
Setelah para prajurit terpental, YingXiong kembali bersuara, "Aku membantu mereka bukan karena aku membenarkan tindakannya, tapi aku tidak suka melihat kekejaman dan ketidakadilan. Bagaimanapun pencurian adalah tindakan kejahatan dan patut di hukum, tapi tidak seperti ini caranya." YingXiong meninggikan suaranya supaya di dengar oleh semua orang yang berada disana.
"Kalian para prajurit seharusnya melindungi rakyat, bukan malah sebaliknya menghukum dan mempermalukan mereka."
Di sela-sela YingXiong berbicara, para prajurit yang dihajarnya sudah bangkit. Tapi mereka tidak mencoba menyerang lagi, sebaliknya mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Penduduk desa yang melihat kepergian para prajurit kini berbondong-bondong mendekati YingXiong dan tiga pemuda yang dihukum sebelumnya.
YingXiong tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan pedang milik Yun Shui dari cincin Merah Darah dan langsung memotong rantai yang mengikat ketiga pemuda tersebut.
Mereka langsung bersujud, berterima kasih kepada YingXiong karena telah membantu ketiganya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika pemuda itu tidak datang menolong. Paling ringan mereka akan mengalami lumpuh dan paling parah mereka akan kehilangan nyawa.
Nama YingXiong pun mulai digaungkan, dimulai dari suara pria paruh baya yang bersamanya beberapa waktu lalu.
"Hidup pendekar Ying!"
"Hidup pendekar Ying!"
"Hidup pendekar Ying!"
Suara menggema dimana-mana, YingXiong hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia lalu mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat untuk mereka diam.
"Aku tidak tahu apa yang menimpa kalian sehingga bisa dalam posisi seperti ini. Tapi aku akan memperbaiki semuanya."
Setelah YingXiong mengatakan keinginannya, seorang pria yang terlihat berusia lima puluh tahunan datang mendekatinya. Ia mengenalkan bahwa dirinya adalah kepala desa dari desa tersebut. Pria berbadan bongsor itu lalu mengenalkan namanya sebagai Lu Chuang.
"Pendekar Ying, pertama-tama aku berterima kasih atas nama wargaku. Lalu atas nama anakku." Ternyata, salah satu dari pemuda yang di hukum para prajurit sebelumnya adalah anak dari kepala desa. Lebih tepatnya anak angkat dari kepala desa.
"Maafkan kelancanganku, tapi tadi pendekar Ying mengatakan ingin membantu kami. Bantuan seperti apa yang pendekar Ying maksud?" Kepala desa Lu berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung YingXiong.
__ADS_1
Sebelum berbicara, YingXiong mengambil Mu Rong dari pria paruh baya yang menjaganya kemudian menggendongnya kembali.
YingXiong melirik Mu Rong sebentar dan melihat gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Mu Rong sudah mengetahui maksud dari YingXiong. Meskipun dirinya masih kecil, tapi ia selalu menanamkan nilai-nilai yang ayahnya ajarkan. Salah satunya membantu sesama.
"Pertama, setelah membuat urusan dengan pihak pemerintahan tentunya kalian akan dipersulit, jadi aku sudah memutuskan untuk mengajari para pemuda desa beberapa ilmu beladiri yang bisa kalian pelajari untuk mempertahankan hidup karena itu hak kalian.
Tapi kalian harus berjanji tidak akan menyalahgunakannya, atau aku sendiri yang akan mencari kalian dan memberikan hukuman!" Jelas YingXiong. Syarat itu langsung disetujui oleh para pemuda yang ada disana.
"Selanjutnya aku akan memberikan bantuan modal untuk kalian bertani, berternak dan berdagang, dengan begitu kalian tidak perlu melakukan kejahatan lagi untuk mendapatkan uang." YingXiong mengingat satu ajaran dari kakeknya.
"Ketika kau memberikan seseorang uang untuknya membeli makanan, maka kau bisa membuatnya hidup selama satu hari. Tapi jika kau memberikan seseorang itu sebuah pekerjaan, maka kau bisa membuatnya hidup selama satu tahun."
YingXiong selalu mengingat ajaran itu dan mengartikan makna yang terkandung di dalamnya. Sederhananya, lebih baik memberikan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk jangka panjang daripada memberikan sesuatu yang bersifat sebentar.
YingXiong memberikan sekantong uang kepada kepala desa dan menyuruhnya untuk membaginya dengan adil.
Karena sudah berjanji akan melatih para pemuda desa beberapa ilmu beladiri, YingXiong memutuskan untuk tinggal lebih lama di tempat itu. Lagipula, YingXiong yakin para prajurit akan datang lagi untuk memberikan hukuman yang lebih berat kepada para warga karena mereka mengira YingXiong sudah meninggalkan tempat itu.
YingXiong di ajak kepala desa untuk tinggal di kediamannya. Semuanya membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya YingXiong mulai menjalankan janjinya, ia mulai mengajari para pemuda desa beberapa ilmu beladiri. Di sisi lain, kepala desa mulai membagikan uang yang YingXiong berikan sebelumnya.
Tidak terasa waktu berjalan terasa begitu cepat, YingXiong dan Mu Rong sudah seminggu tinggal di tempat itu. Hubungannya dengan para warga pun kini sudah sangat dekat.
Para pemuda yang diajarinya ilmu beladiri pun perlahan-lahan mulai menguasainya. YingXiong sengaja mengajari mereka jurus yang tidak membutuhkan tenaga dalam untuk mempelajari dan menggunakannya. Menurutnya itu lebih dari cukup sebagai bekal diri mereka.
Suatu hari saat YingXiong sedang menyandarkan kepalanya di sebuah pohon, menikmati pemandangan alam yang indah dan para penduduk desa yang sedang membajak sawah. Ia dikejutkan oleh teriakan salah satu warga. Warga itu menginformasikan bahwa desa mereka di datangi prajurit kerajaan Baiyun. Yang membuat warga itu ketakutan karena ada perwira tinggi yang ikut dalam rombongan prajurit itu.
YingXiong bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu mengikuti warga kembali ke desa untuk menemui rombongan prajurit tersebut.
__ADS_1
*****
"Apakah ini benar tempatnya?" Tanya seorang pria paruh baya dengan menggunakan jirah lengkap khusus prajurit kerajaan Baiyun. Matanya tajam, tatapannya dingin dan memiliki pembawaan yang tegas dan berwibawa.
Dia adalah Wen Sihao, satu dari beberapa jendral kerajaan Baiyun. Ia adalah pemimpin para prajurit.
Sebelumnya ia mendapatkan aduan dari bawahannya bahwa ada seorang pendekar yang menghajar mereka ketika para prajurit itu sedang melaksanakan tugas mereka. Jendral Wen yang mendengar hal itu terpancing untuk melihat siapa yang berani melakukan hal tersebut kepada prajurit kerajaan Baiyun.
Walaupun ia tidak yakin pendekar itu akan tetap tinggal di desa tersebut, tapi jendral Wen tetap ikut datang dan melihat secara langsung.
"Benar jendral Wen!" Balas salah satu prajurit.
"Tapi tempat ini tidak terlihat seperti yang kalian katakan kepadaku sebelumnya?!" Jendral Wen memastikan. Sebelumnya para prajurit mengatakan desa tempat mereka bertemu pendekar yang menghajar mereka adalah sebuah desa yang miskin. Tapi pada kenyataannya, sepanjang perjalanan jendral Wen menuju tempat ini, ia melihat desa ini adalah desa yang subur dan terlihat begitu makmur.
Di setiap sisi jalan terdapat sawah dan ladang petani. Belum lagi tempat peternakan sapi, kambing dan domba terlihat di beberapa tempat.
Saat ia sedang mencerna situasi yang ada dihadapannya, jendral Wen ditemui oleh seorang pria yang tidak lain adalah kepala desa Lu dengan dikawal empat orang pemuda di belakangnya.
"Maafkan keterlambatan hamba untuk menyambut tuan jendral." Kepala desa bersujud memberi hormat diikuti empat orang pemuda yang ada dibelakangnya. Ia lalu memperkenalkan dirinya.
Jendral Wen Sihao adalah orang yang baik dan terpelajar, ia menyuruh kepala desa untuk berdiri dan berhenti menyembahnya.
"Kepala desa Lu, sebaiknya langsung ke intinya saja. Aku ingin mendengar langsung apa yang diceritakan anggotaku itu benar atau tidak?" Wen Sihao tidak ingin terlalu basa basi. Karena memang ia bukanlah orang yang seperti itu.
Tegas, cepat dan tanggap, itulah yang orang-orang ingat ketika mendengar nama Wen Sihao.
Kepala desa lalu menceritakan semua yang terjadi. Ia sesekali melirik jendral Wen Sihao dan menemukan raut wajah yang berubah-ubah dari sang jendral. Tidak tahu apa yang ia pikirkan dan tidak ada yang berani menebaknya.
"Itulah yang sebenarnya terjadi, tuan jendral!" Kepala desa Lu menutup penjelasannya dan menunggu tanggapan dari Jendral Wen Sihao.
__ADS_1