
YingXiong bergerak dengan lincah tanpa ia sadari, ia memeragakan gerakan demi gerakan yang sebelumnya belum pernah ia lakukan.
YingXiong terbang ke udara, memang seorang pendekar yang telah mencapai tingkat pendekar emas ke atas, mereka bisa melayang di udara dengan lama waktunya tergantung tenaga dalam yang mereka miliki.
Setelah melayang di udara, YingXiong kembali memeragakan gerakan dari jurus 'Hempasan Ombak', ia mengubah posisi menjadi bentuk horizontal dan mulai berputar-putar sambil maju seolah menyerang lawan. Lalu kemudian ia mengayunkan tongkat bambu yang ada ditangan kanannya ke arah kiri dan kanan secara bergantian.
***Bbbboooommmm
Bbbboooommmm***
Dua kali ledakan terjadi dari serangannya tersebut. Ketika kepulan debu menghilang, dua buah lubang yang cukup besar tercipta di tempat terjadinya ledakan sebelumnya.
Itulah rahasia dari jurus pertama kitab Tujuh Bintang Surgawi.
Setelah mendapatkan hasil dari pemahamannya, YingXiong mendarat. Ia lalu mengatur kembali pernafasannya.
Setelah istirahat sebentar, YingXiong kembali melakukan gerakan-gerakan itu selama beberapa kali sebelum kembali ke rumah karena sebentar lagi matahari akan terbenam.
*****
"Bagaimana latihan pertamamu menggunakan senjata dan kitab pusaka itu?" Tanya kakek penasaran sambil memotong kayu untuk dijadikan kayu bakar.
"Aku sudah menemukan rahasia dari jurus pertamanya." Jawab YingXiong bahagia, ia kemudian duduk tidak jauh dari sang kakek.
"Jurus ini benar-benar dahsyat!" Sambungnya sambil mengingat kembali apa yang ia lakukan sebelumnya.
Setelah mengetahui YingXiong sudah berhasil menguasai jurus pertama, kakek ikut senang. Ia menghentikan aktivitasnya kemudian mengajak YingXiong untuk makan karena ia sudah menyiapkannya sebelumnya.
Keduanya menikmati hidangan dengan lahap sampai habis tanpa sisa.
*****
Walaupun YingXiong memiliki pemahaman yang tinggi dalam ilmu beladiri, kakek tidak menyarankannya untuk mempelajari kitab Tujuh Bintang Surgawi dengan cepat. Kakek meminta YingXiong untuk mempelajari jurus pertama setidaknya selama satu minggu penuh. Setelah itu, ia bisa melanjutkan ke jurus selanjutnya.
Bukan tanpa alasan, kakek ingin YingXiong benar-benar menguasai jurus tersebut. Ia juga mengatakan, dengan YingXiong mempelajari sebuah jurus cukup lama, maka ia akan mengeluarkan serangan terbaik dari jurus itu.
__ADS_1
Benar saja, semakin sering dan semakin lama YingXiong mempelajari jurus pertama tersebut, semakin besar dampak serangan yang ia timbulkan. YingXiong senang melihatnya, ia berterima kasih kepada kakek karena sudah memberikan arahan kepadanya.
*****
Karena melihat peningkatan dari pemahamannya tentang jurus pertama tersebut, YingXiong memperlama waktu latihannya. Awalnya yang ditargetkan berakhir dalam seminggu, ternyata ia mempelajarinya selama dua minggu. Kali ini serangannya bahkan mampu membuat ledakan di beberapa tempat secara bersamaan.
Memang keutamaan dari jurus pertama 'Tujuh Bintang Surgawi' adalah menyerang banyak musuh secara bersamaan.
Menganggap bahwa ia telah mempelajari jurus pertama dengan sempurna. YingXiong memutuskan untuk melanjutkan ke jurus yang kedua.
Ia membuka kitab Tujuh Bintang Surgawi dan mulai membaca isinya.
......***Hembusan angin memang bisa menyejukkan, tapi ketika membesar, ia juga bisa membuat kerusakan......
...***Semilir angin berhembus dari barat dan perlahan mulai membesar menghantam apa saja yang dilaluinya...
...Tak ada yang selamat, tak ada yang bisa bersembunyi darinya, semuanya akan berakhir dalam keadaan terluka***...
YingXiong kembali duduk bersila di tempat ia biasa latihan. Mencoba mendapatkan pemahaman dari penggalan kalimat jurus kedua 'Tujuh Bintang Surgawi'.
YingXiong menambah fokusnya, berharap bisa menemukan sesuatu.
Tiba-tiba hembusan angin menghantam tubuhnya, perlahan tapi pasti, hembusan angin itu bertambah kuat membuat YingXiong harus menggunakan tenaga dalam yang cukup untuk menahannya.
Kejadian itu berlangsung selama beberapa detik sebelum angin itu menghilang dengan sendirinya dan tanpa jejak.
YingXiong membuka matanya perlahan. Ia seolah mendapatkan pemahaman dari kejadian yang menimpanya sebelumnya.
YingXiong membuat kuda-kuda, kemudian mulai menggerakkan keduanya tangannya ke atas dan ke bawah, lalu kemudian menariknya dan mendorongnya.
Seketika itu juga muncul hembusan angin dengan tiba-tiba. Menghantam pohon bunga persik yang berada di depannya dan membuat bung dan daunnya beterbangan.
YingXiong kemudian melayang di udara membentuk vertikal tapi kepalanya mengarah ke bawah, lalu kemudian ia berputar-putar dengan cepat seperti gasing dan kemudian menghantamkan tongkatnya ke tanah.
Setelah itu, daun dan bunga persik yang melayang tadi meledak di udara.
__ADS_1
Itulah rahasia dari jurus kedua 'Tujuh Bintang Surgawi'. Jurus itu dinamakan 'Badai Angin Dari Barat'.
Semakin tinggi jurus yang dipelajari, maka semakin sulit untuk menguasainya. Semakin besar pula tenaga dalam yang diperlukan untuk mengeluarkan kekuatan penuhnya. Itulah yang YingXiong pahami dari belajar ilmu beladiri.
Hari demi hari berlalu, YingXiong selalu pergi ke lembah jurang kematian saat sang fajar mulai menyingsing dan kembali ketika matahari mulai terbenam. Rutinitas itu selalu ia lakukan karena ia sudah berjanji akan menjadi kuat agar bisa melindungi orang terdekat dan terkasihnya.
Ayah dan ibunya sudah pergi meninggalkan. Walaupun bukan murni kesalahannya, tapi itu juga berhubungan dengannya. Andai saja waktu itu ibunya tidak sedang membawanya, mungkin ibunya tidak akan berakhir hidupnya. Ia bisa melarikan diri atau bahkan bertarung untuk melindungi hidupnya.
Bagaimanapun, ibunya adalah seorang ratu dari sebuah kerajaan yang tentu saja akan diajarkan ilmu beladiri. Paling tidak untuk melindungi dirinya sendiri.
YingXiong merasa bersalah ketika mengingat lagi cerita sang kakek. Sebab itulah ia tidak pernah mengeluh dengan latihan-latihan yang dijalaninya. YingXiong berharap bisa dengan cepat keluar dari tempat itu dan melihat dunia luar untuk menemukan misteri dan rahasia yang terjadi pada keluarganya.
*****
Enam bulan telah berlalu, YingXiong sudah menguasai tiga dari tujuh jurus 'Tujuh Bintang Surgawi'. Tapi untuk mempelajari jurus keempat, YingXiong mengalami kebuntuan.
Ia tidak bisa menemukan dan memahami arti dari kalimat pada jurus keempat tersebut.
"Yang tumpul bisa berubah menjadi tajam ketika digunakan dengan cara yang tepat. Bisa membunuh dengan kecepatan tak terduga. Menolong tuannya dalam keadaan terdesak yang tak akan ada orang lain yang menyadarinya." YingXiong mengulang kembali kalimat yang ada di halaman jurus keempat 'Tujuh Bintang Surgawi'.
Entah mengapa, ia masih tidak bisa memahami arti kata-kata tersebut.
Saat ia sedang merenung, bahunya tiba-tiba ditepuk oleh sang kakek.
"Ada apa? Apa yang membuatmu terlihat seperti ini?" Kakek menanyakan masalah yang dialami pemuda itu.
"Aku... Aku hanya tidak memahami arti dari kata-kata yang terkandung dalam jurus keempat 'Tujuh Bintang Surgawi' Ucapnya.
"Tapi tampaknya kau sudah menemukan solusinya?" Tanya kakek kembali. Dia bisa melihat dari raut wajah YingXiong yang terlihat sedang dilema.
"Benar kek. Aku merasa ada kekurangan dari latihanku. Kurasa, untuk menemukan pemahaman dari jurus keempat, aku harus segera mengarungi dunia luar. Dengan banyak hal yang akan kutemui, maka perlahan aku akan menemukan jawabannya." YingXiong berkata perlahan.
"Akhirnya kau menyadarinya. Kau tahu, aku sudah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Akhirnya aku akan berpisah denganmu dan harus merelakannya." Kakek tersenyum pahit. Bagaimanapun dia sudah merawat YingXiong dari bayi, rasa sayang dan takut kehilangan tentunya ada dan besar.
"Walaupun cukup berat, aku akan memberikanmu restu. Kau bisa memulainya esok hari. Aku akan menyiapkan semua perbekalanmu." Kakek pergi meninggalkan YingXiong sendirian.
__ADS_1