THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 25 : Ras Orc Yang Bau


__ADS_3

Pimpinan orc itu pun terkekeh keras, akan tetapi saat ini dia terlihat begitu dipenuhi aura kebencian. Para orc lainnya pun merasa tidak senang dengan perkataan Mavis barusan. Dengan mengatakan bahwa para orc harus tunduk dibawah kekuasaan manusia sepertinya, itu tentu sebuah penghinaan besar bagi bangsa orc yang mana lebih kuat beberapa kali dibanding ras manusia.


"Kalian bisa memilih untuk menolak tawaran dariku, akan tetapi jangan pernah berpikir bahwa kalian bisa kembali ke daratan utama selama aku ada di tempat ini," kata Mavis seraya tersenyum kecil. Kini dia tampak sedikit lebih percaya diri setelah beberapa saat memperhatikan para orc di hadapannya.


Mengesampingkan sang pimpinan dan tiga sosok yang diperkirakan petinggi dari mereka, mengetahui fakta bahwa para orc lainnya dengan mudah terpancing emosi setelah mendengar perkataannya barusan, menandakan bahwa kecerdasan mereka tidaklah jauh lebih baik ketimbang ras seperti goblin yang sudah pernah dia hadapi dulu.


"Kamu mungkin menganggap kami bangsa manusia hanyalah semut di mata bangsa orc seperti kalian, tapi kamu tidak berpikir bahwa dulu dan sekarang tidaklah sama. Kami, bangsa manusia telah mencapai kedudukan yang lebih tinggi di daratan utama dan tidak bisa dianggap remeh oleh ras lainnya." Mavis menjawab perkataan pimpinan orc itu, masih dengan pembawaannya yang santai.


"Selain itu aku perlu meralat perkataanmu, Durothan. Ini mengenai selisih jumlah di antara ras manusia dan ras orc sudah seperti langit dan bumi. Meskipun kalian memiliki keunggulan dalam hal sistem reproduksi, akan tetapi selama ini pasti kalian kesulitan dalam menyeimbangkan jumlah populasi di dalam dunia miniatur, benar begitu?"


"Belum lagi jika mempertimbangkan ada ras lain yang tinggal bersamaan dengan kalian, aku sangat percaya diri dengan jumlah kalian tidak akan sampai menyentuh angka jutaan jiwa. Sementara bangsa manusia sudah menguasai berbagai belahan dunia di daratan utama, jumlah kami sangatlah banyak. Itu bisa beberapa kali lipat dari kalian," kata Mavis seraya memasang senyum miring.

__ADS_1


"Sebanyak apapun bangsa manusia, kalian tetaplah semut di mata kami. Tidak peduli dengan sebanyak apa jumlah kalian, selama kami memiliki kekuatan, tidak ada yang bisa menghentikan kami!" Kali ini salah satu petinggi orc itu marah dan menerobos keluar dari dalam barisan.


Dia langsung berlari menuju tempat Mavis berada, seraya mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.


"Sangat disayangkan, kalian memilih keputusan yang salah," kata Mavis sambil melemparkan tatapan remeh ke arah pimpinan orc, kemudian berbalik pergi menuju barisan belakang. Saat ini tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, karena pimpinan orc itu sudah memilih menolak tawarannya, maka hanya ada satu jalan akhir yaitu penaklukan dengan cara kasar.


"Tuan!" Bintang yang sudah tidak sabaran segera mengirimkan sambungan telepati kepada Mavis.


"Terimakasih, Tuanku, aku tidak akan mengecewakanmu."


Bintang pun tersenyum licik dan melesat dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Mavis dapat melihat jelas bahwa kali ini Bintang terlihat berbeda dari biasanya, dia sama sekali tidak meremehkan lawannya. Begitu serangan keduanya bertemu, guncangan besar mengisi ruangan itu, suara ledakan pun terdengar, atap ruangan itu bahkan terlihat seakan hampir runtuh. Dalam hal ini Mavis sebenarnya agak terkesan dengan ruangan bawah tanah ini, tidak tau mengapa dia sedikit bersyukur karena fondasinya sangatlah kokoh. Bahkan jejak pertempuran keduanya tidak begitu memberikan dampak yang besar. Paling-paling hanya membuat lubang atau retakan pada dinding dan juga reruntuhan batu kecil dan kabut pasir yang jatuh dari langit-langit.

__ADS_1


Tak butuh lama untuk melihat hasil dari pertarungan antara Bintang dan salah satu petinggi dari ras orc itu, tentu saja pemenangnya sudah dapat Mavis prediksi sedari awal yaitu Bintang. Bahkan jika boleh mengatakan dalam kelompok ras orc itu, satu-satunya sosok yang dapat menyeimbangi kekuatan Bintang hanyalah sang pimpinan orc itu sendiri, selebihnya jika mereka maju sekaligus pun hanya akan menjadi tumbal untuk pemanasan bagi Bintang. Bagaimanapun stamina dan kelincahan wanita itu sudah mencapai ranah yang sama sekali berbeda.


Seperti yang Mavis harapkan. Pimpinan orc yang menyaksikan salah satu anak buahnya itu dikalahkan juga mendengus kesal karena merasa tidak puas. Pasalnya petinggi orc itu dikalahkan Bintang hanya dengan beberapa gerakan saja! Sedikit ketidaksukaan terpancar dari wajahnya yang garang itu, pimpinan orc itu pun akhirnya menyuruh dua petinggi orc lainnya untuk segera pergi dan menghabisi Bintang.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan memandang tinggi kalian, sungguh sangat mengecewakan karena sudah mengerahkan seluruh kemampuanku. Kalian para orc memang tidak pernah belajar dari kesalahan, selalu saja menganggap kekuatan destruktif kalian adalah segalanya. Sampai-sampai tidak menyadari bahwa teknik adalah yang paling penting di dalam pertarungan." Bintang berkata pelan sembari memainkan kedua belati miliknya, menari di antara kedua jemari tangannya. Sesaat dia berdiri menatap tak acuh dua orc bertubuh besar yang saat ini sedang menyerbu menuju ke arahnya itu. Dia bahkan menurunkan kekuatannya, sangat yakin bahwa setengah dari kekuatannya saja sudah lebih dari pada cukup.


Suara berdesing.


Tidak tau jelas kapan serangan itu dimulai, sebuah kilatan angin melesat bersamaan dengan kedua belati yang ternodai oleh percikan darah. Bintang kembali mengambil pijakannya setelah sebelumnya mengambang di atas permukaan tanah. Sementara itu kedua orc yang baru saja melewati Bintang jatuh dalam kebingungan, beberapa detik setelahnya keduanya pun jatuh tersungkur di atas tanah, kemudian kedua kepala petinggi orc itu lepas dan menggelinding. Keduanya mati begitu saja, tanpa sempat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Kalian sangat bodoh karena telah menolak tawaran Tuanku," kata Bintang, seraya mengibaskan kedua belatinya untuk membersihkan noda darah kedua petinggi orc yang masih menempel. "Tidak hanya bodoh, ternyata kalian juga masih saja bau, terutama darah kalian yang sangat menjijikan ini."

__ADS_1


__ADS_2