The King Of Baiyun Kingdom

The King Of Baiyun Kingdom
Awal Perjalanan


__ADS_3

Hari kepergian YingXiong akhirnya tiba, pemuda itu sedang bersujud kepada kakek untuk meminta restu.


Kakek menerima penghormatan pemuda itu dan merestui kepergiannya. Kakek juga sudah menyiapkan perbekalan untuknya dan memberikan beberapa pesan dan arahan.


YingXiong mengangguk dan berjanji akan mengingat semua perkataan kakeknya yang telah merawatnya itu.


YingXiong memeluk kakek selama beberapa saat sebelum meninggalkan tempat yang telah membesarkannya itu.


Dari yang kakek informasikan kepada YingXiong, pemuda itu bisa meninggalkan lokasi tersebut dengan menemukan sebuah gua. Di dalamnya terdapat pintu rahasia untuk sampai ke permukaan.


Setelah beberapa saat, YingXiong menemukan gua tersebut dan tanpa pikir panjang langsung memasukinya.


Dia menemukan sebuah pintu rahasia yang tampaknya sudah dirawat selama ini oleh kakek. Pintu itulah awal YingXiong mengarungi dunia luar.


Pemuda itu tidak menyadari, bahwa setelah ia meninggalkan rumah, ia akan menemukan banyak peristiwa yang mengubah hidup dan pandangannya.


*****


"Wow ada manusia juga di jalanan sepi seperti ini." Gumam seorang pemuda dengan baju sederhana dan biasa-biasa saja. Selain itu, ia juga menyandang sebuah gumpalan kain di bahu kanannya yang di dalamnya berisi pakaian ganti serta perbekalan lainnya. Di belakangnya juga tersarung sebuah tongkat yang terbuat dari bambu.


Jika orang-orang tidak memperhatikannya lebih lama dan teliti maka mereka tidak akan mengira pemuda tersebut adalah seorang pendekar. Ia lebih cocok seperti pengemis!


Ia mencoba mendekati rombongan pedagang itu berharap bisa mendapatkan informasi dari mereka. Tapi sayang, niatnya dan harapannya tidak berjalan dengan mulus. Bukannya mendapatkan jawaban yang ia perlukan, maka ia diusir dan dipermalukan.


"Pergi sana, dasar pengemis sialan. Masih muda sudah seperti itu, mau jadi seperti apa kalau tua nanti." Hardik sang pedagang pakaian tersebut.


Pemuda itu tidak menjawab ataupun melawan, dia hanya tersenyum tipis lalu meninggalkan pedagang itu. Ia juga menatap kiri dan kanannya, pemuda itu bisa merasakan tatapan marah dan jijik dari orang-orang yang berada disana.


Setelah ia cukup jauh dari sekumpulan orang itu, pemuda tersebut memandangi bajunya dan ia menemukan beberapa robekan yang tidak terlalu besar tetapi cukup jelas.


"Apakah karena baju ini mereka menganggap ku pengemis?" Tanya pemuda itu dalam hatinya. Pemuda tersebut tidak lain adalah YingXiong.


Ia mengetahui dari kakek bahwa pengemis adalah orang-orang yang suka meminta-minta. Kebetulan atribut yang mereka gunakan tidak berbeda dengan pakaian yang YingXiong kenakan sekarang. Tidak berlebihan juga jika menganggapnya sebagai seorang pengemis!

__ADS_1


"Andaikan aku banyak pakaian ganti, kalian pikir aku sudi berpakaian seperti ini." YingXiong mengumpat. Ia lalu mengingat kembali dengan yang terjadi padanya sebelumnya dan penyebab pakaiannya menjadi seperti sekarang.


Sebelumnya, saat ia keluar dari pintu rahasia. YingXiong menemukan dirinya berada di sebuah hutan yang tidak ia kenali.


Belum sempat ia mencari tahu, YingXiong sudah berada dalam masalah. Ia melihat sebuah kawanan serigala sedang mengejar buruan mereka. Sialnya bagi YingXiong, buruan berwujud seekor rusa jantan itu berlari ke arahnya.


"Sial!" Gerutu YingXiong. Ia tidak menduga bahwa awal perjalanannya di dunia luar sudah disambut seperti ini.


Mau tidak mau YingXiong harus melawan mereka, karena kawanan serigala itu sudah menatap penuh nafsu kepadanya.


***Auuuuuunggggggg


Auuuuuunggggggg***


Timbal balik lolongan antara serigala yang satu dengan yang lainnya. Seolah memanggil kawanannya yang lain dan memberitahukan bahwa mereka sedang melihat mangsa.


Tanpa menunggu lama, seekor serigala langsung melompat ke arah YingXiong dan beberapa saat kemudian di susul oleh serigala lainnya.


"Ingin menjadikanku mangsa? Tidak semudah itu." YingXiong menghindari serangan serigala itu dengan mudah. Bukan hanya menghindar, YingXiong juga membalas serangan itu dengan pukulan.


Dalam waktu singkat, YingXiong bisa melumpuhkan dua ekor serigala sekaligus.


Serigala lain yang melihat temannya terbaring di tanah tak bernyawa bukannya takut dan memilih kabur, sebaliknya mereka lebih ganas daripada sebelumnya.


Dengan menunjukkan gigi-gigi tajam mereka, delapan serigala yang tersisa mulai kembali menyerang pemuda tersebut. Walaupun tidak berhasil melukainya, para serigala itu berhasil merobek beberapa bagian pakaian YingXiong sebelum menghembuskan nafas terakhir mereka.


YingXiong pernah mendapat cerita dari kakek, bahwa kulit serigala cocok untuk dibuat bahan pakaian ataupun lainnya. Sebab itulah ia menguliti mayat serigala-serigala itu sebelum ia meninggalkan tempat itu.


*****


"Apa sebaiknya ku jual saja kulit serigala ini kepada para pedagang itu? Atau setidaknya aku bisa menukarkannya dengan beberapa pakaian ataupun makanan." Gumam YingXiong mempertimbangkannya.


Akhirnya setelah menimbang dan menimang beberapa saat, YingXiong memutuskan untuk kembali ke para pedagang dan mulai bernegosiasi dengan mereka.

__ADS_1


"Hei lihat pengemis tidak tahu diri ini kembali lagi. Tampaknya dia masih tidak menyerah." Ucap seorang pedagang sayur.


Mereka melempari YingXiong dengan dagangan mereka dan separuhnya melempari YingXiong dengan batu.


YingXiong tidak merasakan sakit atau lainnya dari lemparan-lemparan para pedagang itu sebab ia menggunakan tenaga dalamnya untuk menguatkan tubuhnya dan menahan rasa sakitnya.


"Aku hanya berniat menukar dan menjual kulit serigala ini. Lupakan saja, aku bisa menjualnya kepada orang lain." Gumam YingXiong dalam hatinya sambil menahan emosinya agar tidak terpancing.


Salah satu pesan kakek sebelum ia meninggalkan rumah adalah tidak mudah tersulut emosi dan membuat kerusakan. Jika bukan masalah yang besar dan masih bisa dihindari, sebaiknya YingXiong menghindarinya.


YingXiong kemudian membalikkan badannya lalu meninggalkan para pedagang itu. Setelah kepergiannya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, barulah para pedagang itu menyadari bahwa pemuda tersebut adalah seorang pendekar.


Mereka membuka dan menutup mulut mereka, sadar telah melakukan kesalahan. Mereka berterima kasih karena ditemukan dengan pendekar yang tidak mudah emosi, kalau tidak maka mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada hidup mereka.


Akhirnya mereka berjanji dalam hati, aku lebih menjaga sikap dan lisan mereka dikemudian hari. Agar mereka tidak perlu berurusan dengan pendekar lagi.


Perjalanan memang tidak selalu mulus, adakalanya kita akan menemui kesulitan. Seperti halnya sekarang, rombongan pedagang yang mengusir YingXiong sebelumnya kini harus berlutut dan memohon di hadapan sepuluh orang bertopeng, sembilan diantaranya menggunakan topeng warna hitam dengan corak burung elang. Sementara yang satunya menggunakan topeng corak burung elang juga tetapi berwarna putih.


Mereka tidak lain adalah kelompok Elang Sakti.


"Tinggalkan semua barang kalian kalau mau bertahan hidup. Sebenarnya kami tidak keberatan untuk menghabisi nyawa kalian, tapi beruntungnya hari ini hati kami sedang baik. Jadi kami bisa melepaskan kalian." Ucap sosok di balik topeng putih itu. Dari suaranya, jelas-jelas sosok tersebut adalah seorang wanita.


"Tolong ampuni kami, biarkan kami meninggalkan tempat ini dan membawa barang-barang kami. Kami akan menggantinya dengan uang." Ucap salah satu pedagang memberanikan diri. Belakangan diketahui, ia adalah pemimpin dari rombongan pedagang tersebut.


"Lancang, siapa yang menyuruhmu bersuara. Pada kondisi seperti ini, apakah kalian merasa memiliki hak untuk melakukan negosiasi?" Teriak wanita di balik topeng itu dengan geram.


"Kami benar-benar memohon kepada kalian. Tolong lepaskan kami bersama barang-barang kami. Kalau kalian ambil semuanya, kami harus menjual apa?" Pemimpin rombongan pedagang itu kembali memohon diikuti pedagang lainnya.


"Kurang ajar, sudah diberikan keringanan malah nuntut lebih. Sudahlah, lupakan saja dengan pengampunan yang aku berikan sebelumnya."


"Serang mereka dan ambil semua hartanya. Bunuh dan jangan sisakan satupun yang selamat." Wanita di balik topeng itu memberikan perintah kepada bawahannya.


Belum sempat anggota kelompok Elang Sakti mengeksekusi satupun pedagang, tiba-tiba suara yang cukup besar terdengar di udara.

__ADS_1


"Kelompok sebesar seperti Elang Sakti yang isinya para pendekar melakukan hal seperti ini kepada manusia biasa. Sungguh perilaku yang tidak patut."


__ADS_2