
Berdiri di tengah lautan bunga yang sangat indah, gadis cantik berambut panjang itu tersenyum ketika menyambut kedatangan sesosok pria. Mengenakan pakaian kaus polos berwarna putih, dengan tali yang tak diikat di dada khas seorang bangsawan, pria itu datang bersama dengan beberapa sosok lainnya. Dia tersenyum dan berjalan semakin mendekat. Setibanya pria itu mengambil jarak sekitar dua meter di hadapannya, gadis berlesung pipi itu pun segera memberikan salam penghormatan seraya menyapa tuannya itu.
"Salam, Kaisar Mavis. Berkunjung sepagi ini, mungkinkah ada sesuatu yang kamu butuhkan?" kata Yennefer dengan nada lembut, lalu dia tersenyum.
"Semalam aku mendapatkan informasi dari Sol yang berada di benua bagian utara. Kerajaan Beast telah menginvasi seperempat bagian wilayah dan kini sedang memperluas kekuasaannya menuju Kerajaan Baratajaya."
Mavis berjalan pelan bersama Yennefer secara bergandengan, sambil menikmati suasana pagi yang cerah dan pemandangan dari kebun bunga yang menenangkan hati. Terlihat wajah Yennefer berubah masam ketika pandangannya jatuh memandangi lantai bumi. Di pikirannya mulai terlintas kembali orang-orang dari kuil suci yang mulai menggila. Yah, selama tiga tahun belakangan ini mereka mulai bergerak secara terang-terangan untuk mengambil alih seluruh kerajaan yang terpengaruh oleh kekuasaannya.
__ADS_1
Sebagai contoh nyatanya, Kerajaan Mori, Kerajaan Ephraim, dan Kerajaan Jianheeng yang pada tahun itu mengalami kemunduran besar akibat kalah perang, kuil suci dengan sigap mengirimkan banyak utusan untuk mengambil alih kekuasaan ketiga kerajaan tersebut. Tentu saja kuil suci mengganti wajah sang raja baru dengan kepemimpinan dari orang-orang mereka.
"Kedamaian yang kamu inginkan, aku takut itu tidak akan bertahan lama jika aku masih tetap berada di tempat ini." Dia memasang ekspresi rumit di wajahnya, tersenyum, walaupun di dalam dia merasakan sesak. "Seharusnya sejak awal aku tidak berada di tempat ini. Mereka cepat atau lambat akan datang dan menemukan keberadaanku. Kalian hanya akan mendapat masalah besar jika tetap menahanku di tempat ini. Kamu jelas tau, orang-orang suruhan dari kuil suci tidak akan pernah melepaskan aku."
Mavis berhenti sejenak dan membalik tubuh Yennefer ke samping, sehingga kini keduanya berhadapan. Dia menatap lekat wanita cantik itu, dan menemukan kegelisan pada raut wajahnya. Tiga tahun hidup berdampingan dengannya, bagaimanapun waktu yang cukup bagi kaisar kecil ini mengenal jelas seperti apa jalan pikir wanitanya itu.
"Lihat mataku, apa aku terlihat seperti seorang pecundang di matamu?" Mavis sejenak memasang wajah serius, mencoba memperlihatkan ketegasan yang terpancar dari seorang pria sejati. Hanya tak lama setelahnya, Mavis pun tertawa kecil, menggandeng Yennefer dan membawanya pergi berjalan kembali. "Pria macam apa yang bahkan tidak bisa melindungi wanitanya?"
__ADS_1
"Kamu sedang bertanya atau mengejekku? Berhenti mengatakan seolah-olah aku ini akan menikahi putrinya. Kurasa Putri Judh juga tidak akan suka jika mendengarnya. Hanya membayangkan bagaimana wajahnya ketika marah, tatapannya akan sangat dalam seperti akan memakanmu hidup-hidup."
"Ingatanmu cukup bagus tentang mantanmu itu."
Keduanya pun terus berbincang, tanpa mereka sadari keduanya pun telah berjalan cukup jauh dan sampai tibalah di depan aula pertemuan. Di sana sudah berdiri Becky dan Becca yang menjaga pintu ruangan itu, keduanya memberi salam penghormatan untuk menyambut sang tuan. Mavis hanya mengangguk dan terus berjalan bersama Yennefer memasuki ruangan, diikuti lima makhluk bayangan lainnya yaitu Sera, Ozzi, Akio, Bulan, dan Bintang.
Berada di dalam ruangan terlihat barisan rapih yang berdiri di kedua sisi, memberi salam penghormatan ketika Mavis berjalan melewati mereka menuju singgasananya. Para makhluk bayangan yang berdiri di sekeliling ruangan pun diam-diam mengirimkan salam melewati sambungan telepati kepada tuan mereka. Samantha terlihat di bawah susunan tangga, tersenyum, lalu menyingkir untuk memberi jalan kepada Mavis.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan." Berdiri tepat di samping kursi singgasana, Mikaela mengirimkan senyuman terbaik. Mavis pun membalas dengan anggukan dan tersenyum. Dia merasakan suka cita ketika mengedarkan pandangannya, melihat ke arah sekeliling ruangan aula pertemuan. Semua mata hadirin yang berada di tempat itu tertuju padanya, terlihat tulus dan penuh dengan hormat. Baik itu pemimpin dari ras manusia, goblin, maupun dwarf.
Sesaat dia melirik ke arah Yennefer yang berdiri di sampingnya, di sisi berlainan dengan Mikaela. Setelahnya barulah dia membuka pembicaraan. "Baiklah, kita bisa memulai rapat pertemuannya.