The King Of Baiyun Kingdom

The King Of Baiyun Kingdom
Fungsi Lain Cincin Merah Darah


__ADS_3

"Ba... Bagaimana kau bisa menyadarinya?" Ye Fan keluar dari bayangan YingXiong dan melompat menjauh. Ia juga memegangi dadanya yang terasa sakit akibat terkena hunusan pedang YingXiong.


"Sebenarnya di awal aku belum menyadarinya, tapi setelah aku melihat ke bayanganku sendiri, bayanganku tersenyum menyeringai ke arahku. Tentu saja aku bisa menyadarinya. Lagipula kau bilang dirimu adalah salah satu ahli ilusi terbaik, bukankah itu sudah jelas!"


YingXiong tersenyum tipis, jika saja ia tidak melihat bayangannya menyeringai ke arahnya pasti pemuda itu akan mendapatkan luka yang serius. Sebab Ye Fan hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang YingXiong.


Pemuda itu tidak membiarkan Ye Fan untuk mengatur nafasnya, ia langsung maju menyerang pertahanan lawannya.


"Pedang Petir Biru : Awan Murka Bumi Berduka!"


YingXiong mengangkat pedangnya ke atas lalu beberapa saat kemudian petir menyambar ke pedang itu beberapa kali.


Ye Fan yang melihat hal itu menjadi panik dan takut. YingXiong kali ini bagai dewa kematian untuknya. Ye Fan sadar ia tidak bisa melarikan diri, jadi dengan tenaga dalam yang tersisa pria paruh baya itu mencoba menahan serangan YingXiong.


"Pedang Bayang : Hitam di atas Putih!"


Pedang Ye Fan mengeluarkan aura berwarna hitam yang begitu pekat, membentuk seekor ular yang mulutnya terbuka lebar.


Di sisi lain YingXiong sudah selesai dan akan segera menyerang Ye Fan. Itu adalah jurus terakhir dari ilmu Pedang Petir Biru. Ujung pedangnya membentuk sebuah naga yang mengelilinginya.


Hiiiiiyaaaaahhhhhh


YingXiong dan Ye Fan mengeluarkan jurusnya secara bersamaan, ular bayang hitam Ye Fan bergerak dengan kecepatan penuh sementara di sisi lain naga petir biru YingXiong tidak kalah cepatnya.


Bbbboooommmm


Ular bayang dan naga petir itu saling menghantam di tengah, ledakan besar terjadi membuat air melambung tinggi, dan membuat guncangan hebat di sekitarnya.


Lian Chong yang dari tadi mengamati pertarungan keduanya sampai harus menggunakan tenaga dalamnya untuk melindunginya dan Mu Rong dari dampak guncangan tersebut.


"Dahsyat, benar-benar mengerikan!" Gumam Lian Chong sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Rong'er, kau tidak apa-apa?" Lian Chong mengalihkan perhatiannya pada Mu Rong, karena itu adalah yang terpenting untuk saat ini.


"Aku tidak apa-apa, kak Lian. Hanya saja aku mengkhawatirkan kak Ying, apakah dia bisa mengalahkan paman jahat itu." Mu Rong dari tadi memperhatikan pertarungan YingXiong dan Ye Fan. Ia terus merasakan kepanikan dari waktu ke waktu.


"Tenang saja, orang itu bukan lawan adik Ying!" Balas Lian Chong menenangkan gadis kecil itu.


Keduanya lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke arah pertarungan YingXiong dan Ye Fan.


Setelah ledakan-ledakan besar itu berhenti, air yang bergelombang menjulang ke atas pun reda, mereka bisa melihat Ye Fan terpental puluhan meter. Di sisi lain, YingXiong mengejarnya sambil menghunuskan pedang.


Wooooshshhh


Suara angin berhembus, bersamaan dengan itu kepala Ye Fan terpisah dari tubuhnya.


Clakkkk

__ADS_1


Tubuh dan kepala Ye Fan terjatuh ke dalam air. YingXiong lalu menoleh ke atas menemukan pedang pria paruh baya itu. Ia melompat dan menangkapnya.


"Pedang Bernama lagi!" Gumam pemuda itu.


Setelah berhasil membunuh Ye Fan, barulah YingXiong merasakan sakit akibat pertukaran serangan terakhir tadi.


Ia terjun bebas ke air karena sebenarnya ia juga terluka cukup parah. Tapi ia menggunakan tenaga dalam terakhirnya untuk membunuh Ye Fan dan mengakhiri pertarungannya.


"Kak Ying!"


"Adik Ying!"


"Kak Lian, selamatkan kak Ying!"


Tanpa basa-basi, Lian Chong langsung melompat ke air dan mencoba menyelamatkan nyawa YingXiong.


*****


Mu Rong begitu panik karena sudah lima menit Lian Chong tak kunjung menampakkan dirinya. Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah melihat sebuah gelembung air dan benar saja, beberapa saat kemudian Lian Chong naik ke permukaan sambil membawa YingXiong di tangannya.


Lian Chong lalu membawa naik tubuh YingXiong dan membuat posisinya bersila. Ia lalu mengalirkan tenaga dalamnya untuk membantu pemulihan YingXiong.


***Huekkk


Brrrr***


"Kak Ying akhirnya kau sadar!" Mu Rong begitu senang, ia mengelap air mata di pipinya dengan cepat tidak ingin terlihat oleh YingXiong.


"Syukurlah kau sadar adik Ying!" Lian Chong juga senang melihat YingXiong sadar dengan cepat walaupun tidak pulih sepenuhnya.


"Kak Lian... Terima kasih!" YingXiong berkata dengan terbata-bata karena ia masih merasakan sakit.


"Kalau saja kekuatan setara atau di bawahnya, aku pasti yang akan terbunuh!" Ujar YingXiong menggelengkan kepalanya pelan. Menurutnya, ini adalah pertarungan terhebatnya selama hidupnya. Setidaknya untuk saat ini.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Sebaiknya kau beristirahat dan pulihkan kondisimu. Maaf aku tidak bisa memberikan pil penyembuh karena aku tidak memilikinya lagi." Lian Chong tersenyum kecut.


"Tidak apa-apa kak Lian. Ini saja sudah cukup!"


YingXiong kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Mu Rong, "Rong'er, kau tidak apa-apa kan?"


"Kak Ying, aku tidak apa-apa. Kakak sebaiknya istirahat, jangan cemaskan aku!" Mu Rong mengangguk dan mendekati pemuda itu.


YingXiong tersenyum tipis lalu berbaring di lantai perahu. Ia kemudian memejamkan matanya.


*****


Yang pertama kali YingXiong lihat saat membuka matanya adalah langit yang sudah berubah menjadi malam. Bulan dan bintang bersinar terang, tepat di atas kepalanya.

__ADS_1


YingXiong lalu mengalihkan pandangannya dan menemukan Mu Rong tertidur di dekatnya. Ia juga menemukan Lian Chong yang terus menerus mendayung perahu tanpa kelelahan.


"Adik Ying, kau sudah bangun?"


"Iya kak Lian, maaf sudah merepotkanmu!"


YingXiong lalu bangkit dan mendekati Lian Chong.


Setelah beberapa menit berlalu, Lian Chong membuka suaranya lagi dan mengajak YingXiong mendiskusikan sesuatu.


"Adik Ying, kau membunuh dua orang pemimpin kelompok Elang Sakti dan membawa senjata mereka juga. Bagaimana kau akan menyembunyikannya?" Lian Chong menatap dua buah pedang yang tidak jauh dari keduanya.


"Aku juga tidak tahu. Palingan akan ku bungkus seperti sebelumnya." Balas YingXiong.


"Adik Ying, boleh aku melihat cincin yang ada di tanganmu? Kau tidak perlu melepasnya, aku hanya ingin melihatnya dari dekat saja!" YingXiong tidak menolak, ia menyodorkan tangannya ke dekat Lian Chong.


"Tidak salah lagi, ini adalah cincin Merah Darah!" Lian Chong membatin, "Akhirnya... Akhirnya aku menemukanmu. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini!" Ucap pemuda itu di dalam hatinya. Ia tersenyum penuh makna dan misteri.


"Kak Lian, ada apa?" Tanya YingXiong. Ia penasaran alasan Lian Chong ingin melihat cincin yang terpasang di jarinya itu.


"Adik Ying, apakah kau mengetahui kelebihan dari cincin itu?" Lian Chong menanyakannya dengan serius.


"Iya, aku mengetahuinya. Cincin ini bisa menyamarkan dan menyembunyikan kekuatanku." Jelas YingXiong. Ia tidak menyembunyikannya dari Lian Chong, karena merasa pemuda itu adalah orang yang baik.


"Hanya itu?" Lian Chong kembali bertanya.


"Iya kak Lian, sejauh ini hanya itu yang ku ketahui." YingXiong lalu menarik tangannya.


"Adik Ying, kau benar-benar tidak mengetahui fungsi lain dari cincin itu?"


"Tidak kak, memangnya kenapa? Kau mengetahui sesuatu?" Kali ini YingXiong yang balik bertanya sebab ia melihat Lian Chong mengetahui sesuatu.


"Iya, aku mengetahuinya. Cincin yang ada di jarimu itu selain berfungsi seperti yang kau katakan sebelumnya. Cincin itu juga dapat menyembunyikan benda-benda lainnya."


Lian Chong yang melihat kebingungan di wajah YingXiong lalu kembali menarik tangan pemuda itu.


"Alirkan tenaga dalammu ke telapak tangan lalu gosokkan tiga kali ke cincin itu." YingXiong mengikutinya.


"Ambil pedang itu!" Saat YingXiong memegang pedang milik Ye Fan, pedang itu menghilang seperti di telan bumi.


"Berhasil!"


"Darimana kak Lian mengetahui rahasia cincin ini?" Sebenarnya YingXiong penasaran tetapi ia memilih untuk mendiamkannya saja. Ia akan mencari tahu identitas pemuda itu di lain kesempatan.


Sejak saat itu, YingXiong selalu memasukkan barang berharganya ke dalam cincin dan perlahan-lahan mengetahui cara kerjanya.


YingXiong berterima kasih kepada Lian Chong.

__ADS_1


Keesokan harinya, mereka melihat daratan. Ketiganya senang, karena sebentar lagi mereka akan sampai.


__ADS_2