
Beralih di tempat lain, tepatnya di sebuah kerajaan berafiliasi enam di benua bagian utara. Keheningan menyelimuti aula rapat pertemuan ketika seorang pengawal tiba-tiba menerobos masuk tanpa izin terlebih dahulu. Pengawal itu berlari dengan tergesa-gesa dan segera mengambil posisi setengah bersujud di hadapan sang raja. Mimik panik bercampur gugup nampak dalam raut wajahnya yang kusam, seketika membuat para hadirin yang menyaksikan dari samping ikut bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai prajurit itu sebegitu ketakutannya?
Duduk di atas singgasananya, Raja Salomon yang menatap lurus prajurit itu dengan bingung pun langsung mengisyaratkan kepada Ugo, yang mana penasihat kerajaan untuk mewakilinya bertanya. Sigap menerima lirikan sang raja, Ugo pun langsung menegur dan bertanya kepada prajurit itu dengan nada tidak suka. Bagaimanapun, sikap prajurit itu barusan sangatlah tidak sopan, dengan lancang dia sudah menerobos masuk aula pertemuan dan menganggu jalannya rapat penting yang di hadiri oleh sang raja.
"Yang Mulia Raja, aku baru saja menerima surat dari kepala prajurit regu enam yang bertugas di distrik pemukiman bagian barat ibu kota. Dalam surat dikatakan bahwa belum lama ini, sekitar tiga jam yang lalu, muncul fenomena aneh pada beberapa penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Tingkat kriminalitas tiba-tiba saja melonjak, diantaranya yang paling banyak adalah kasus pencurian, penculikan, dan bahkan pembunuhan."
"Bagaimana dengan para pelaku kejahatannya, apa sudah ada yang tertangkap?"
"Sampai sejauh ini kami sudah menangkap delapan pelaku kejahatan, hanya saja, Yang Mulia, ini ...."
"Katakan dengan jelas, ada apa?"
__ADS_1
Sesaat Pengawal itu terdiam dan memasang ekspresi jelek, seakan dirinya sangat menyesal karena harus mengungkapkan kabar buruk ini langsung kepada sang raja. Namun, beberapa detik kemudian, pria berumur tiga pulan itu segera memantapkan diri dan menjawab pertanyaan tersebut.
"Yang Mulia, dengan sangat menyesal aku memberitahukan bahwa semua pelaku kejahatan itu telah sepenuhnya mati. Begitu para pelaku ini mulai diintrogasi oleh para petugas penjara, tidak tau mengapa mereka tiba-tiba saja meledakan diri. Sampai saat ini belum ada yang tau penyebab dari kejadian itu karena sama sekali tidak ditemukan pemicu ataupun kejanggalan pada saat proses pemeriksaannya."
"Bagaimana bisa?" Sang raja menatap heran seraya mengernyit begitu selesai mendengar pengakuan dari prajurit tersebut. Kemudian, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali pulih dalam kondisi tenangnya.
"Yang Mulia, mohon izinkan aku untuk melihatnya langsung. Setelah baru saja mendengar beberapa ciri yang diberitahukan pengawal itu, di sini aku menduga kalau para pelaku haruslah dalam kondisi tidak sadarkan diri, atau mungkin lebih tepatnya dalam pengaruh sebuah mantra yang dapat mengendalikan tubuh dan pikiran mereka layaknya boneka berjalan."
"Kau sebaiknya tidak menganggap remeh perkataanku, Arad. Kamu tau jelas seberapa bahayanya jika itu benar salah mantra terlarang yang kita ketahui sendiri mampu membuat kerusakaan pada perang terdahulu," kata Toban dengan nada tidak suka, dia membuang tatapan kesal ke arah pria berjanggut di seberangnya itu.
Sebaliknya, Arad yang mendapat teguran dari rekannya itu hanya bisa tersenyum kecil, seolah-olah tidak menaruh mata pada perkataan Toban.
__ADS_1
"Bukankah kau terlalu mengada-ngada? Apa kamu lupa saat ini kita sedang berhadapan pada konflik dengan para binatang buas? Bisa saja penyusup yang dimaksudkan di sini salah satu dari mereka." Pria tua berwajah tengil itu kemudian menoleh dan menatap ke arah singgasana sang raja, lalu melanjutkan perkataannya, "Yang Mulia, para binatang liar itu sudah mulai mengambil tindakan, sudah saatnya kita untuk tidak bertindak pasif di permukaan, atau mereka akan semakin menginjak kerajaan ini."
"Tidak, menurutku masih terlalu dini untuk terseret dalam konflik dengan pihak luar. Sebaiknya kita menunggu terlebih dahulu dan melihat hasil dari kinerja para kerajaan dan kekaisaran besar dalam menangani invasi dari para binatang buas. Selain itu, aku juga setuju dengan apa yang disuarakan Toban, aku sendiri menyadari bahwa ada semacam kemiripan dengan bagaimana cara para pelaku itu meledakan dirinya. Berpikir bahwa salah satu syarat mengaktifkan mantra terlarang tersebut terbatas pada jarak lokasi di sekitar, di sini aku cukup yakin kalau penyusup itu belum pergi meninggalkan ibu kota dan masih membaur di antara para penduduk, kemudian diam-diam memperalat mereka dari balik bayang-bayang," kata salah seorang petinggi pria yang berdiri tepat di sebelah kiri Toban. Namanya Grus, dia juga salah satu eselon atas kerajaan yang bertugas dalam masalah pertahanan, bersama dengan Toban dan satu lainnya.
Sesaat sang raja menghela napas, tatapannya pun kembali mengarah pada salah satu petingginya itu, kemudian dia mengangguk dan memulai perkataannya, "Baiklah, aku mengizinkanmu untuk pergi untuk melihatnya langsung. Hanya saja aku memerintahkan kamu untuk lebih berhati-hati. Bawalah serta beberapa ahli untuk berjaga-jaga."
"Terimakasih, Yang Mulia." Toban berjalan maju ke hadapan sang raja, lalu menunduk seraya menekuk salah satu tangannya di depan dada. "Kalau begitu aku mohon pamit untuk mulai menyiapkan segala sesuatunya."
Sang Raja pun hanya mengangguk, tanpa membalas dengan kata-kata. Toban pun kemudian berbalik badan dan berniat untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan pertemuan itu. Namun, di saat semua orang berpikir bahwa topik pembicaraan itu selesai sampai di sana, tiba-tiba saja pintu besar itu terbuka dan segera beberapa sosok dengan tampilan memikat berjalan dengan santai memasuki aula tersebut. Pemandangan ini jelas membuat syok di hati siapapun yang hadir, tak terkecuali sang penasihat raja yang biasanya menjaga ketenangannya.
"Tidak ada satupun yang boleh meninggalkan ruangan ini." Salah satu sosok yang baru saja datang itu memasang ekspresi remeh, sembari merangkul senjata sabit besarnya yang memancarkan aura dingin.
__ADS_1