THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 18 : Serangan Beruntun Dan Tidak Berarti


__ADS_3

Nast mengayunkan pedangnya dengan percaya diri. Serangan itu sejatinya ditujukan ke arah sosok misterius yang saat ini sedang berdiam diri di hadapannya. Paladin itu menjadi begitu bersemangat, kemudian berteriak lantang sesaat sebelum pedangnya itu menebas tubuh sang lawan. Itu terjadi sebelum dia tau siapa sosok yang berada di balik jubah hitam itu, sosok kuat yang tidak mungkin bisa dia kalahkan.


"Hanya semut rendahan, mengapa kau begitu percaya diri?" Suara itu terdengar dingin dan menusuk langsung ke arah pendengaran sang paladin.


Mikaela menghentakkan kakinya, kemudian bukit tajam mencuat dari dalam lantai aula, langsung mengarah ke tubuh Nast. Tidak siap dengan serangan yang muncul secara tiba-tiba itu, sang paladin pun terdorong ke atas dengan posisi perisai yang mencoba menahan hujaman serangan itu.


Mengambil langkah darurat, paladin bernama Nast itu segera mendorong kakinya dari bukit tajam tersebut dan melompat ke arah belakang.


"Sial! Sebenarnya dia ini apa? " Begitu mendarat di pijakan lantai, Nast mengumpat atas ketidakberdayaan dirinya. Dia tidak habis pikir seberapa kuat wanita itu sampai-sampai bisa mengangkat tanah dan membentuknya sedemikian rupa seakan itu hal yang mudah? Ini tidak seperti seorang penyihir yang memainkan trik tersembunyi, Nast melihat jelas Mikaela hanya menghentakkan tanah dan itu jelas tidak bisa dilakukan oleh seorang penyihir seperti kawannya, Aletta.


"Nast, aku akan membantumu!" kata Hanah seraya memainkan bilah sabit di tangannya, assassin itu melesat dan mengambil posisi di sebelah Nast.


"Kalian jangan lupakan aku!" Taratra menyeringai hebat.


Detik berikutnya ketiga petualang spesialis lini depan itu melesat bersamaan dan melayangkan serangan kepada Mikaela. Selama dalam keadaan berlari, suporter muda dari belakang membacakan mantra yang berbeda dan memberkahi itu kepada Hanah dan Taratra. Sebuah aura merah mulai muncul dan terlihat seakan membakar tubuh keduanya, akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sihir penguat yang suporter tersebut berikan telah aktif di tubuh mereka. Kekuatan serangan keduanya telah ditingkatkan menjadi dua kali lipat, layaknya mengaktifkan kekuatan mengamuk.

__ADS_1


Mikaela menjadi lebih bersemangat begitu melihat kesungguhan dari pihak lawan. Dia pun melepas jubahnya dan menunjukan identitas dia yang sebenarnya. Tak ingin menunggu lebih lama dia pun mengerahkan sepuluh persen dari kekuatan penuhnya untuk memulai pertarungan.


"Mereka datang," kata Mavis dalam sambungan telepati.


Serangan pertama pun datang dari tinju bertubi-tubi milik Taratra, Mikaela dengan mudah menepis semua itu dengan kedua tangannya. Begitu serangan kedua meluncur menuju tubuhnya, dia melompat mundur untuk menghindar. Sabit itu melayang dan memutar arah kembali kepada sang pemilik ketika gagal mengenai target.


Serangan selanjutnya terjadi sangat cepat, sebuah hujan panah es menikam dari atas, langsung menuju ke arah Mikaela berada. Serangan itu datang dari arah penyihir wanita di lini belakang.


Tak ingin tinggal diam, Bulan dan Bintang pun saling bertatapan dan mengangguk kecil, sebelum pada akhirnya menghilang dalam barisan.


Keduanya datang memblokir hujan panah itu dengan sangat cepat, memecahkan serangan demi serangan yang datang.


Detik berikutnya, Bulan tiba-tiba muncul dalam sekejap di hadapan Nast, kemudian mengirimkan tendangan berat ke arah pinggul sang paladin. Langsung saja Nast merasakan tubuhnya mati rasa dan tanpa dia sadari sudah terhempas ke arah dinding aula. Retakan tercipta dan meninggalkan bekas saat tubuh pria itu membentur dinding dan jatuh menyentuh lantai. Riak darah pun keluar dari dalam mulutnya akibat kerusakan internal yang diderita tubuhnya.


"Nast!"

__ADS_1


Taratra berteriak kerasa saat melihat sang kawan diterbangkan oleh lawan di depan matanya langsung. Dia marah bukan main, pria bertubuh besar itu memasang wajah garang di permukaaan. Setelahnya, dia mulai berlari menuju Bulan dengan salah satu kepalan tinju di depan, sementara satu lengannya yang lain terangkat di udara dalam posisi siap menyerang.


Beralih pada pijakan yang lain, sepasang belati milik Bintang sudah melesat cepat dan bergegas menebas leher mulus milik Hanah. Namun, assassin wanita itu nampaknya cukup sigap dan berhasil menangkisnya dengan susah payah.


Sabit besar milik Hanah berhasil menahan gesekan belati milik Bintang. Pada awalnya itu cukup melegakan bagi Hannah karena bisa menerima serangan dari Bintang. Hanya saja tak lama sesudahnya wajah assassin itu berubah pucat ketika menyadari serangan berikutnya menjadi lebih intens dan sulit untuk bisa dia hadapi dengan kemampuannya yang sekarang. Tebasan lanjutan yang dibuat oleh Bintang itu terus menerus datang kepadanya, tanpa memberinya jeda untuk beristirahat.


"Mau lari ke mana kau?" Bintang menyeringai puas saat berhasil memojokkan Hanah. Sementara itu, sang assassin hanya bisa berdecak pahit saat terkena sayatan baru di bagian pipi wajahnya yang semula mulus. Petualang berlencana merah itu pun menggertakan giginya karena kesal.


"Serangga rendahan sepertimu mencoba bertindak sombong di hadapan Tuanku?" kata Bintang dengan ekspresi yang mengejek.


Hanah merasa dirinya tengah dipermainkan oleh lawannya. Sementara itu, Bintang tidak hentinya menyerang seluruh tubuh assassin itu secara membabi buta. Tebasan dari belatinya sesekali tidak sanggup Hanah blokir dan membuat assassin wanita itu terluka. Luka sayatan membuat darah membanjiri lengan dan kakinya. Terlihat assassin itu menggigit bibirnya ketika menahan rasa sakit, sembari mencoba memblokir serangan yang datang selanjutnya.


"Hanah, cepat gunakan langkah menyelinap!" Aletta berseru keras saat dia sudah selesai menyiapkan mantranya.


Segera tebasan angin secara beruntun menuju ruang di mana Bintang saat ini berada. Menanggapi instruksi sang kawan Hanah menggunakan kemampuannya dalam gerakan menghindar secara instan, sementara meninggalkan Bintang yang masih memilih diam di tempatnya.

__ADS_1


"Dia tidak menghindar?" Begitu berhasil melarikan diri dan mengambil jarak yang lumayan jauh, Hanah tercengang saat mengetahui lawannya itu tidak sama sekali mencoba melarikan diri sepertinya. "Apa yang sebenarnya dia coba lakukan? Apa dia pikir bisa menahan serangan sihir tingkat tinggi milik Ketua? Sungguh bodoh, dia hanya mencari kematian karena sudah bertindak terlalu sombong! Hahaha...."


__ADS_2