THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 26 : Selamat Tinggal


__ADS_3

"Lihat tingkahnya, saat ini pimpinan orc itu pasti sedang terbakar api kebencian." Bulan menghela napas berat ketika mengomentari sang adik yang saat ini sedang membuat ulah di hadapan kerumunan para orc.


Di sisi lain Akio yang berada di sebelah Bulan ikut menyerukan pendapatnya. "Dia selalu saja membuat kesal lawan-lawannya, aku bertaruh pimpinan orc itu pasti sebentar lagi akan menyerangnya."


Raungan memekakkan telinga terdengar sesaat sesudah Akio menyelesaikan perkataannya. Jauh di depan sana pimpinan orc nampak begitu marah dan mengangkat kedua senjata kapaknya, kemudian melayangkan keduanya dengan cepat menuju keberadaan Bintang.


"Kau akhirnya turun tangan, Pak Tua Bau!" Bintang terkekeh seraya mengambil gerakan menyelinap untuk menghindari tebasan kedua senjata tersebut.


Melihat bagaimana kedua kapak itu melesat melewatinya, membuat Bintang sedikit mengendurkan penjagaannya. Oleh sebabnya begitu dia selesai mengambil pijakannya lagi, dia tidak cukup siap saat kedua kapak itu tiba-tiba berputar dan mengarah kepadanya. Dengan berdecak kesal dia memutuskan untuk bertaruh pada pertahanan defensif dari kedua bilah miliknya yang dalam waktu singkat sudah dialiri mantra angin olehnya.


Benturan pun terjadi, seperti yang diharapkan dari pimpinan para orc, kekuatan dua kapak itu berhasil memukul mundur Bintang dan bahkan memaksa wanita itu menabrak dinding ruangan karena saking tidak bisa menahan kekuatan dari dorongan kedua kapak tersebut. Mavis sendiri yang melihat situasi saat ini dapat mengerti karena Bintang sendiri notabenenya tidak memiliki pertahanan yang cukup baik, jika dibandingkan dengan makhluk bayangannya yang kain seperti Giraldo yang benar-benar mengkhususkan pada pertahanan dan kekuatan fisiknya. Bagaimanapun Bintang ini sama seperti Bulan yang mengandalkan kelincahan dalam memberikan kerusakan yang beruntun terhadap lawannya.

__ADS_1


Kembali dalam pertempuran saat ini, Bintang tertawa gila sembari menggertakan giginya, dia benar-benar bersemangat dan melompat dari terkaman kedua kapak itu. Bintang meloncat ke udara dan mundur beberapa langkah, sementara kapak itu menghantam dinding dan memberikan lubang kehancuran yang cukup besar. Tak lama setelahnya, kedua kapak itu pun bergetar dan dengan ajaibnya tertarik dan kembali lagi ke tangan pimpinan orc.


Trik yang dimainkan pimpinan orc itu tentu sesuatu yang baru di ingatan Mavis, oleh karena itu dia merasa tertarik untuk menjadikannya sebagai salah satu koleksi makhluk bayangannya.


Pertarungan sengit berlangsung kembali, saat ini Bintang bentrok dengan sang pimpinan orc. Kali ini keduanya sama-sama melancarkan serangan terhadap satu sama lain, dalam hal ini Bintang diunggulkan dalam pertarungan jarak dekat. Terlebih setelah dia selesai mengaktifkan mantra pada tubuhnya, dia bergerak secepat angin, setiap serangan yang dilancarkan pimpinan orc itu seakan membelah udara, sama sekali tidak menyentuh sehelai benang pun pakaian yang dikenakan wanita itu. Bintang di sisi lain tenggelam dalam kegilaan, setiap kali dia melesat di udara, sayatan kecil muncul pada tubuh sang pimpinan orc. Kejadian itu terus berulang, membuat sang pimpinan orc muak dan menghentakkan kedua tangannya ke tanah.


Sebuah riak tercipta dan memaksa Bintang sejenak mundur untuk menjaga jarak. Ekspresinya sungguh tidak tertolong, dia kembali menjadi si manik pertempuran. Pimpinan orc saja sampai dibuat geram karena tak berdaya melawannya, kondisinya saat ini bahkan lebih serius lagi, banyak luka sayatan di sekujur tubuhnya. Meskipun Bintang hanya bisa membuat luka yang tidak terlalu dalam, akan tetapi itu sukses membuat pimpinan orc tersebut kerasukan api amarah.


"Sekarang aku baru sadar setelah merasakan aura kuat yang keluar dari dirimu, ternyata kau berasal dari ras iblis! Sangat baik! Aku sudah lama ingin membuat perhitungan kepada ras kalian karena telah membuat ras orc kami terpaksa menjadi budak yang dikorbankan dalam pertempuran saat itu!" Pimpinan orc itu kini melesat lagi menuju Bintang.


"Datanglah dan sambut kematianmu!" Bintang sudah mengambil langkah menyelinap dan muncul di samping pimpinan orc. Nampak dia menyeringai sebelum mengirimkan tebasan dari kedua senjata belatinya.

__ADS_1


Layaknya memukul lalat, pimpinan orc itu berusaha menghempaskan tubuh Bintang dengan ayunan kapaknya. Namun seperti yang sudah-sudah, kecepatan Bintang berada di liga yang sama sekali berbeda, tidak dapat dijangkau oleh orc berotot itu. Setiap kali serangan itu mendarat, Bintang sudah mengambil gerakan instan untuk sampai di sisi lain, juga memberikan serangan pada tubuh sang pimpinan orc itu.


"Berhenti bermain-main. Lakukan sekarang, kita tidak punya banyak waktu." Mavis yang merasa realitas di hadapannya sudah mempermainkan dirinya hanya bisa menghela napas berat, pasalnya dia pikir awalnya Bintang akan kesulitan menghadapi pimpinan orc itu, tapi ternyata dugaannya salah. Pada akhirnya dia pun mengirimkan sambungan telepati kepada makhluk bayangannya itu untuk segera mengakhiri pertempuran.


"Dimengerti."


Ekspresi Bintang yang semula seperti psikopat mendadak berubah menjadi dingin dan tajam. Kali ini dia serius dalam bertarung dengan Durothan. Meninggalkan teknik tebasan biasa yang sebelumnya dia gunakan untuk melukai musuhnya, kali ini Bintang telah merapalkan mantra baru sembari menghindari serangan dari kapak yang dikirimkan oleh pimpinan orc.


"Selamat tinggal."


Selesai dengan mantranya, Bintang melesat dan tiba-tiba sudah berada di hadapan wajah Durothan. Pimpinan orc itu tentu terkejut dan buru-buru mengirimkan serangan kepada makhluk bayangan itu. Namun sayangnya sebelum dia bisa bereaksi, Bintang sudah lebih dulu menyilangkan kedua belati yang sudah dialiri mantra angin, kemudian membuat gerakan menebas ke arah leher Durothan. Tebasan itu begitu cepat dan mulus, sama sekali tidak menciptakan suara ataupun percikan darah.

__ADS_1


Bintang kembali mengambil pijakannya di atas permukaan tanah, sementara pimpinan orc itu masih saja berdiri mematung sembari memegangi lehernya. Beberapa saat berlalu, sebelum pada akhirnya Durothan kehilangan kesadaran dan terjatuh dengan kepala yang terlepas dari bagian tubuhnya.


"Oh ya, saatnya aku mengatakan selamat bergabung padamu." Bintang berkata kepada mayat Durothan, kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju tempat Mavis berada. Melihat dari wajahnya yang begitu bersemangat, sangat yakin dia pasti ingin mendapatkan pujian dari tuannya itu.


__ADS_2