
Dua orang gadis masuk ke dalam sebuah ruangan yang merupakan kamar dari Clara tempati, keduanya terkejut kalau Clara telah bangun dan sedang menulis di sebuah buku.
"Clara, kami berdua baru berpikir ingin pergi ke kamarmu untuk melihat keadaanmu karena tiba-tiba pingsan,"
"Kamu pasti lelah karena mengurus acara pemakaman hingga membuatmu pingsan dan apakah keadaanmu baik-baik saja sekarang?" ucap Violet dengan tatapan khawatir ke arah Clara hanya di jawab dengan anggukan olehnya
Violet yang melihat respon anggukan dari Clara merasa masih ragu dengan keadaannya, karena Clara terlihat sedang gelisah dan mencoba memecahkan sesuatu. Keadaan yang begitu jelas di tunjukkan oleh Clara membuat Violet tentu tidak bertanya lagi tentang kondisinya.
Clara dengan cepat menyimpan buku kecil miliknya dan melanjutkan pembicaraan dengan kedua temannya hingga jam makan malam tiba, untuk pertama kalinya ketika dia datang ke rumah ini tidak ada sosok ayah lagi yang akan menemaninya makan. Perpisahannya dengan ayahnya terakhir kali benar-benar menjadi yang terakhir sebelum akhirnya nyawanya hilang.
Pada saat makan malam, Clara tidak banyak tersenyum di meja makan walaupun sudah diberikan candaan oleh teman-temannya dan Tunangannya yang tidak pernah sama sekali melakukan hal itu, tidak banyak respon yang di tunjukkan oleh Clara. Setelah selesai dia juga memutuskan untuk langsung berisitirahat di kamarnya menyelidiki tentang seperti apa senjata dan siapa orang yang tidak menyukai keluarganya, perlahan-lahan Clara tuliskan di dalam buku kecilnya dan mengingat apa yang terjadi.
"Tok... tok... tok..." Seekor burung muncul dan mengetuk pintu kaca menuju balkon membuat Clara terhenti dari kegiatannya menulis dan berpikir mengenai kasus yang terjadi
Pada saat Clara membuka pintu kaca itu, terdapat sebuah surat yang berada di kaki burung yang mengetuk pintu kacanya. Entah siapa yang mengirimkan surat itu, tetapi disana terdapat tulisan yang menyatakan kalau dia tau tentang pelaku dan ingin mengajak Clara untuk bekerja sama masuk ke dalam organisasi miliknya.
Di dalam surat itu juga tertulis jika Clara benar-benar setuju dengan hal ini maka Clara dapat menemuinya di sebuah tempat sendirian pada saat berpergian, karena ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaannya. Clara kemudian mengingat kembali isi dari novel yang ditulis oleh sahabatnya dulu tentang pemeran figuran atau sampingan lainnya yang mungkin pernah mengetahui informasi seperti ini.
Berjam-jam Clara berpikir dan berusaha mengingat kembali isi dari novel tersebut tetapi nihil hasilnya dia tetap tidak mengingat sosok yang mengetahui informasi seperti ini. Karena sudah terlalu larut Clara menyimpan kertas yang dia temukan di dalam catatannya untuk dia pikirkan lain kali masalah ini, menurutnya tidur satu-satunya solusi saat ini untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Keesokan harinya dari luar kamar Clara pada saat dia baru bangun tidur terdengar suara-suara teriakan marah-marah dan tidak terima, Clara penasaran tetapi dia masih menggunakan piyama dan para pelayan yang tidak ada di ruangan untuk membantunya bersiap atau membangunkan Clara membuat Clara harus bersiap sendiri.
Clara yang terburu-buru karena penasaran dengan apa yang terjadi di lantai satu mansion sama sekali tidak memperhatikan rambutnya di ikat dengan baik atau tidak dan sama sekali tidak berdandan. Setelah selesai Clara langsung berlari menuju lorong dan tangga ke lantai satu atau aula mansion, sesampainya disana betapa terkejutnya Clara dengan paman dan bibinya yang emosi datang ke tempat ini.
Paman dan bibinya yang datang setelah pemakaman kemarin dan mengatakan ingin mengurus mansion dan pekerjaan keluarga Fragrante, karena Clara akan menikah dengan Duke Freiheit datang ke mansion untuk menanyakan kapan Clara akan segera membuat surat perpindahan hak kepemilikan.
Clara tidak menyangka kalau paman dan bibinya datang ke mansion, dengan sikap yang angkuh hal ini membuat Clara merasa kalau mereka benar-benar keterlaluan, karena teman-temannya yang menginap saat ini harus turun ke lantai satu hanya untuk menghadapi paman dan bibinya walaupun mereka bukan bagian dari keluarganya.
"Apakah kalian tidak tau kalau Clara adalah keponakanku? Tentu saja kami harus membicarakan tentang masalah harta keluarga karena kakakku telah meninggal,"
"Dia akan menikah dengan keluarga Freiheit jadi tidak mungkin bukan mansion ini dibiarkan terbengkalai tanpa ada pewaris?"
Clara yang mendengarkan dengan jelas ucapan itu langsung berjalan ke depan tunangannya dan teman-temannya, karena dia tidak ingin teman-temannya terlibat dalam hal internal keluarganya.
"Sungguh pembicaraan yang menarik di pagi hari, aku sampai terbangun karena mendengarkan suara yang ribut dan langsung ke sini tanpa di dandani ataupun rambut terikat dengan rapi,"
"Paman dan bibi, sekarang aku dalam keadaan berduka karena ayahku meninggal dunia tetapi kalian bisa-bisanya datang ke tempat ini dan memarahi tunanganku dan teman-temanku,"
"Apakah menurutmu bisa membahas masalah harta saat ini? Baru satu hari berlalu ayahku dimakamkan,"
__ADS_1
"Sangat aneh jika kalian sama sekali tidak sedih ataupun terpukul karena kematian ayahku yang mati karena di tusuk oleh orang yang entah siapa musuhnya,"
"Apakah kalian tau sesuatu?" ucap Clara dengan tatapan dingin dan tajam ke arah paman dan bibi serta kerabatnya yang berada di belakang kedua orang tersebut
Clara memperhatikan dengan tatapan menyidik ke arah paman dan bibinya kemudian ke arah kerabatnya yang berada dibelakang untuk melihat ekspresi seperti apa yang akan mereka tunjukkan saat mendengarkan ucapan darinya.
"Clara, mana mungkin kamu tau tentang musuh atau orang-orang yang tidak menyukai ayahmu dan masalah harta harus secepatnya atau tidak wilayah ini akan hancur,"
"Kami hanya khawatir dengan rakyat yang tinggal di wilayah ini jika lama di tinggalkan," ucap sang paman dengan ekspresi yang khawatir diikuti dengan anggukan yang lain
Clara menatap dengan tatapan menyidik cara bicara dan ekspresi orang-orang yang berada di depannya, kemudian dia berjalan ke arah paman dan bibinya lebih dekat. Setelah merasa cukup dekat Clara menatap mereka lagi dengan dingin sambil Melemparkan sebuah belati yang selalu dia bawa ke arah tengah-tengah paman dan bibinya, Clara tidak berniat membunuh jadi hanya melukai pipi keduanya saat belati itu lewat dengan cepat.
"Maafkan aku tanganku licin, aku sebenarnya hanya ingin mengeluarkan belatinya saja,"
"Tapi sepertinya sangat licin hingga membuatku melemparkannya,"
"Paman dan bibi, kenapa kalian tiba-tiba pucat?"
The Duke's Only Beloved Fiancé
__ADS_1