
YingXiong tidak berniat tinggal lebih lama di tempat itu, ia sudah membunuh dua orang pemimpin kelompok Elang Sakti yang tentu saja pemimpin yang lain tidak akan tinggal diam saat mendengar kabar tersebut. Apalagi saat ini ia bersama dengan Mu Rong, YingXiong tidak ingin menempatkan gadis kecil itu dalam bahaya.
YingXiong menggendong Mu Rong seperti biasanya, ia terbang dari pohon ke pohon menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
"Kak Ying, apakah kau bisa mengajari Rong'er terbang seperti itu. Rong'er sangat menyukainya." Di sela-sela perjalanan, Mu Rong bertanya.
"Tentu saja bisa, nanti kalau kita ada waktu luang kak Ying akan mengajarimu!" Balas YingXiong tersenyum tipis. Ia sudah berjanji dalam hatinya akan berusaha mengabulkan semua permintaan Mu Rong.
"Asik, aku akan bisa terbang sendiri!" Gadis kecil itu melompat-lompat kegirangan di punggung YingXiong.
Melihat hal tersebut, YingXiong menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa puas. Ia ikut bahagia jika Mu Rong bahagia.
YingXiong memperlambat kecepatannya setelah melihat sebuah desa. Ia juga memilih mengajak Mu Rong untuk berjalan seperti manusia biasa karena tidak ingin terlalu mencolok.
Keduanya memasuki desa tersebut dan langsung disambut pemandangan yang kurang mengenakkan.
Terlihat tiga orang pria penduduk desa yang sedang di hukum cambuk oleh prajurit kerajaan. Bukan hanya itu, ketiganya juga ditelanjangi dan di ikat di tiang yang ada di tengah desa.
"Rong'er, tutup matamu!" YingXiong meminta gadis kecil itu menutup matanya. Walaupun Mu Rong telah melihat beberapa pembunuhan, tapi untuk yang satu ini YingXiong tidak bisa membiarkannya melihat. Ini bukanlah sebuah pembunuhan, melainkan lebih sadis dan kejam dari itu.
YingXiong mendekati para warga yang mengelilingi tempat itu. Mereka menangis tapi tidak ada yang berani melawan. Hanya kesedihan dan ketakutan yang mereka tunjukkan.
YingXiong mendekati seorang warga untuk mencari tahu kebenarannya.
"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya YingXiong pada seorang pria paruh baya yang terlihat ikut menangis melihat kekejaman para prajurit itu.
Pria paruh baya itu menghentikan tangisnya lalu memandangi YingXiong dari atas sampai bawah lalu menggelengkan kepalanya.
"Nak, pemuda sepertimu sebaiknya tidak mengetahui hal seperti ini." Pria paruh baya itu enggan memberi tahu YingXiong karena menurutnya tidak baik pemuda seperti YingXiong mengetahuinya.
"Tapi paman, jika kau memberitahuku penyebabnya, mungkin aku bisa membantu ketiga paman itu jika mereka tidak bersalah." YingXiong kembali membalas dan mencoba menyakinkan pria paruh baya itu untuk menceritakannya.
"Nak, lihat dirimu untuk melindungi diri sendiri saja kau tampak kesusahan apalagi ingin membantu mereka. Apalagi kau membawa anak kecil ini, jangan menempatkan dirimu dalam bahaya." Pria paruh baya itu tetap menolak menceritakan.
__ADS_1
"Paman tidak perlu khawatir, di balik tubuhku yang kecil ini ada kekuatan yang besar tersimpan." YingXiong tetap terus mencoba menyakinkan pria paruh baya tersebut.
"Nak, apakah kau seorang pendekar?" Tanya pria paruh baya.
"Benar paman!" Jawab YingXiong pelan.
"Nak, kalau begitu kau memang bisa membantu mereka." Pria paruh baya itu hampir bersujud kepada YingXiong jika pemuda itu tidak menghentikannya.
Hal tersebut juga mengundang perhatian para warga yang lain, mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan seorang warga desa dengan pemuda yang sedang menggendong gadis kecil itu.
Hal itu juga tidak luput dari perhatian para prajurit yang sedang mencambuk tiga pria yang diikat itu.
"Hei kau, jangan berisik! Kalau tidak kau juga akan bernasib sama dengan tiga ba**ngan ini." Teriak seorang prajurit sambil mendorong tangannya mengisyaratkan mengusir pria paruh baya dan YingXiong.
Melihat hal tersebut YingXiong mengajaknya pergi dan mencari tempat untuk menceritakan semuanya.
*****
"Begitulah kejadian yang sebenarnya tuan pendekar. Apakah kau bisa membantu mereka?" Tanya pria paruh baya setelah selesai bercerita kepada YingXiong.
"Rong'er, tunggu disini sebentar ya!"
YingXiong kemudian berjalan mendekati para prajurit yang sedang menghukum tiga orang pria itu dengan perasaan marah dan murka. Darah sudah mendidih di kepalanya. Ini pertama kalinya YingXiong begitu marah kepada seseorang.
Sebelumnya YingXiong sudah mendengarkan cerita dari pria paruh baya, ia mengatakan bahwa ketiga orang itu adalah pemuda desa mereka.
Ketiganya terkenal baik, sopan dan sangat mementingkan warga desa lainnya. Ketiganya sering memberikan bantuan kepada warga, baik itu tenaga, uang ataupun jasa lainnya.
Desa ini sedang mengalami keterpurukan, kemiskinan dimana-mana. Bahkan untuk makan saja mereka susah.
Melihat hal itu, ketiga pemuda itu memutuskan untuk mencuri barang-barang ataupun harta dari orang-orang kaya yang pelit ataupun pejabat yang korup dan membagikan hasilnya kepada para warga desa.
Para warga tahu itu adalah sebuah kejahatan. Tapi menurut mereka itu juga tidak salah karena ketiga pemuda itu mencuri dari pemerintah yang korup dan orang-orang kaya yang pelit.
__ADS_1
Dalam sekejap, ketiga pemuda itu menjelma bak malaikat bagi para penduduk desa. Nama mereka di eluhkan dan disorakkan dimana-mana.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena orang-orang yang menjadi korban pencurian ketiga pemuda itu melaporkan hal tersebut kepada pihak kerajaan. Sebab itulah hal tersebut terjadi pada hari ini.
YingXiong juga mengetahui yang dilakukan oleh ketiga pemuda itu adalah kejahatan, tapi menghukum mereka sekejam itu lebih jahat lagi. Apalagi mereka melakukannya untuk kepentingan rakyat.
Itu bukanlah kesalahan mereka sepenuhnya, pemerintah dan orang-orang kaya juga salah. Disaat mereka memiliki banyak harta yang berlimpah, mereka tidak mencoba untuk membantu sesama. Malah melakukan hal yang curang untuk menambah kekayaan mereka sendiri.
Negara yang makmur adalah negara yang rakyatnya sejahtera. Negara yang kuat adalah negara yang rakyatnya aman sentosa. Negara yang maju adalah negara yang rakyatnya bisa hidup dengan layak. Tanpa itu semua, apakah negara bisa dikatakan sedang baik-baik saja!
YingXiong tidak membenarkan perbuatan ketiga pemuda itu, tapi ia benci jika melihat ada orang yang tidak menjunjung tinggi keadilan.
Mereka melakukannya karena keadaan, jadi tidak perlu menghukum mereka dengan kejam seperti itu.
Para warga berhenti menangis saat melihat YingXiong maju. Mereka beralih berteriak dan mencoba menghentikan langkah pemuda itu.
"Jangan nak!" Teriak para warga.
Tapi YingXiong tidak mendengarkannya. Ia terus berjalan mendekati para prajurit. Dan saat prajurit itu menarik cambuknya untuk dilayangkan kepada ketiga pemuda itu, YingXiong menangkapnya.
"Hentikan!!!" YingXiong berteriak kencang, bahkan ia juga menambahkan tenaga dalam untuk memperbesar suaranya.
Tempat itu bergema, burung-burung beterbangan dari atas pohon bahkan daun-daun ikut gugur karena teriakan pemuda itu. Bahkan waktu terasa berjalan lebih lambat daripada kenyataannya.
"Hei nak, apa yang kau lakukan?!" Prajurit yang ditahan cambuknya itu mendengus kesal. Ia menarik cambuknya tapi tidak berhasil melakukannya. YingXiong menahannya dengan tenaga dalamnya.
"Kalian tidak berhak melakukan kekejaman ini!" YingXiong menundukkan kepalanya tapi nada suaranya dingin dan menakutkan. Tidak ada yang mengetahui apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Kalian tidak berhak melakukan ini!!!" YingXiong mengulangi kata-katanya, tapi kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Bukan hanya berteriak, sedetik kemudian ia menarik cambuk itu dan membuat prajurit yang memegangnya terlempar menghantam bangunan yang tidak jauh dari sana.
"Kalian menghukum orang yang lemah tanpa rasa kasihan dan bersalah. Aku juga akan melakukan hal yang sama!"
YingXiong bergerak dengan cepat. Para prajurit itu hanyalah manusia biasa. Mereka tidak bisa mengikuti langkah YingXiong yang begitu cepat. Di mata mereka pemuda itu bergerak bagaikan kilat. Hanya angin keberadaannya saja yang bisa mereka rasakan.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, lima orang prajurit yang memberi hukuman kepada ketiga pemuda itu terlempar di seluruh penjuru arah. Menghantam bangunan yang tidak jauh disana.