
"Kakak, apakah kau mengenal mereka?" Mu Rong bertanya dengan polos. Untuk gadis kecil yang berusia enam tahun sepertinya, tentu tidak akan banyak mengetahui apa-apa.
"Bisa dibilang kakak adalah musuh mereka." YingXiong menjawab.
"Kalau begitu kita adalah teman. Aku juga musuh mereka sekarang. Mereka telah membunuh keluargaku, aku akan membalasnya di masa depan." Senyum polos nan lugu mulai merekah di wajah Mu Rong. Sebuah senyuman pasrah, sedih dan penuh dendam yang bergabung menjadi satu.
"Rong'er, kau masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu. Bagaimana jika tanggung jawab itu kau berikan kepada kakak. Kakak akan menghapuskan mereka dari dunia ini. Kakak janji!" Tekad YingXiong semakin bulat untuk membasmi kelompok Elang Sakti sampai akar-akarnya.
Ia tidak bisa membiarkan anak kecil seperti Mu Rong menyimpan dendam di dalam hatinya. Sebab itu bisa membuat orang-orang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Bisa jadi itu akan menjadi hal yang buruk jika Mu Rong mengambil jalan yang salah. YingXiong mulai berpikir, mungkin bukan hanya Mu Rong yang menjadi korban dari kelompok Elang Sakti, masih banyak lagi diluar sana yang memiliki nasib sama. Dia sendiri misalnya!
"Rong'er, maukah kau ikut dengan kakak. Setidaknya sampai kau menemukan tempat yang baru untukmu, atau keluarga baru yang bisa mengangkatmu menjadi bagian dari mereka." YingXiong mengajak Mu Rong, bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan gadis kecil sepertinya tinggal seorang diri di tempat seperti ini.
Lagipula, YingXiong bisa merasakan perasaan gadis kecil itu. Karena dia juga pernah di posisi yang sama walaupun kondisi dan waktunya berbeda. Dia bisa kuat dan tidak mengambil jalan salah karena bimbingan kakeknya dan takdir juga ikut membantu hal tersebut.
Jika takdir berkehendak lain, maka YingXiong bisa mati saat ia jatuh ke jurang bersama ibunya. Sebab itulah YingXiong selalu bersyukur dan menyayangi nyawanya karena ibunya telah melakukan berbagai cara untuk menyelamatkannya.
Walaupun awalnya terlihat ragu, tapi Mu Rong menganggukkan kepalanya dan bersedia ikut dengan YingXiong.
Sebelum meninggalkan desa Rumput Hijau, YingXiong mengumpulkan jasad-jasad warga yang meninggal. Setidaknya ada lebih dari seratus jasad yang ia tumpukkan menjadi satu.
YingXiong lalu membakarnya, ia mengatakan kepada Mu Rong jika membiarkan tubuh mereka begitu saja bisa menyebabkan penyakit.
YingXiong tidak bisa menguburkan satu persatu mayat mereka, jadi ia mengambil jalan yang mudah yaitu membakar mereka.
Mu Rong kembali menangis histeris saat melihat kedua orang tua dan ketiga kakaknya terbakar api. YingXiong tidak menghentikannya, ia membiarkannya karena mengetahui betul perasaan gadis kecil itu.
Setelah Mu Rong selesai melampiaskan semua kesedihannya, barulah YingXiong mendekatinya. Ia mengusap kepala gadis kecil itu dan kemudian mendekapnya dengan erat. Walaupun pertemuan mereka baru beberapa jam, tapi YingXiong sudah menganggap Mu Rong sebagai adiknya.
Setelah menyelesaikan semuanya, Mu Rong mengajak YingXiong singgah dulu kembali ke restorannya karena ada yang ingin diambilnya.
__ADS_1
Mu Rong meminta YingXiong untuk membawa harta peninggalan orang tuanya yang ada di penyimpanan rahasia. Itu untuk bekal perjalanan mereka. Lagipula akan sia-sia saja jika mereka meninggalkannya di tempat ini. YingXiong mengambilnya lalu menyimpannya. Keduanya lalu meninggalkan desa, Mu Rong menoleh sebentar ke arah desa setelah itu mengalihkan lagi pandangannya ke depan.
*****
Waktu sudah menunjukkan sore hari, matahari pun mulai menghilang. Tapi YingXiong dan Mu Rong masih belum menemukan desa ataupun kota untuk beristirahat.
Dengan terpaksa, keduanya harus berhenti di dalam hutan dan memutuskan untuk bermalam disana. Sebenarnya YingXiong bisa saja untuk membawa Mu Rong berjalan di malam hari, tapi ia melihat gadis itu begitu kecapekan. Padahal YingXiong selalu menggendongnya.
Keduanya mengisi perut mereka dengan buah-buahan yang YingXiong petik. Mereka menemukan buah-buahan itu sebelumnya.
YingXiong sengaja tidak menyalakan api, agar tidak ada yang tahu keberadaan mereka. Baik itu manusia ataupun hewan.
YingXiong juga memilih untuk tidur di atas pohon dengan Mu Rong berada di pangkuannya. Menurutnya itu lebih aman daripada di bawah.
Keduanya tertidur dengan pulas sampai malam berganti menjadi siang dan matahari mulai menyentuh kulit keduanya.
"Maafkan kakak belum bisa mengajakmu makan enak. Saat kita menemukan desa ataupun kota, kita akan makan banyak untuk mengganti makanan hari ini dan kemarin." YingXiong tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa kok kak. Selama terus bersama kakak, Rong'er tidak akan menuntut banyak." Jawab Mu Rong dengan tulus.
"Adik baik!" Goda YingXiong sambil mencolek dagu Mu Rong.
Ia lalu menggendong gadis kecil itu di punggungnya dan melanjutkan perjalanan.
*****
Waktu berjalan terasa begitu cepat. Kini matahari sudah berada tepat diatas kepala YingXiong dan Mu Rong. Beruntung keduanya sudah bisa melihat gerbang kota dari kejauhan. YingXiong mempercepat langkahnya dengan ilmu meringankan tubuh dan bergegas menuju tempat itu.
"Inikah kota yang dimaksud para pedagang?" YingXiong mengingat kembali informasi yang pemimpin pedagang berikan kepadanya. Untuk sampai ke ibukota kerajaan Baiyun, YingXiong harus melewati sebuah kota yang berada di pinggiran sungai. Kota itu bernama kota Pelabuhan Perak seperti dengan nama kota yang ada dihadapan mereka ini.
__ADS_1
"Apakah ini kota Pelabuhan Perak yang asli?" Tanya YingXiong kepada para penjaga gerbang.
"Apa maksud asli? Memangnya ada kota Pelabuhan Perak palsu. Ini adalah satu-satunya kota yang bernama Pelabuhan Perak, tidak ada yang lain." Jawab salah satu penjaga gerbang dengan heran. Ia tidak mengerti dengan pemikiran pemuda yang ada dihadapannya itu.
YingXiong tersenyum tipis menanggapinya, ia merasa sangat bodoh bisa menanyakan hal seperti itu.
Seperti saat di kota Matahari Senja, para penjaga gerbang menanyakan kartu identitas YingXiong. Beruntung ia sudah memikirkannya sebelumnya. YingXiong mengambil kartu identitas mendiang kakak Mu Rong yang kebetulan berusia sama dengannya.
Akhirnya mereka bisa lolos dengan mudah setelah menunjukkan kartu identitas itu. YingXiong juga memberikan kedua penjaga gerbang itu masing-masing satu keping perak.
"Kakak, ternyata kartu itu sangat berguna untuk kita." Mu Rong tertawa kecil, ia mentertawakan penjaga gerbang yang dengan mudahnya mereka bohongi.
"Kau benar! Sebaiknya kita mencari restoran untuk mengisi perut. Kakak sudah lapar, kau juga bukan?"
"Tentu saja!"
Keduanya mencari restoran tanpa pikir panjang.
*****
Walaupun kota Pelabuhan Perak tidak seluas kota Matahari Senja, tetapi cukup melelahkan untuk mencari restoran disana. Beruntung tenaga dalam YingXiong banyak, jadi ia tidak terlalu merasa capek.
Sebelum menemukan restoran, YingXiong dan Mu Rong terlebih dahulu menemukan sebuah arena pertarungan. Keduanya bisa melihat ada dua orang yang sedang bertarung dan dikelilingi orang-orang banyak.
"Kakak, apakah kita bisa melihat itu. Kelihatannya menyenangkan?" Mu Rong terlihat tertarik dengan Pertarungan itu.
"Kita bisa kembali kesini setelah mengisi perut. Kakak bahkan bisa ikut bertarung jika kau memintanya."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu ayo kita cari makanan terlebih dahulu!"
__ADS_1