
Semua orang yang berada di dalam ruangan aula terkejut dengan sikap yang di tunjukkan oleh Clara, karena tidak pernah sekalipun Clara seperti itu di depan banyak orang.
Paman dan bibi Clara terduduk dengan lemas di lantai dengan wajah yang pucat serta darah yang mengalir karena goresan belati yang mengenai mereka berdua, sedangkan kerabatnya menatap dalam ketakutan.
"Kenapa paman dan bibi hanya diam?" tanya Chara yang posisi kedua lutut yang ditekuk dan tumpuan tubuh terletak pada telapak kaki, dengan tatapan dingin dan aura yang haus darah
Dain yang merasakan aura Clara yang berubah setelah melemparkan belati langsung dengan cepat berjalan ke arahnya dan memeluk Clara untuk menenangkan sosok gadis itu. Sedangkan paman dan bibinya diam-diam bergerak mundur ke arah belakang dengan ketakutan.
"Kamu jadi tidak ingin mengatakan kebenaran paman dan bibi?" ucap Clara dengan tatapan dingin memandang pasangan paruh baya di depannya
"Clara, kamu tenangkan dirimu dulu,"
"Kamu tidak bisa menuduh atau menghakimi paman dan bibimu dalam masalah ini tanpa bukti,"
"Jika kamu menghakimi mereka seperti ini mungkin bisa saja mereka bukan pelakunya dan itu membuat dirimu membunuh orang dan menjadikan dirimu dicap sebagai orang yang berdarah dingin," ucap Dain yang sambil memeluk gadis itu dengan erat
Clara yang mendengarkan ucapan dari Dain tersadar kalau memang benar dia sama sekali tidak memiliki bukti jadi seharusnya dia tidak berbicara atau menghakimi seenaknya seperti itu, walaupun dia merasa yakin kalau paman dan bibinya dalang dari semua ini karena menginginkan harga keluarganya. Clara kemudian meminta maaf kepada mereka dan meminta mereka untuk pergi karena dia sedang berduka kematian ayahnya tentu saja tidak ada yang tidak setuju dari paman, bibi dan kerabatnya setelah melihat Clara yang melemparkan belati tiba-tiba.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian Clara berangsur-angsur menerima fakta kematian ayahnya dan mulai membaik dengan teman-temannya yang menginap di mansion untuk menghibur dirinya, namun tetap saja di dalam hatinya masih ada kebencian atas dendam di masa lalu yang ingin dia balaskan tidak akan pernah dia lepaskan atau membiarkan pelaku pembunuhan tersebut bebas begitu saja.
Clara hari ini ditemani tunangannya saat ini di taman minum teh hanya berdua, karena para asisten atau pelayan pribadi dari keluarga teman-temannya datang membawakan tugas yang mereka tinggalkan di kerajaan jadi mereka masing-masing sedang bekerja di dalam kamar tamu.
"Bagaimana Clara tehnya enak bukan?"
"Aku pikir karena kamu sangat suka dengan budaya negeri timur, jadi aku membeli salah satu teh produk khas timur dan tentu juga dengan cangkir teh yang khas di timur," ucap Dain dengan tatapan lembut dan perhatian kepada tunangannya di jawab dengan anggukan yang antusias oleh Clara
"Bagaimana bisa kamu mendapatkan teh yang enak ini? Dan bagaimana kamu tau cara menyeduhnya? Bukankah proses menyeduh teh di timur dan barat sangat berbeda? Aku dengar juga sangat sulit untuk mendapatkan rasa yang enak jika baru pertama kali mencoba," ucap Clara dengan tatapan penasaran setelah meminum seteguk teh yang diseduh oleh tunangannya
"Itu rahasia, tapi jika kamu ingin minum lagi aku akan menyeduhnya lagi untukmu,"
"Aku tau akhir-akhir ini kamu sering menatap ke luar jendela dan pada saat kita di taman kamu malah menatap gerbang yang padahal tidak ada pemandangan sama sekali di sana," ucap Dain sambil tersenyum lembut ke arah sosok gadis yang ada di depannya
Clara yang mendengarkan ucapan dari Dain tiba-tiba teringat kembali dengan kertas yang dia terima dari burung yang ada di kamarnya saat itu mengenai tawaran orang yang mengetahui siapa orang yang membunuh ayahnya dan organisasi yang dia tawarkan kepada Clara.
"Dain, kalau begitu bisakah kamu mengizinkan aku pergi sendirian ke alun-alun kota tanpa pengawal, pelayan ataupun ditemani siapa pun, karena aku ingin menikmati waktu sendirian di kota,"
__ADS_1
"Apakah boleh seperti itu?" ucap Clara dengan tatapan yang sedikit sedih membuat Dain terkejut karena tidak mungkin dia membiarkan tunangannya pergi sendirian ke kota yang ramai dan banyak kejahatan
"Tidak bisa Clara, pelaku pembunuhan ayahmu belum ditemukan dan juga aku khawatir kamu adalah target mereka selanjutnya," ucap Dain dengan menggeleng tidak setuju ke arah Clara yang ada di depannya
Clara tau kalau Dain sangat khawatir kepadanya, tapi Clara berpikir bagaimana bisa orang yang sangat kejam di medan perang saat ini begitu khawatir dengan tunangannya padahal saat perang dia tidak peduli dengan sesuatu, namun perlahan-lahan Clara mengerti setiap perbuatan dari Dain walaupun dia adalah laki-laki yang kaku. Dia berusaha yang terbaik untuk Clara dan begitulah hubungan mereka berdua sekarang baik dirinya dan Dain saat ini sudah tidak peduli dengan kontrak pertunangan karena mereka telah terbuka satu sama lain dan kontrak pertunangan itu telah lama di robek oleh Clara atas persetujuan Dain yang mengikuti kemauan tunangannya yang sangat-sangat dia cintai.
"Hah..."
"Clara, aku khawatir denganmu jadi pergi dengan pelayan ya nanti keluar rumah," ucap Dain dengan tatapan khawatir ke arah Clara dijawab dengan anggukan saja
"Baiklah, kalau begitu pengawalnya cukup satu orang ya dan aku ingin pergi besok tidak masalah kan?," ucap Clara dengan senyuman ke arah Dain yang menyeruput teh di cangkir teh kemudian meletakan cangkir teh di atas meja
"Baiklah, nanti akan aku berikan uang kepadamu," ucap Dain dengan senyuman tanpa curiga Clara akan melakukan apa di alun-alun kota nanti
Keesokan harinya pada saat Clara ingin keluar dari mansion untuk jalan-jalan di alun-alun kota, semua teman-temannya yang menginap dan tunangannya mengantar ke depan pintu, kemudian mereka mengatakan untuk hati-hati di jalan dan bersenang-senanglah membuat Clara tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kereta kuda.
Clara berangkat dengan seorang pengawal yang cukup diam menurut Clara dan mungkin akan mudah baginya untuk kabur secara diam-diam nantinya. Sesampainya di alun-alun kota Clara langsung ke toko butik pakaian dan setelah mencoba beberapa pakaian Clara izin untuk pergi ke toilet karena sakit perut, pelayan itu dengan cepat mengatakan kalau toilet berada di belakang, pengawalnya tentu tidak mungkin mengikutinya ke belakang jadi menunggu di sana. Beruntungnya untuk Clara kalau pintu belakang butik berada di dekat toilet dan tidak terkunci, diam-diam Clara keluar dengan tudung cadangan yang dia bawa. Clara mengikuti arahan dari kertas yang dia miliki hingga sampai ke sebuah bangunan yang besar tapi tua.
__ADS_1
"Jadi, di tempat ini ya? Memang aneh kalau sangat sunyi tapi mungkin saja ini adalah caranya untuk menjalankan bisnis,"
The Duke'S Only Beloved Fiancé