
Ingatan Wen Sihao kembali berubah, dimana saat itu Yin Huamei berhasil melahirkan anak laki-laki yang tidak lain adalah YingXiong kecil. Sebagai kakak seperguruan Yin Huamei, Wen Sihao ikut senang dan bahagia. Bahkan ia berjanji akan menjaga keponakannya itu dan mengajarinya ilmu beladiri saat besar nanti.
Saat mengingat masa itu, Wen Sihao meneteskan air matanya.
"Adik Huamei, maafkan aku tidak bisa menepati janjiku padamu dan pada Mahaguru. Aku gagal menjaga dirimu dan keponakanku!" Rasa bersalah menghantui perasaan Wen Sihao.
Sebenarnya itu bukan pertama kali ia merasakan demikian, tapi saat ia merasakan hal yang sama ia akan menjadikan arak sebagai pelariannya. Sederhananya, Wen Sihao masih belum rela adik seperguruannya itu hilang.
Jendral Wen lalu menyekah air matanya, "Adik Huamei, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang pemuda, ia memakai cincin Merah Darah di jarinya. Apakah itu ada kaitannya denganmu? Tolong beri aku petunjuk?" Wen Sihao menangis tersedu-sedu lalu minum arak kembali untuk menenangkan pikirannya. Akhirnya karena kebanyakan minum, ia pun tergeletak di tempat itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
*****
Hari demi hari YingXiong dan Mu Rong lalui, keduanya kadang berhenti di dalam hutan, pinggir jalan ataupun gubuk kosong milik para pemburu yang telah ditinggalkan. Makan pun seadanya, minum juga mereka dapatkan dari air sungai karena beberapa hari terakhir mereka belum menemukan desa maupun kota.
Akhirnya perjalanan keduanya tidak sia-sia, setelah YingXiong melihat sebuah pagar kota di kejauhan. Dengan gembira, YingXiong mengajak Mu Rong yang ada di punggungnya untuk mendekati tempat itu.
Ketika sampai di depan gerbang, YingXiong membaca tulisan yang tertera rapi di atas pintu masuknya.
"Kota Awan Suci!"
Ternyata keduanya sudah sampai di ibukota kerajaan Baiyun yang membuat YingXiong bahagia.
Seperti di kota-kota sebelumnya, YingXiong harus menunjukkan tanda pengenalnya lalu membayar sejumlah uang. YingXiong menyelesaikan semuanya. Ia lalu mengajak Mu Rong memasuki kota tersebut.
__ADS_1
YingXiong langsung terpana saat melihat kota Awan Suci. Tidak heran mengapa kota ini dijadikan sebagai ibukota kerajaan karena di tempat ini bisa dibilang adalah surganya dunia.
Pemandangan alam dengan air terjunnya yang indah adalah hal pertama yang YingXiong dan Mu Rong temui. Keduanya terus berjalan dan menemukan bangunan-bangunan tempat tinggal warga yang sangat besar.
YingXiong lalu mengingat perkataan pedagang yang ditemuinya, "Kau tidak akan menemui rumah warga yang tidak layak huni saat di ibukota Awan Suci karena pihak istana membuat aturan yang boleh tinggal di tempat itu adalah mereka yang memiliki uang."
Sederhananya, mereka yang tidak memiliki cukup uang untuk hidup di ibukota tidak diizinkan masuk. YingXiong lalu mengingat uang yang dikeluarkan saat ingin memasuki kota ini beberapa saat lalu. Ia menduga, itu adalah salah satu cara pihak istana melihat kekayaan seseorang.
Walaupun di kota-kota lainnya mereka juga harus memberikan sejumlah uang, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan saat ingin memasuki ibukota Awan Suci. Di tempat ini seseorang harus membayar seratus keping emas jika ingin memasukinya. Tentu saja harga yang fantastis untuk manusia biasa.
Sederhananya, penduduk kelas atas bisa mengumpulkan puluhan keping emas perhari. Tapi tidak dengan penduduk kelas bawah, paling banyak mereka bisa mengumpulkan lima keping emas perhari. Sebaliknya untuk penduduk kelas bawah, mereka hanya bisa mengumpulkan beberapa koin perak perhari itupun jika mereka bekerja dengan keras.
YingXiong memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan mengajak Mu Rong terus berjalan. Keduanya akhirnya menemukan pasar kota, mereka memilih singgah untuk sekedar melihat-lihat dan kalau ada barang yang disukai mungkin mereka bisa membelinya.
"Kak Ying, Rong'er lapar! Ayok kita cari makan!" Mu Rong yang digendong YingXiong merengek kelaparan dan mengajak pemuda itu untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum berkeliling di pasar.
Pemuda itu menyusuri jalan sampai menemukan sebuah restoran. Tanpa pikir panjang, YingXiong mengajak Mu Rong memasuki restoran tersebut.
Saat di dalam, YingXiong menemukan restoran itu sedang ramai pengunjung. Ia mendatangi meja resepsionis untuk menanyakan apakah ada ruangan khusus di tempat itu.
"Tuan muda ingin memesan ruangan khusus, tapi harga sewanya cukup tinggi. Maafkan kelancanganku, tapi aku tidak melihat tuan muda membawa sesuatu." Pelayan restoran bersikap hati-hati kepada YingXiong.
Selain menggendong Mu Rong di punggungnya, memang YingXiong tidak terlihat membawa apapun. Hal itu dikarenakan pemuda itu sudah menyimpan semua barangnya di dalam cincin Merah Darah.
__ADS_1
Mendengar perkataan sang pelayan, YingXiong tidak marah. Sebaliknya ia tertawa kecil sebelum mengeluarkan sekantong uang dari ruang hampa yang membuat pelayan berteriak histeris ketakutan.
Teriakan pelayan itu mengundang perhatian pengunjung yang sedang makan, mereka bertanya-tanya apakah yang membuat sang pelayan berteriak histeris.
YingXiong juga terkejut, ia tidak menyangka respon sang pelayan akan seperti itu. Dengan cepat YingXiong menenangkannya agar tidak terlalu menarik perhatian.
"Nona, tenangkan dirimu!" YingXiong terus meminta sang pelayan untuk menenangkan dirinya.
Karena ketakutan dengan YingXiong, pelayan itu pun terdiam, wajahnya pucat pasi seperti tidak memiliki darah lagi.
Setelah tenang, YingXiong mencoba kembali berkomunikasi dengan sang pelayan, "Nona, apakah bisa aku memesan ruangan khusus sekarang?" YingXiong tersenyum tipis.
Sang pelayan tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama sang pelayan bertemu dengan seorang pendekar. Selama ia bekerja disana, akan ada banyak pendekar yang makan di restoran tersebut. Tapi melihat orang seperti YingXiong, ini adalah kali pertamanya sebab itulah ia sangat terkejut dan ketakutan.
Sang pelayan dengan hati-hati menunjukkan ruangan khusus kepada YingXiong. Setelah membayar, keduanya dipersilahkan untuk masuk dan memilih pesanan. Keduanya juga akan disuguhi permainan musik dan tarian sembari menunggu pesanan mereka.
"Fei Ying, apa yang terjadi padamu barusan?" Salah satu pelayan bertanya kepada gadis yang melayani YingXiong. Ia penasaran dengan apa yang membuat temannya itu berteriak histeris.
"Tidak apa-apa, aku hanya kecapekan saja!" Jawab sang pelayan yang bernama Fei Ying itu. Rasanya ia ingin menggali kuburannya sendiri setelah mengingat kembali pemuda yang terlihat lugu dan polos nyatanya mampu menunjukkan hal yang seperti itu.
Di sisi lain, pandangan pengunjung restoran masih banyak tertuju pada YingXiong. Ada yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tak bersahabat pada YingXiong dan ada juga yang secara sembunyi-sembunyi. Yang pasti, mereka penasaran dengan apa yang pemuda itu lakukan sehingga membuat pelayan restoran berteriak ketakutan.
__ADS_1
YingXiong mengetahui hal itu, tetapi ia berpura-pura tidak menyadarinya.
"Sebaiknya aku tidak menunjukkan hal yang sama di masa depan ataupun kejadian seperti ini akan terulang kembali!" YingXiong memutuskan untuk lebih hati-hati dalam melakukan tindakan dan mengambil keputusan.