
Jendral Wen langsung menanyakan keberadaan YingXiong setelah mendengar cerita dari kepala desa. Ia ingin melihat orang yang telah membantu warga desa dan memukuli bawahannya.
Mendengar hal itu kepala desa terdiam sejenak, wajahnya juga memucat dan ada sedikit ketakutan.
"Kenapa jendral Wen ingin menemui pendekar muda? Apakah dia ingin membuat perhitungan dengannya?" Pertanyaan demi pertanyaan mengisi pikiran kepala desa. Jika memang jendral Wen berniat memberi pelajaran kepada YingXiong, kepala desa tidak bisa membiarkannya. YingXiong terlalu berharga untuknya dan para warga. Pemuda itu seperti malaikat yang menolong mereka. Tentu saja kepala desa ingin membalas kebaikan sang pemuda.
"Kenapa kau diam saja? Kau tidak mendengarkan perkataanku?" Jendral Wen terlihat sedikit tersinggung. Wajahnya menjadi dingin dan mengerut.
Kepala desa tersadar dari lamunannya, ia kemudian kembali bersujud kepada jendral Wen.
"Jendral Wen, tolong bebaskan pendekar muda. Ia hanya seorang pemuda yang belum banyak mengetahui urusan dunia, mohon belas kasih Anda. Ini sepenuhnya kesalahan kami." Kepala desa berusaha meminta pengampunan untuk YingXiong.
Jendral Wen adalah tokoh yang begitu terkenal di kerajaan Baiyun. Sepak terjangnya begitu membekas di kepala semua rakyat. Ia juga merupakan seorang pendekar, yang memiliki kemampuan tinggi. Sebab itulah kepala desa ragu YingXiong bisa mengatasi sang jendral.
"Tidak perlu takut begitu, aku hanya ingin menemuinya saja. Melihat kau begitu menjaga keselamatannya membuatku tambah tertarik untuk bertemu dengannya." Jendral Wen turun dari atas kudanya.
"Sebaiknya kau panggil dia kemari!" Ia menepuk pundak kepala desa membuat pria sepuh itu ketakutan setengah mati.
Kepala desa memanggil seorang pengawalnya dan membisikkan sesuatu kepada pengawal itu.
"Cepat temui pendekar muda, suruh dia meninggalkan tempat ini!" Bisik kepala desa Lu yang hanya bisa di dengar oleh pengawalnya.
Tapi sebelum pengawal itu pergi, sebuah suara terdengar di telinga kepala desa yang membuatnya mematung di tempat. Ya, suara itu tidak lain adalah suara YingXiong.
"Tidak perlu mencariku tuan jendral, aku sudah datang dengan sendiri." YingXiong berjalan mendekati kepala desa lalu menepuk pundaknya.
"Tidak perlu khawatir paman!" Ucap YingXiong menenangkan. Ia melihat dan mendengar dari awal sampai akhir percakapan kepala desa dan jendral Wen. YingXiong sangat senang mendengar sang kepala desa mencoba untuk membantunya. Hal itu membuat ia merasa tidak sia-sia membantu warga desa itu.
__ADS_1
"Maafkan kelancanganku yang tidak menyambut kedatanganmu dengan baik tuan jendral!" YingXiong membungkukkan badannya memberi hormat kepada jendral Wen.
Sementara itu sang jendral tertawa lepas, ia sangat senang melihat karakter YingXiong yang sopan.
"Siapa namamu tadi, Ying sesuatu bukan?" Jendral Wen kembali menanyakan nama YingXiong.
"YingXiong, namaku YingXiong tuan jendral." Pemuda itu memperjelas namanya.
"YingXiong... aku tidak pernah mendengar nama itu di sekte-sekte besar. Lalu darimana kau berasal?" Jendral Wen penasaran dengan identitas YingXiong.
"Ah itu, aku bukan berasal dari sekte. Aku hanya seorang pengelana yang berjalan mengikuti arah angin membawa kemana untuk mencari pengalaman hidup." YingXiong masih bersikap tenang dan santai.
"Begitukah? Wajar saja aku tidak pernah mendengar namamu!" Jendral Wen ingin mendekati YingXiong, tapi ia terkejut saat melihat tangan kiri sang pemuda. Tepatnya terkejut melihat sebuah cincin yang terpasang di jari manis sang pemuda.
"Kau... darimana kau dapatkan cincin itu?" Jendral Wen ingin memastikan sesuatu.
"Kau ikut aku! Jangan ada yang menyusul kami berdua!" Jendral Wen langsung menarik tangan YingXiong dan membawanya pergi.
Saat dibawa pergi oleh jendral Wen, YingXiong menyadari kekuatan sang jendral berada di atasnya. Menggunakan ilmu meringankan tingkat tinggi juga menjadi perhatiannya terhadap pria paruh baya itu.
Jendral Wen menghentikan langkahnya setelah berada cukup jauh dari tempat sebelumnya. Ia yakin tidak akan ada yang berada di tempat itu selain ia dan YingXiong.
"Nak, bisakah kau menceritakan darimana kau mendapatkan cincin itu?" Jendral Wen berbicara pelan dan sopan kepada YingXiong. Perubahannya sangat terlihat jelas di mata sang pemuda.
YingXiong juga melihat mata jendral Wen yang berkaca-kaca menunggu jawaban dari YingXiong.
"Kau kesulitan menjawabnya? Bagaimana kalau ku ganti pertanyaanya?" Jendral Wen tidak memaksa YingXiong lebih jauh. Tapi pertanyaan selanjutnya dari pria paruh baya membuat YingXiong mematung sejenak dan tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Nak, aku tidak pandai basa-basi jadi aku akan bertanya langsung ke intinya saja. Apa hubunganmu dengan Yang Mulia Ratu Yin Huamei?"
YingXiong kesulitan menjawab, ia tidak tahu harus berkata apa karena ia tidak mengetahui hubungan sang jendral dengan orang tuanya. Kalau mereka memiliki hubungan baik, itu tidak masalah. Tapi jika sebaliknya? Bukankah jendral Wen akan berusaha membunuhnya!
Melihat YingXiong diam, jendral Wen kembali bersuara, "Nak jika kau ragu karena hubunganku dengan orang yang ku sebutkan. Aku adalah sahabat terdekat suaminya, Yang Mulia Raja Ji Xiang."
YingXiong masih tidak berkata apa-apa, ia belum percaya sepenuhnya kepada sang jendral. Bagaimana jika itu adalah kebohongan untuk mengungkapkan identitasnya.
"Nak, kalau kau tidak percaya kepadaku tidak apa-apa. Tapi bisakah kau menceritakan bagaimana nasib Yang Mulia Ratu?" Mata jendral Wen masih terlihat berkaca-kaca.
"Begini saja, bagaimana kalau kau ikut denganku ke istana. Setelah sampai disana, kau akan mengetahui apakah aku berbohong kepadamu atau tidak." Jendral Wen mengajak YingXiong untuk ikut dengannya.
YingXiong tidak berkata apa-apa membuat sang jendral terlihat sedih. YingXiong berpikir sang jendral akan memaksanya tapi kenyataannya pria paruh baya itu tidak melakukannya.
"Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakan apapun kepadaku tidak apa-apa. Tapi ingat, saat kau ingin menceritakannya, aku siap mendengarkan semuanya." Jendral Wen kemudian mengajak YingXiong kembali.
Setelah sampai di tempat kepala desa dan yang lainnya, jendral Wen melepaskan YingXiong.
"Setelah ku pikir-pikir lagi pemuda bernama YingXiong ini tidak melakukan kesalahan. Sebaliknya, ia telah membantu kerajaan Baiyun. Kalau kau berkenan, aku secara pribadi mengundangmu ke istana dan akan menyambut kedatanganmu dengan jamuan terbaik." Jendral Wen tersenyum sumringah. Ia terlihat begitu senang, hal itu terlihat dengan jelas di wajahnya. Tapi tidak ada yang bisa menebak alasannya.
"Oh iya, tiga bulan lagi kerajaan akan mengadakan sebuah acara untuk mencari pengawal khusus Yang Mulia Raja Ji Jiazhen. Kau bisa datang kesana dan mengikuti acara tersebut! Ku lihat beladiri cukup meyakinkan, sudah sepantasnya memberikan kontribusi untuk kerajaan."
Setelah itu, jendral Wen naik kembali ke kudanya dan mengajak bawahannya meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, YingXiong masih terdiam. Ia mencoba menebak-nebak alasan sang jendral bersikap demikian kepadanya.
Ia kemudian mengaitkannya dengan Lian Chong. YingXiong ingat betul bagaimana wajah sang pemuda yang tidak sengaja ditemuinya itu ketika melihat cincin Merah Darah.
__ADS_1
YingXiong berpikir untuk mulai berhati-hati menunjukkan cincinnya agar tidak membuat masalah di masa depan.