THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 9 : Pemborong Besar Kue Ikan


__ADS_3

Setelah cukup lama berbincang dengan Mavis, bocah bernama Elizia itu menjadi lebih tenang dan juga akrab. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya di tempat kumuh bersama dengan anak-anak lainnya. Tempat itu layaknya tempat pembuangan anak, di antata mereka bahkan merupakan anak-anak yang sejak masih bayi ditelantarkan di tempat kumuh itu. Sebagian tidak tau siapa orangtua mereka sebagian lain mengingatnya akan tetapi memilih untuk melupakannya. Orang bijak pernah mengatakan, kenangan buruk memang lebih baik untuk tidak diingat.


Lagipula, mereka masih cukup beruntung karena ada seseorang yang menyelamatkan mereka. Menurut apa yang disampaikan Eliza, selama ini yang merawat mereka adalah Nyonya N'am—wanita pemilik kue roti ikan ini, dan juga anaknya yaitu Nona Enid—penjual sovenir keliling yang sangat baik hati.


Nyonya N'am sangat dermawan. Meskipun anak-anak itu sudah tumbuh dalam usia yang cukup untuk mencari makan sendiri, akan tetapi dia masih menyiapkan kue ikan kering kepada masing-masing dari mereka. Tentu anak-anak itu tidak ingin selalu merepotkan wanita itu, mereka mendapatkan kue ikan dengan pertukaran yang setara. Mereka bekerja dengan membantu menjualkan sovenir milik Enid di sekitar wilayah pasar. Yah, meskipun jarang ada yang mau membeli dagangan mereka. Nasib sial pun tak jarang mereka temui, ketika berhadapan dengan para perampok dan juga preman pasar.


Giliran mereka pun tiba, Romi menarik lengan Elizia dan membawa adiknya itu masuk ke dalam toko, meninggalkan Mavis yang masih tertahan di luar. Butuh waktu sekitar lima menit keduanya kembali keluar dengan wajah bersinar. Baik itu sang kakak ataupun Elizia, kedua tangan mereka menggenggam erat wadah kertas berwarna coklat, yang mana di dalamnya berisi beberapa kue kering berbentuk ikan.


Melihat Mavis tersenyum ke arahnya, Romi buru-buru menyembunyikan miliknya itu di balik tubuhnya, lalu melemparkan tatapan sinis, mengisyaratkan untuk menjauh dari dirinya. Dia berjalan meninggalkan tempat itu, Elizia pun dengan tidak enak hati berpamitan kepada Mavis, kemudian segera menyusul sang kakak yang sudah pergi mendahuluinya.


"Sampai berjumpa lagi, Paman!" Bocah imut berambut pendek itu berjalan mundur seraya melambaikan tangan ke arah Mavis. Dia tersenyum, benar-benar tersenyum tulus karena baginya pertemuan dengan Mavis merupakan kesenangan tersendiri. Elizia menikmati moments saat mengobrol dengan Mavis. Mengesampingkan fakta bahwa dia belum lama ini mengenal sosok Mavis, akan tetapi satu hal yang Elizia yakini bahwa pria yang dia sebut dengan panggilan paman itu adalah orang yang baik.

__ADS_1


Paman ya? Mavis sebenarnya juga tidak habis pikir, bisa-bisanya gadis kecil itu memanggilnya paman, padahal Mavis sendiri baru berusia delapan belas tahun! Mungkinkah dia setua itu untuk layak disebut dengan paman? Mavis hanya bisa tertawa dalam hati dan tidak mengambil pusing prihal itu, baginya itu hanya kelucuan yang datang dari perkataan seorang bocah.


"Permisi ...."


"Selamat datang."


"Oh, kalian silahkan duduk."


Melihat kedatangan kelompok Mavis yang berbeda dengan orang-orang yang berasal dari daerah kumuh, wanita berambut orange itu sesaat jatuh linglung, akan tetapi segera tersadar dan buru-buru mempersilahkan mereka untuk duduk. Selanjutnya wanita itu menghampiri meja Mavis seraya membawa kertas pesanan dan juga pena.


"Boleh aku tanya tentang orang-orang yang baru saja datang? Apa mereka mendapatkan makanan gratis dari toko ini?" kata Mavis dengan wajah tenang.

__ADS_1


"Mereka memang mendapatkannya dengan gratis ... akan tetapi maaf Tuan, dengan sangat berat hati kue ikan yang kami berikan secara gratis hanya untuk mereka yang membutuhkan."


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, aku tidak bermaksud untuk mendapatkannya secara gratis, melainkan aku hanya ingin mengkonfirmasi kebenarannya, itu saja." Mavis kemudian tersenyum canggung dan melambaikan tangannya rendah. "Lalu, berapa banyak sisa kue ikan yang masih toko ini miliki? Jika memungkinkan, bolehkah aku membeli semuanya?"


"Ya?"


Sontak wanita itu membulatkan mata dan tercengang, lalu melemparkan tatapan skeptis ke arah Mavis. Dalam hati dia pun bertanya-tanya, mungkinkah pendengarannya sedang tidak bermasalah? Apa pria itu sungguh-sungguh akan membeli semua sisa dagangannya?


"Jadi begitu, sepertinya semua sudah habis." Melihat bagaimana ekspresi wanita itu, Mavis asal menduga.


"Eh, tidak, tidak."

__ADS_1


"Masih ada beberapa stok kue ikan yang belum terjual hari ini."


"Maaf, aku hanya terkejut karena tak biasanya ada pengunjung yang datang untuk membeli pesanan dalam jumlah yang sangat banyak." Senyuman tersungging di wajahnya, lalu melanjutkan, "Kalau begitu aku akan segera kembali membawakan beberapa kue ikan untuk kalian santap. Setelah itu barulah aku akan menyiapkan semua pesanannya."


__ADS_2