The Duke'S Only Beloved Fiancé

The Duke'S Only Beloved Fiancé
Bab 49 Bangunan Tua


__ADS_3

Gadis Suci yang mendengarkan ucapan Clara terdengar jahat langsung meneteskan air matanya dan semakin menempel kepada Dain, di depan banyak bangsawan yang melihat ke arah mereka semua karena berada di depan mansion tempat para bangsawan lain beristirahat. Semua orang memperhatikan pertengkaran antar bangsawan tersebut, bisikan demi bisikan buruk mengenai Clara yang sebagai tunangan yang buruk kepada gadis-gadis yang hanya teman dekat tunangannya, namun tidak banyak juga bangsawan yang merasa kalau Clara berhak untuk marah atau berbicara jahat kepada perempuan lain, karena Clara adalah tunangan dari Dain.


"Clara, berhenti menggertak Gadis Suci,"


"Dia hanya ingin memberikan ucapan selamat dan kamu bisa kembali ke kamarmu,"


"Aku akan merawat dan mengantar Gadis Suci ke kamarnya," ucap Dain dengan tatapan dingin dan merangkul bahu milik Gadis Suci


Clara yang mendengarkan ucapan dari tunangannya yang begitu dingin, membuatnya mengerutkan kening tidak percaya kalau tunangannya pergi mengantar perempuan lain padahal dirinya ada di tempat itu. Perubahan yang tiba-tiba seperti itu membuat Clara mengingat sedikit kembali mimpinya, tapi yang berbeda kali ini laki-laki itu merangkul bahu milik Gadis Suci.


"Dain, kamu adalah tunanganku seharusnya kamu memberikan perhatianmu kepadaku,"


"Mengantarkan Gadis Suci yang merupakan orang luar yang hanya berjasa kepada kerajaan karena membantu perang,"

__ADS_1


"Kamu sungguh egois," ucap Clara dengan lantang dan tatapan tajam ke arah sosok laki-laki yang berada di depannya yang merangkul Gadis Suci dan Gadis Suci yang terlihat bersandar manja kepada laki-laki tersebut


Dain yang tidak terima dengan ucapan Clara langsung melayangkan tamparan ke pipi Clara, pipi milik Clara langsung merah dan lecet karena tamparan yang di layangkan. Clara terbelalak tidak percaya dengan sosok laki-laki yang saat ini berada di depannya. Menurut Clara biasanya laki-laki itu lembut dan bahkan tidak berani melakukan kekerasan menggunakan tangan, tapi kali ini sepertinya sudah akhir menurut Clara untuk tidak terlalu berharap dan mimpinya mungkin akan mirip dengan ceritanya saat ini.


Air mata Clara perlahan menetes dengan perasaan kecewa dan menyesal untuk memilik sosok laki-laki yang dia kagumi sebagai tunangannya. Clara berlari dari mansion itu menuju ke arah hutan yang lebat bertepatan dengan waktu matahari tenggelam dan waktu malam tiba. Clara terus berlari hingga tidak tau ke arah mana dia pergi dan arah mana untuk pulang, tetapi dia tidak berniat untuk pulang juga karena apa yang terjadi cukup membuat perasaannya sesak dan sakit seperti di tusuk oleh benda tajam.


Dain yang masih berada di depan bangunan itu bersama Gadis Suci entah kenapa hatinya merasa ikut tersayat dan sakit melihat tunangannya yang pergi menjauh kepada dirinya. Tetapi, pikirannya berkata untuk membiarkan dia pergi dan fokus untuk mengantarkan Gadis Suci ke kamarnya. Pertengkaran yang di saksikan oleh banyak orang membuat pandangan orang terhadap Dain sangat buruk lebih dari seorang tiran yaitu tidak punya hati ataupun air mata.


Clara berjalan hingga dia menemukan sebuah bangunan berwarna putih besar yang cukup tua, tetapi masih kokoh berdiri dan hanya banyak tanaman merambat yang menyelimuti bangunan tersebut. Karena Clara merasa tidak ada tempat lagi yang bagus untuk menjadi tempat beristirahat selain di dalam bangunan yang besar di depannya. Dibukanya pintu secara perlahan oleh Clara, gelap dan kotor di dalam bangunan itu membuktikan kalau bangunan ini sudah lama sekali tidak pernah terpakai. Clara berjalan hingga ke tengah ruangan dan tiba-tiba saja lilin-lilin menyala dan menyinari seluruh ruangan di tempat itu membuat Clara bisa melihat dengan jelas di depannya adalah sebuah altar persembahan ditengah-tengah aula yang besar dan luas.


Tidak terlalu jelas altar itu terlihat Clara memberanikan diri berjalan ke arah yang lebih dekat ke altar tersebut, setelah sangat dekat dengan altar itu Clara memeriksa meja berdebu itu terdapat lilin, piring-piringan dan sebuah batu nama tertutup dengan debu yang tebal. Penasaran dengan yang tertulis di batu nama itu Clara mengelapnya menggunakan gaun yang dia robek hanya untuk mengelap debu itu. Clara mengelapnya hingga terlihat sebuah tulisan di batu benar-benar jelas terlihat.


"Dewa Penulis Takdir Dan Mimpi?" Gumam Clara yang membaca tulisan di batu itu dengan tatapan kebingungan karena dia tidak pernah melihat atau mendengarkan nama dewa ini sebelumnya

__ADS_1


Clara langsung sadar dengan bentuk bangunan yang berwarna putih dan besar dimasuki olehnya mirip dengan sebuah kuil, Clara jadi tau kalau ini adalah kuil yang terlantar atau penganutnya mungkin saja telah hilang, sebab tidak pernah dia lihat dalam buku sejarah atau pun informasi yang dia dapatkan dari pendidikan keluarga mengenai nama papan dewa yang dia lihat ini. Clara mengingat-ingat berasal dari mana asal kepercayaan kepada dewa matahari atau dewa perdamaian muncul, kemudian dia melihat ke atas bentuk bangunan tua yang dia masuki.


Clara tidak menyangka dewa ini lebih tua dibandingkan dengan dewa yang di puja oleh banyak orang sekarang. Tapi dia merasa beruntung karena dia bisa tidur di tempat yang besar ini untuk satu malam, sebelum Clara memutuskan untuk tidur dia berdoa kepada dewa tersebut karena telah memberikan dirinya tempat untuk berlindung.


Clara tidur bersandar di dekat dinding di sebelah altar tanpa makan malam. Di sisi lain Violet dan Seyyal mengetuk pintu kamar Clara untuk mengajaknya makan malam bersama, tetapi tidak ada respon sama sekali dari balik pintu itu.


Mereka kemudian membuka pintu dengan Clara dengan kunci cadangan yang diberikan oleh pelayan yang mengurus acara ini. Setelah pintu terbuka, kedua orang itu terkejut kamar milik Clara masih rapi dan belum ada tanda-tanda pernah ada orang masuk ke dalam ruangan.


Violet dan Seyyal pergi ke tempat makan para bangsawan untuk menemui Edel, Rumman, Xiang dan Dain berada. Beberapa saat kemudian ketika Violet dan Seyyal sampai di ruang makan malah terlihat kalau Dain bersama dengan Gadis Suci, sedangkan Edel, Xiang dan Rumman berada jauh dari meja itu, Violet dan Seyyal merasa tidak heran jika Clara tidak terlihat dimanapun. Keduanya memutuskan untuk pergi ke meja Dain makan dan menanyakan dimana keberadaan Clara.


"Dain, katakan dimana Clara? Apakah kamu tau kalau dia sejak tadi tidak pernah terlihat?"


The Duke's Only Beloved Fiancé

__ADS_1


__ADS_2