THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 34 : Pria Berdaun Tajam


__ADS_3

"Terimakasih karena sudah mengantar kami, Pangeran, tapi maaf harus kukatakan, kita harus berpisah di sini."


"Apakah Nona Lily yakin tidak membutuhkan bantuan dariku?" Pangeran Arslan menghela napas berat, menatap wanita di hadapannya itu dengan perasaan enggan untuk pergi. "Baiklah, aku tidak ingin memaksa dan malah mengganggu rencana kamu dan yang lainnya. Namun, jika suatu saat kamu menemui kesulitan, carilah aku di kamp pelatihan prajurit."


"Aku akan mengingatnya."


Lily tersenyum tipis sebelum membalik badan dan berjalan pergi menyusul kawan-kawannya di depan. Meninggalkan punggung badan yang hanya bisa dilihat oleh sang pangeran dari belakang, semakin menjauh dan membuat hatinya menjadi sangat kesepian.


"Nona Lily, kau benar-benar tau cara membuatku frustasi," kata pangeran itu sembari tersenyum geli. Dia membalik badan, kemudian melanjutkan perkataannya. "Tidak masalah, yang aku bisa lakukan saat ini hanyalah menunggunya kembali."


Sungguh sangat ironis di sisi Pangeran Arslan. Mengingat sudah berkali-kali dirinya mencoba mendekati wanita itu dan mencuri perhatiannya. Namun sayangnya, semua usahanya itu terlihat sama sekali tidak memberikan dampak pada hubungan kedekatan mereka. Masalahnya adalah apa yang tidak dia ketahui sebenarnya fakta tersembunyi bahwa Lily bukanlah sosok wanita yang bisa dia miliki sampai kapanpun. Sebab, baik itu Lily, maupun makhluk bayangan lainnya yang berada di dalam satu rombongan yang sama, semuanya pada dasarnya adalah keindahan langka yang hanya dimiliki oleh tuan mereka saja.


"Aku tidak mengerti, mengapa juga kamu masih bersikap ramah di depan pria itu?" Sambil berjalan dan menyamai langkah sang kawan, Becky memutar bola matanya, kemudian memasang ekspresi sebal di wajah. "Berpura-pura bersikap manis di permukaan, bukankah itu sangat melelahkan? Terlebih lagi, sebelumnya kamu sampai mengancamku untuk berhenti berurusan dengan manusia yang telah mengejekku, apa itu benar-benar perlu?"


Becky kembali merasa kesal setelah dia mengingat-ingat kejadian di ruangan rapat saat beberapa waktu yang lalu.


"Maksudmu para eselon itu?"


"Menurutmu? Siapa lagi?"

__ADS_1


"Becky, kau harus ingat bahwa Tuan mempercayakan misi ini kepada kita. Sebagai utusannya, ke manapun kita pergi dan bagaimana cara kita bertindak akan berdampak pada reputasi dari Tuanku. Terlebih lagi, aku diberikan tanggung jawab penuh oleh Tuanku untuk mengambil keputusan ketika diperlukan. Aku menahanmu untuk tidak bertindak impulsif bukan karena aku menginginkannya, sejatinya aku juga tidak menyukai manusia dengan sifat tamak dan perilaku tidak sopan sepertinya."


"Kau sangat membingungkan, Lily. Kau bilang tadi tidak suka, tapi kau melindunginya?"


"Pakailah sedikit kemampuan otakmu, Becky." Becca dari arah belakang menyindir dengan nada meledek nan dingin.


"Menurutmu, apakah Tuan akan senang jika mendengar kita bertindak kejam terhadap mereka? Setelah beberapa lama aku menetap di sisi Tuanku, banyak hal yang aku mengerti tentang kehendak Tuan," kata Lily diikuti dengan senyuman kecil. Dia kemudian menepuk pelan pundak Becky seraya melanjutkan perkataannya.


"Bukankah kita semua ingin misi ini berakhir dengan hasil yang memuaskan? Jadi bersabarlah, musuh kita yang sesungguhnya sudah menanti di depan sana. Mereka akan jauh lebih menyenangkan untuk dihadapi jika dibandingkan dengan para badut itu. Kalian bisa bersenang-senang di medan pertempuran."


Beralih tempat di benua bagian barat, tepatnya di tengah hutan liar Razeen.


Sinar matahari begitu cerah, memasuki di antara celah-celah dedaunan dan menyoroti segala sesuatunya yang ada di kedalaman hutan tersebut. Tak terkecuali beberapa sosok dibalik tudung hitam yang kini sedang bersembunyi di balik pohon. Nampak wajah yang begitu pucat, napas tak beraturan, dan keringat membasahi seluruh tubuh mereka.


"Aleena, pergilah tanpa aku. Kau harus terus berjuang demi membalaskan dendam kami terhadap orang-orang dari kuil suci itu!" Pria berambut pirang itu berkata sembari membuka tudung yang menutupi bagian kepalanya. Mengungkapkan tampilan dirinya yang sebenarnya, berwajah tampan dengan sepasang telinga lancip yang khas hanya dimilik oleh para ras peri hutan.


"Berhentilah berbicara omong kosong! Atau aku akan benar-benar marah jika kamu mengatakannya sekali lagi."


"Sudah aku bilang, cepatlah pergi! Kumohon, sekali ini saja dengarkan perkataan dari kakakmu ini. Sudah tidak ada waktu lagi. Bawalah Kala dan yang lainnya pergi dari sini! Aku akan berusaha mencari cara untuk mengulur waktu agar kalian bisa pergi jauh dan terlepas dari jangkauan mereka."

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu melakukannya? Jika kondisi kakimu saja sedang terluka parah seperti ini! Bahkan untuk berdiri pun kamu tidak akan sanggup!"


"Aku berjanji akan menyusul kalian."


"Kau berbohong."


"Aleena!"


"Aku tidak mau! Aku tidak akan mau pergi tanpamu, Kak! Dasar kakak bodoh! Kau—"


Salah satu di antara rombongan para elf itu melakukan sesuatu pada tubuh Aleena, membuat wanita itu jatuh tak sadarkan diri di pelukan sang kakak.


"Tolong, jagalah Aleena dan Kala untukku. Bisakah kamu?"


"Keinginan Pangeran adalah alasan mengapa aku masih bisa berada di sini. Pangeran telah mengangkat derajat keluargaku dan telah menyelamatkan dari penderitaan." Pria itu tersenyum dengan ekspresi jelek, berusaha menahan air mata agar tidak keluar dari matanya yang berwarna hazel itu.


Lagipula, akan memalukan bagi seorang kesatria jika mudah menangis.


"Pangeran Yasha harap yakin, aku bersumpah dibawah kehendak Dewi Marica akan melindungi Pangeran Kala dan Putri Aleena dengan nyawa sebagai taruhannya."

__ADS_1


"Baiklah, dengan begitu aku bisa tenang meninggalkan keduanya. Sekarang, bawalah Aleena dan yang lainnya pergi."


"Aku mengerti. Sampai bertemu lagi, Pangeran. Aku berdoa untuk keselamatanmu."


__ADS_2