
Darah pekat yang didominasi warna hijau, menggenangi hampir di seluruh pelosok bagian dalam benteng. Masih dapat terlihat sebagian sisa mayat para makhluk binatang buas yang berserakan di berbagai tempat, dikarenakan terbatasnya tenaga kerja para manusia yang bertugas menangani para mayat tersebut.
Ya, para manusia itu sejatinya adalah para penduduk yang sebelumnya dijadikan tawanan para makhluk binatang buas. Beberapa dari mereka adalah wanita, bekas budak yang dipaksa untuk memuaskan napsu para prajurit, tidak banyak yang selamat, mengingat bagaimana brutalnya mereka saat bermain. Sementara sisanya, banyak dari mereka adalah para pemuda yang diperalat untuk melayani beberapa pekerjaan berat, seperti pekerja di tambang, pembawa barang, pekerja kontruksi, ataupun yang lainnya. Setelah benteng jatuh di tangan para makhluk bayangan, mereka semua bersuka cita begitu mengetahui bahwa hidup mereka masih bisa selamat. Meskipun tidak seratus persen percaya, tapi setidaknya di mata mereka Samantha dan yang lainnya sangat jauh lebih baik dibandingkan para makhluk binatang buas. Mereka lebih diperlakukan manusiawi meski masih memiliki kewajiban untuk bekerja, mereka tidak keberatan.
Di bawah kendali Samantha, para penduduk kembali melakukan aktifitas normal mereka seperti biasanya dan turut bekerja membantu pembangunan kembali wilayah ini. Tidak seperti sebelumnya, sekarang mereka dibagi menjadi beberapa tugas baru, sesuai dengan keahlian masing-masing. Dengan begitu semuanya berjalan dengan jauh lebih efisien dan para penduduk yang menjalaninya pun merasa senang dan tidak terbebani.
"Setelah keadaan di sini sudah kembali normal, apa langkah kita selanjutnya?" kata Itsuna dengan wajah ingin tahunya.
Di dalam tenda besar—bekas pemimpin makhluk binatang buas sebelumnya, para makhluk bayangan berkumpul untuk mengadakan rapat kecil sembari menikmati acara minum teh. Di sana semuanya hadir, terkecuali Violet dan Scott yang pergi melakukan pekerjaannya. Seperti biasanya juga, Samantha adalah satu-satunya yang menjadi fokus utama. Samantha bagaikan ibu di antara anak-anaknya.
"Kita akan pergi menuju benteng berikutnya setelah Violet dan Scott kembali. Juga, sebaiknya kita menunggu para prajurit yang dikirimkan dari kerajaan Baratajaya tiba. Itu seharusnya tidak akan lama lagi."
Samantha menjawab seraya tersenyum kecil. Menurut pandangannya, hal ini bagus untuk mengantisipasi serangan tersembunyi ketika mereka pergi meninggalkan benteng ini dan melanjutkan penyerangan pada target selanjutnya. Dengan adanya bala bantuan pasukan dari kerajaan Baratajaya, keamanan di benteng ini setidaknya masihlah ada harapan.
"Sudah dua hari sejak kita menetap di tempat ini, tapi belum ada satupun tanda-tanda di pihak mereka melakukan pergerakan yang berarti. Sepertinya kali ini Violet dan Scott bekerja dengan sangat baik dalam memblokir pesan peringatan yang dikirimkan menuju benteng lainnya," kata Becca.
"Ya, keduanya terlihat bersungguh-sungguh melakukan tugasnya." Samantha berkata seraya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku setuju."
Semua makhluk bayangan yang hadir pun pada akhirnya menyetujui apa yang dikatakan Samantha, tak terkecuali Becky. Bukan semata-mata karena dia adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Mavis sebagai ketua atau perwakilan dalam tim ekspedisi ini, melainkan karena di antara mereka, Samantha adalah yang paling bijak dalam mengambil suatu keputusan.
Rapat itu berakhir dengan pembicaraan kecil menyangkut perkembangan benteng, tidak terlalu penting. Sementara itu, di tempat lain, tak jauh dari posisi benteng di mana para makhluk bayangan berada, sesosok gagak dengan mengambil tubuh setengah manusia datang memasuki sebuah aula pertemuan.
Di dalam ruangan itu, nampak sudah terduduk seekor gagak hitam lainnya dengan tubuh hampir dua kali lebih besar dan memancarkan aura kegelapan yang lebih pekat. Gagak itu menatap serius bawahannya yang baru saja memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa. Bawahannya itu benar-benar menganggu waktu istirahatnya.
"Ada apa! Mengapa wajahmu terlihat sangat pucat?" Pemimpin gagak itu bertanya dengan wajah sedikit mengernyit.
"Maaf atas gangguannya Tuan, tim kami telah kembali dari penyelidikan terhadap benteng kedua puluh satu, di sini aku ingin menyampaikan laporannya."
"Baik, Tuan. Para pengirim pesan dari balai komunikasi yang ditugaskan pada benteng tersebut telah ditemukan mati di perbatasan oleh tim penyelidik kami. Setelah mengamati jejak serangan pada tubuh mereka, sepertinya mereka semua diburu ketika hendak melarikan diri dan melapor."
"Bagaimana bisa? Bagaimana dengan kondisi benteng itu, apa kalian sudah pergi menyelidikinya?" kata sang pimpinan gagak sembari mengepalkan tinjunya.
"Sejauh ini tim kami masih mengintai dari jarak yang sangat jauh untuk berjaga-jaga. Menurut balai penyelidik kami, besar kemungkinan sesuatu hal yang buruk telah terjadi di benteng tersebut, dalam hal ini kami masih menunggu arahan langsung dari Tuan."
__ADS_1
"Sialan! Apa yang sebenarnya bocah itu ingin lakukan kali ini?" Pimpinan gagak itu geram, dia bangkit dan melepaskan tinju ke arah dinding ruangan dengan mengerahkan sebagian kekuatannya.
Sebuah kepulan asap pun tercipta disusul dengan bekas pukulan yang mendalam di area dinding itu. Semua yang hadir di ruangan menahan napas karena gugup, mereka tau betul serangan yang baru saja mendarat di sisi dinding itu menandakan bahwa sang tuan sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Tuan, mohon beri perintah."
Pengawal yang sebelumnya berdiam di sisi kanan sang pimpinan, maju dan mengambil posisi hormat.
"Segera pergi dan persiapkan pasukan! Kali ini aku tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada anak itu!"
Sang pimpinan gagak berjalan meninggalkan ruangan dengan wajah kesal, diikuti dengan pengawalnya. Dalam hati, dia sangat mengutuk serigala bodoh satu itu. Padahal dia sudah cukup sabar memberikan toleransi atas semua pelanggaran yang dia lakukan, jika bukan karena markas pusat di ibu kota yang memberikannya tugas sampingan untuk mengawasi serigala itu, dia pasti sudah membunuhnya sejak lama.
"Tuan, apa kita benar-benar akan mengambil alih benteng itu?"
Dalam perjalanan pengawal itu bertanya kepada sang pimpinan gagak. Nampak raut wajah ragu terlukis saat dia menatap ke arah atasannya itu.
"Sudah cukup dia bermain-main, apa dia pikir membunuh orang-orangku bisa dianggap suatu hal yang kecil? Sial, jelas sekali dia berniat menghinaku! Kali ini aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, tidak peduli jika markas pusat mengambil tindakan, aku akan menanggung hukumannya nanti!"
__ADS_1
"Tapi Tuan, tim penyelidik bahkan belum mengkonfirmasi apa yang terjadi di benteng itu, bagaimana jika itu ulah dari orang luar? Ini terlalu bahaya, Tuan!"
"Maksudmu ini ulah para manusia rendahan itu? Jangan bicara omong kosong! Bagaimana mungkin mereka yang melakukan semua itu? Meskipun para penyelidik yang ditemukan mati itu tidak memiliki kekuatan yang begitu kuat, tapi jika dibandingkan dengan para manusia, masih terlalu jauh jarak kekuatan di antara mereka. Para manusia itu sangatlah lemah, tidak mungkin mereka."