aku harus menunjukkan cintaku dengan baik dengan bekerja keras dan kedekatan jadi aku hanya menerapkan ucapan yang kamu katakan," ucap Dain membuat Carl langsung mengelap dahinya yang padahal tidak memiliki keringat sama sekali
"Hah... Baiklah aku mengerti sudahlah jangan meminta pendapat kepadaku lagi dan makan saja," ucap Carl yang menghela nafasnya dan pergi meninggalkan ruang makan dengan tatapan lelah kepada Dain
Clara yang berada di ruang makan hanya bisa memandang tentang apa yang terjadi di dalam ruang makan itu karena sangat berbeda dengan tempat ruangan makan pada umumnya, Clara menatapnya sambil menunggu Dain masuk ke dalam ruangan. Ketika Dain memasuki ruangan Clara langsung fokus kepada sosok laki-laki yang berada di depannya.
"Clara, kenapa kamu diam saja dan memandang ruang makan seperti tidak pernah melihat bangunan?" tanya Dain yang duduk di kursi yang ada di depan Clara
__ADS_1
"Kamu tidak sedang bercanda denganku bukan? Maksudku ini benar-benar ruang makan bukan? Tapi disetiap tempat yang aku lihat tidak ada ruangan makan seperti ini," ucap Clara dengan tatapan menyidik tetapi kebingungan ke arah Dain yang berada di depannya
Tidak lama melihat ekspresi kebingungan itu, Dain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya membuat jawaban yang jelas atas pertanyaan yang di ajukan oleh Clara, Clara kemudian terdiam dan mengikut saja tentang apa yang ada di mansion keluarga Freiheit yang aneh ini sampai sarapan mereka berdua selesai.
Clara kemudian di ajak oleh Dain ke sebuah taman kaca yang berada tidak jauh dari mansion terlihat disana ada banyak bunga yang mirip dengan yang dikirimkan oleh Dain pada saat dia sakit.
"Taman ini mulai sekarang adalah milikmu, karena kamu sangat suka dengan bunga bukan?" ucap Dain membuat mata Clara melebar memandang sosok laki-laki di depannya yang suka sekali berbuat sesukanya hanya karena kekuasaan dia berada di peringkat dua dari keluarga raja
"Aku menolak, memang aku suka bunga tetapi aku tidak ingin sampai harus taman kaca ini diberikan,"
"Lebih dari itu kamu terlihat seperti ingin mengutukku lebih cepat menuju kematian dibandingkan ingin memberikan aku taman bunga di rumah kaca ini,"
"Kamu harus tau kalau bunga Hydrangea putih ini melambangkan kematian dan tidak boleh diberikan kepada orang sakit," ucap Clara dengan tatapan datar ke arah sosok laki-laki yang kemudian kebingungan
Dain jelas-jelas tidak tau tentang bunga yang diperbolehkan ataupun tidak karena dia sibuk dengan pekerjaannya, jadi mana mungkin dia memiliki waktu untuk mencari tau makna dari bunga yang diberikan atau membaca semua buku tentang arti dari nama bunga.
"Ternyata ada makna seperti itu ya,"
"Aku tidak berpikir seperti itu,"
The Duke's Only Beloved Fiancé
__ADS_1