
"Apa-apaan ini!" Shen Yue mendengus kesal di hatinya. Hal itu dikarenakan jantungnya berdetak dengan kencang selama beberapa waktu ketika pandangannya bertemu dengan pemuda yang sama dengan yang ditemuinya di restoran.
"Apakah ini yang dimaksud ibu?" Gumamnya kembali di dalam hati. Jika di ingat-ingat lagi, ini kali pertama dia merasakan hal seperti itu. Padahal di sektenya banyak pemuda-pemuda yang tampan, tapi tidak ada yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
Shen Yue pernah mendengar cerita dari ibunya, ketika jantung kita berdegup kencang saat melihat atau bertemu dengan lawan jenis, maka itu adalah cinta. Cinta pandangan pertama tepatnya.
Shen Yue menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Ia lalu memfokuskan dirinya untuk menonton pertarungan yang terjadi di arena. Tapi ia tidak bisa melakukannya, matanya tetap sesekali melirik ke arah pemuda 'itu'.
"Pemuda yang tampan... dan juga penyayang!" Gumam Shen Yue pelan ketika melihat pemuda 'itu' sedang menjahili gadis kecil yang digendongnya dengan bahagia.
*****
"Sudah hentikan kak Ying... hehehe...hahaha...huhuhu!" Pinta Mu Rong karena YingXiong terus menerus menggelitiknya.
"Nanti....aku...pipis...di...celana...!" Mu Rong terus tertawa. Tetapi YingXiong tetap tidak menghentikan keusilannya itu.
Ia baru berhenti setelah banyak pasang mata melihat ke arahnya dengan tatapan yang penuh ketidaksenangan.
"Hei nak, kalau kau ingin bermain dengan adik kecilmu itu sebaiknya kau pulang saja ke rumah. Kau bisa melakukannya dengan leluasa. Di sini bukan tempat bocah ingusan sepertimu." Ucap seorang pria paruh baya. Ia tampak terganggu dengan yang dilakukan YingXiong.
"Maafkan aku paman!" YingXiong tersenyum tipis, ia tidak marah dengan teguran itu walaupun terdengar tidak enak di dengar. Karena ia menyadari kesalahannya. YingXiong akhirnya memfokuskan dirinya untuk menonton pertarungan saja.
"Kak Ying, apakah kau bisa seperti mereka?" Tanya Mu Rong di sela-sela menonton pertarungan.
"Tentu saja! Bahkan kakak lebih kuat dari mereka." YingXiong menunjukkan otot-ototnya pada Mu Rong.
"Dengan sekali pukulan saja, kakak bisa mengalahkan mereka!" Jawabnya dengan percaya diri.
Tanpa YingXiong sadari, ternyata ada salah satu penonton yang mendengarkan ucapannya dengan seksama. Ia lalu maju ke depan mendekati arena pertarungan.
"Kak Gong, cepat habisi lawanmu. Ada bocah ingusan yang menentangmu. Dia mengatakan bisa mengalahkanmu dengan sekali pukulan saja." Bisiknya kepada salah satu petarung. Ternyata orang yang mendengar perkataan YingXiong sebelumnya adalah teman dari salah satu dari peserta yang bertarung.
__ADS_1
"Siapa yang berani meremehkan ku!" Balas pria besar dan tinggi itu. Bisa dibilang dia adalah manusia raksasa.
Petarung itu meregangkan jari-jari tangan dan otot-ototnya membuat suara yang cukup besar.
"Aku akan mematahkan tulangnya sampai keluar suara seperti itu." Petarung raksasa tersebut berdiri dari tempat duduknya. Ia sedang menunggu wasit memulai ronde kedua.
Pada ronde pertama, petarung raksasa itu hanya menerima serangan dari lawannya. Tetapi ia tidak bisa dikalahkan. Lebih tepatnya, petarung raksasa sedang mempermainkan lawannya.
KRING KRING
Akhirnya sang wasit pun membunyikan lonceng ditangannya sebagai tanda pertarungan kembali dimulai.
Lawan petarung raksasa kembali dengan percaya diri. Dia mengira bahwa petarung raksasa akan melakukan hal yang sama seperti di ronde pertama.
Tapi kenyataannya tidak, pada saat ia ingin maju dan memukul petarung raksasa. Sesuatu menghantam perutnya, bukan hanya itu tubuhnya langsung terpental puluhan meter dan keluar dari arena. Tubuhnya baru berhenti melayang setelah menabrak bangunan yang tidak jauh dari sana.
Semua orang berteriak senang, mereka juga menggaungkan nama petarung raksasa itu.
Petarung Gong mengangkat kedua tangannya merayakan kemenangannya. Ia juga menelisik para penonton. Pandangannya berhenti setelah menemukan orang yang ia cari.
"Hei kau, aku menantangmu untuk bertarung diatas sini." Petarung Gong menunjuk ke arah satu pemuda yang sedang menggendong gadis kecil.
Semua mata penonton tertuju pada orang yang ditunjuk oleh petarung Gong dan menemukan pemuda itu terlihat kebingungan.
"Aku!" Pemuda itu menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. Pemuda itu tidak lain adalah YingXiong.
"Iya kau! Siapa lagi yang berani menghinaku dari belakang kalau bukan bocah ingusan sepertimu!" Petarung Gong menghentakkan kakinya membuat tempat yang dipijaknya retak.
"Matilah kau!" Ucap para penonton.
"Aku tidak melihat ini akan menjadi sebuah pertarungan. Ini lebih layak disebut penganiayaan." Penonton yang lain berpendapat.
__ADS_1
Mendengar ejekan-ejekan dari para penonton membuat telinga YingXiong sedikit sakit. Di tambah melihat Mu Rong yang tampak ketakutan karena teriakan petarung Gong. YingXiong memutuskan untuk menerima tantangan petarung Gong.
"Rong'er, kau tunggu disini. Kakak akan menyelesaikannya dengan cepat!" YingXiong tersenyum tipis kepada Mu Rong sambil menurunkan dari gendongannya.
"He'e!" Mu Rong menganggukkan kepalanya.
"Kak Ying, hati-hati! Jangan sampai kau terluka!" Mu Rong mengingatkan, ia tidak tahu apakah YingXiong benar-benar mampu mengalahkan petarung Gong itu. Tapi Mu Rong mempercayainya.
Baru saja YingXiong menaiki arena pertarungan. Tiba-tiba seseorang melompat ke depannya. YingXiong mengenalinya sebagai gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang.
"Kau bisa melawanku senior. Aku akan menggantikannya!" Ucap gadis itu sambil menghunuskan pedang ditangannya.
*****
"Apakah pemuda itu gila? Ingin melawan manusia raksasa itu? Apa dia tidak menyayangi nyawanya?" Shen Yue mematung saat melihat YingXiong menerima tantangan petarung raksasa.
Shen Yue tidak melihat bahwa YingXiong adalah seorang pendekar karena ia tidak merasakan aura khusus pendekar saat di restoran.
Walaupun ia melihat ada sebatang bambu di punggung YingXiong, Shen Yue tidak bisa melihat itu adalah sebuah senjata. Dilihat dari sisi mana pun, bambu itu hanyalah bambu biasa. Shen Yue bahkan menduga bahwa bambu itu digunakan YingXiong untuk membantunya saat pemuda itu kelelahan.
Sementara di sisi lain, petarung Gong itu adalah seorang pendekar perunggu kelas tiga yang kekuatannya telah mendekati pendekar perak kelas satu. Petarung Gong itu hanya butuh beberapa dorongan saja untuk naik ke tahap selanjutnya.
"Tidak perlu nona, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Terima kasih telah berniat membantu. Aku akan berterima kasih secara langsung setelah ini." YingXiong berjalan mendekati Shen Yue. Ini pertama kalinya ia dekat dengan seorang wanita yang hanya berjarak kurang dari satu meter saja.
"Kau...!" Shen Yue ingin memarahi YingXiong karena ia mengira pemuda itu tidak mengerti situasinya.
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri nona. Kalau kau khawatir denganku, kau bisa melihatnya dari sana. Jika dia mau membunuhku, kau bisa menolongku dengan cepat." YingXiong tersenyum tipis.
"Tidak perlu... Aku tidak peduli lagi denganmu. Lagipula tidak ada keuntungan untukku jika membantumu." Shen Yue berjalan keluar arena sambil memukul kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu.
Entah itu karena hati nuraninya yang selalu ingin menegakkan keadilan dan membantu orang lemah, atau karena hal lainnya. Karena ia tidak ingin YingXiong terluka, misalnya. Entahlah, Shen Yue tidak menyadarinya.
__ADS_1
Meskipun demikian, Shen Yue berharap YingXiong memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkataannya.